Tatapan yang Mengembalikan Tatapan: Hari Kucing Sedunia dan Sejarah Rahasia Persahabatan, Kekuasaan, serta Perlawanan

Tatapan yang Mengembalikan Tatapan: Hari Kucing Sedunia dan Sejarah Rahasia Persahabatan, Kekuasaan, serta Perlawanan

Pada 8 Agustus yang oleh kalender dunia ditandai sebagai Hari Kucing Sedunia, di sebuah sudut kota seekor kucing abu-abu duduk di tepi jendela, menatap keluar seakan ia memiliki hak milik atas seluruh pemandangan. Poster-poster berwarna pastel di jalan mengumumkan diskon makanan hewan, kontes foto, dan sesi adopsi. Di dunia digital, linimasa kita dibanjiri video kucing yang menguap, mengeong, atau sekadar melipat kaki seperti roti manis.

Namun di balik riuhnya perayaan itu, ada riwayat panjang yang tidak seluruhnya manis. Kucing adalah satu dari sedikit makhluk yang telah berjalan bersama manusia melalui rentang sejarah yang begitu panjang dan rumit. Ia disembah sebagai dewa di satu zaman, dibakar sebagai penyihir di zaman lain, dijadikan simbol pemberontakan di masa tertentu, dan kini difoto ribuan kali sehari untuk memenuhi algoritma media sosial. 

Kucing adalah teman sekaligus cermin: memantulkan hasrat, ketakutan, bahkan keangkuhan manusia terhadap makhluk yang tidak pernah sepenuhnya tunduk.

Sejarah relasi kucing-manusia adalah cerita tentang kedekatan nan rangup. Ia adalah narasi yang terjalin dari bulu yang lembut dan kuku yang tajam; dari mangkuk makan yang penuh di ruang tamu hingga tumpukan tulang di pasar abad pertengahan; dari mitologi Mesir kuno hingga meme di Instagram. Mungkin, pada setiap Hari Kucing Sedunia, kita tidak hanya sedang merayakan keanggunan seekor makhluk kecil, tapi juga merayakan atau menguji kembali bagaimana kita, sebagai manusia, memperlakukan mereka selama ribuan tahun.

Jejak Purba: Dari Gurun ke Gubuk

Hubungan kucing–manusia dimulai jauh sebelum ada kalender yang menandai perayaan untuk mereka. Leluhur kucing domestik, Felis silvestris lybica, adalah pemburu soliter yang menghuni wilayah Fertile Crescent sekitar 10.000 tahun lalu. Mereka bukan datang dengan niat menjadi peliharaan; mereka datang sebagai oportunis yang mengendus bau biji-bijian dan tikus di lumbung-lumbung awal manusia agraris (Brown, 2020: 22).

Pertemuan di Mesir kuno itu berubah menjadi kultus. Kucing disembah sebagai jelmaan Dewi Bastet: sang pelindung rumah, kesuburan, dan musik. Mereka dipahat dalam patung perunggu, dimakamkan bersama pemiliknya, dan bahkan dikubur massal sebagai persembahan ke kuil (Swan, 2005: 33). Bagi bangsa Mesir, kucing bukan sekadar pengendali hama; mereka adalah bagian dari tatanan kosmik. Hukuman bagi orang yang membunuh kucing, bahkan secara tidak sengaja, bisa setimpal dengan hukuman bagi pembunuh manusia.

Kucing menumpang kapal dagang dari tepi Sungai Nil, menuju pesisir Mediterania, Eropa, dan Asia. Mereka menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan maritim, melindungi muatan dari tikus pembawa penyakit dan menjaga cadangan biji-bijian. Dalam dunia Yunani-Romawi, kucing tidak mencapai status dewa seperti di Mesir, tetapi tetap disukai karena kecakapannya berburu dan kelihaiannya bertahan hidup (Swan, 2005: 33-54).

Akan tetapi domestikasi kucing tidak pernah sepenuhnya memutus akar liarnya. Tidak seperti anjing, yang sejak awal bersedia menjadi rekan pemburu dan penjaga, kucing mempertahankan jarak emosional. Mereka menerima makanan, tempat berlindung, bahkan kasih sayang manusia, tetapi tetap memelihara kebebasan memilih. Madeline Swan mencatat bahwa sejak awal sejarahnya, “kucing mengeksploitasi masyarakat manusia, bukannya dieksploitasi seperti begitu banyak hewan domestik lainnya” (Swan, 2005: 10).

Jejak awal ini memberi isyarat bahwa hubungan kucing-manusia adalah persekutuan yang dinegosiasikan ulang setiap generasi: manusia menginginkan kendali, kucing menawarkan kehadiran, tetapi tidak pernah menyerahkan seluruh dirinya. Di sanalah letak pesona dan ketegangan yang akan membentuk narasi mereka selama berabad-abad berikutnya.

Antara Dewa dan Iblis

Ada masa ketika kucing adalah perantara ilahi. Di Mesir kuno, mereka berjalan di lorong-lorong kuil dengan langkah senyap, mata berkilau seperti patung perunggu yang menggambarkan dewi Bastet. Ia pelindung rumah, musik, dan kesuburan (Swan, 2005: 33). Di rumah-rumah pedagang kaya, kucing tidur di dekat altar keluarga; di pekuburan, mereka dibalsem dan dimakamkan dengan upacara yang setara dengan bangsawan. Menyentuh atau melukai seekor kucing bisa membawa hukuman mati.

Walakin, waktu adalah pengkhianat setia. Memasuki Abad Pertengahan Eropa, tatapan yang dulu dianggap melindungi kiwari ditafsirkan ulang sebagai tatapan licik dari iblis. Perburuan penyihir yang menyapu benua itu menyeret kucing, terutama yang berwarna hitam ke tiang pembakaran dan lubang penggalian (Swan, 2005: 79-98). Gereja dan otoritas sekuler mengaitkan kucing dengan bidah, menganggapnya hewan kesayangan setan.

Festival rakyat di kota-kota kecil kadang berujung pada “ritual” yang mematikan: kucing dikurung dalam karung dan dibakar, atau dijatuhkan dari menara untuk hiburan massa. Kekerasan itu, sebagaimana dicatat Robert Darnton, juga bisa menjadi bentuk komunikasi sosial cara komunitas meneguhkan solidaritas atau menegaskan kekuasaan melalui pengorbanan yang spektakuler (Darnton, 2009: 75-106).

Ambivalensi ini (antara dewa dan iblis) menciptakan warisan yang panjang. Di satu era, kucing adalah jimat keberuntungan yang harus dipelihara dengan hormat; di era berikutnya, ia adalah ancaman yang harus dimusnahkan. Mungkin di sanalah letak kekuatan kucing: mereka mampu menyerap semua proyeksi manusia, dari pemujaan paling tulus hingga kebencian paling brutal, tanpa pernah kehilangan inti kebebasannya.

Kucing dalam Sejarah Politik dan Ekonomi

Ada masa tatkala kucing tidak hanya berdiam di pangkuan nenek atau berkelana di atap rumah, tetapi juga hadir di panggung sejarah besar, bukan sebagai hewan peliharaan, melainkan sebagai simbol politik dan ekonomi. Dalam buku Marx for Cats, Leigh Claire La Berge memulai dengan kisah Rosa Luxemburg dan kucingnya, Mimi, yang bukan hanya menemani sang revolusioner di pengasingan, tetapi juga menjadi “kamerad” sejati. Mereka berbagi ruang, membaca surat bersama, bahkan menyambut Lenin yang datang berkunjung (La Berge, 2023: 1-3).

Buku ini mengusulkan tesis yang provokatif: sejarah kapitalisme Barat bisa diceritakan lewat kucing. Dalam rentang berabad-abad, para penguasa dan pemberontak sama-sama mengadopsi simbol-simbol felin. Raja-raja feodal menampilkan diri sebagai singa; kaum buruh yang mogok spontan dikenal sebagai pelaku “wildcat strike”; aktivis kulit hitam di Amerika abad ke-20 memilih Black Panther sebagai lambang perlawanan terhadap rasisme kapitalis (La Berge, 2023: 3-5).

Akan tetapi sejarah politik kucing tidak selalu berpihak pada yang tertindas. Robert Darnton dalam kisah The Great Cat Massacre mencatat bagaimana para pekerja percetakan di Paris abad ke-18 membantai kucing-kucing milik majikan sebagai bentuk protes simbolis terhadap ketidakadilan kerja (Darnton, 2009: 75-106). Peristiwa ini bukan sekadar kekerasan terhadap hewan, tetapi sebuah “teks” sosial: cara pekerja mengungkapkan kemarahan dalam bahasa yang dapat dibaca komunitasnya.

Sains, Budaya Pop, dan Kucing Modern

Memasuki abad ke-20 dan ke-21, kucing menempuh jalur baru: dari lumbung desa dan kapal dagang, mereka pindah ke sofa apartemen metropolitan dan layar gawai kita. Sarah Brown mencatat bahwa domestikasi modern telah mengubah banyak hal: dari pola makan, perilaku sosial, hingga kemampuan beradaptasi di ruang sempit tanpa kehilangan naluri berburu (Brown, 2020: 76-108).

Kucing juga memasuki ranah budaya pop dengan cara yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Louis Wain di Inggris era Victoria melukiskan kucing-kucing antropomorfik yang menjadi ikon seni populer, sementara di Jepang, maneki-neko melambai di etalase toko sebagai jimat keberuntungan (Swan, 2005: 228-230).

Namun, era digital membawa transformasi paling dramatis: kucing menjadi “konten”. Video seekor kucing yang jatuh dari meja atau menatap kosong ke kamera dapat meraih jutaan penonton. Kucing di sini menjadi sekaligus subjek dan komoditas. Mereka diabadikan dalam foto-foto estetik di Instagram, diubah menjadi stiker pesan instan, bahkan menjadi karakter dalam gim dan GIF yang tidak henti dibagikan. 

Wayne de Fremery dalam Cats, Carpenters, and Accountants meneroka fenomena ini sebagai bagian dari bibliographical infrastructures (“Infrastruktur bibliografis”) kontemporer: bagaimana daftar, katalog, dan arsip digital mengabadikan bahkan perihal yang tampak daif, termasuk kucing, lalu mengedarkannya dalam sistem informasi global (de Fremery, 2024: 1-3). Kucing kiwari bukan hanya penghuni rumah, tetapi juga penghuni arsip digital yang terus diperbarui setiap detik.

Dalam lintasan ini, kucing modern hidup dalam paradoks: di satu sisi, mereka dimanja, dijaga kesehatannya, bahkan dipersonalisasi hingga menjadi “anak” dalam keluarga. Mereka di sisi liyan dipertontonkan, dijadikan bagian dari mesin algoritma, dan tanpa pernah memberi persetujuan, menjadi influencer yang memanen perhatian demi keuntungan orang lain.

Teknologi, Arsip, dan Kucing Digital

Di abad ke-21, kucing tidak lagi hanya mengisi sudut rumah atau gang belakang pasar. Mereka kini mengisi ruang virtual, tersusun dalam jutaan piksel, terkurasi di feed media sosial, dan tersimpan di server yang berdengung ribuan kilometer jauhnya. Wayne de Fremery mengingatkan bahwa setiap daftar, arsip, atau katalog adalah sebuah “infrastruktur bibliografis” yang tak hanya mencatat, tetapi juga membentuk cara kita melihat dunia (de Fremery, 2024: 1-3). Kucing, dalam hal ihwal ini, menjadi bagian dari sistem pengarsipan global, dari meme di Twitter hingga database adopsi hewan.

Fenomena ini bukan sekadar hiburan. Ia juga politik. Dalam dunia yang diatur oleh algoritma, kucing adalah “konten aman”: netral, menghibur, dan hampir selalu memancing interaksi. Video seekor anak kucing yang mengejar cahaya laser bisa menjadi pengalih perhatian di tengah krisis politik, atau menjadi alat soft power yang menyamarkan ketegangan sosial.

Dalam perspektif ini, kucing digital adalah produk dari dua proses yang saling bertolak namun saling menguatkan: domestikasi emosional dan komodifikasi algoritmik. Mereka hadir di layar kita dengan tatapan yang tampak murni, tetapi di belakangnya ada jaringan iklan, analisis data, dan monetisasi perhatian. Sama seperti di pelabuhan kuno atau istana Mesir, kucing tetap menjadi bagian dari ekonomi, hanya saja kiwari ekonomi itu adalah ekonomi perhatian.

Cermin Peradaban

Setiap kali kalender mencapai Hari Kucing Sedunia, kita mungkin mengira sedang merayakan hewan yang kita cintai. Kita membagikan foto, menyumbang ke penampungan, atau sekadar mengelus kucing di rumah sambil merasa telah melakukan sesuatu yang baik. Namun sejarah panjang kucing–manusia membisikkan sesuatu yang lebih kompleks: perayaan ini juga adalah cermin bagi kita sendiri.

Dari Bastet yang dipuja di kuil Mesir (Swan, 2005: 33), kucing yang dibakar di tengah perburuan penyihir abad pertengahan (Swan, 2005: 79-98), kucing yang menjadi simbol revolusi (La Berge, 2023: 3-5), hingga kucing yang diburu untuk “ditertawakan” dalam Great Cat Massacre (Darnton, 2009: 75-106). Setiap era memperlakukan kucing sesuai dengan ketakutan, hasrat, dan struktur kekuasaan yang berlaku.

Hari Kucing Sedunia, jika dibaca secara jujur, bukan hanya tentang kucing. Ia adalah tentang bagaimana manusia memilih untuk mengingat dan melupakan; tentang bagaimana kekuasaan bisa menyentuh bahkan makhluk yang tak bisa berbicara; tentang bagaimana tatapan seekor kucing yang tenang, penuh rahasia, bisa mengembalikan tatapan kita sendiri.

Mungkin, di balik semua hadiah, camilan, dan sesi foto, perayaan ini adalah undangan untuk menegosiasikan ulang hubungan kita dengan makhluk yang tidak pernah sepenuhnya kita miliki. Kucing, dengan seluruh sejarahnya yang terjalin dalam sejarah manusia, mengajarkan bahwa cinta yang sejati bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan atas kebebasan yang tak bisa dibeli.

Arkian, sejarah kucing-manusia adalah sejarah peradaban itu sendiri, dilihat dari sudut mata seekor makhluk yang tidak pernah benar-benar dimiliki. Dari gurun pasir Mesir hingga lorong-lorong abad pertengahan Eropa, dari dermaga kapal dagang hingga balkon apartemen abad ke-21, kucing telah menyaksikan pergantian rezim, perang, wabah, dan revolusi. Mereka hadir dalam mosaik Romawi, dalam litografi propaganda, dalam arsip digital yang tak pernah tidur. Setiap era menulis ulang peran mereka, menempatkan mereka di singgasana atau di tiang eksekusi. Namun, di balik semua itu, mereka tetap berjalan sendiri: anggun, misterius, dan tidak tergesa-gesa.

Dalam setiap lapisan sejarah itu, kucing menjadi indikator halus tentang siapa kita sebagai manusia. Cara kita memperlakukan mereka mencerminkan cara kita memperlakukan yang lemah, yang asing, yang tak berbicara dengan bahasa kita. Pemujaan Mesir kuno, penganiayaan abad pertengahan, simbol-simbol politik abad modern. Semuanya adalah cermin yang memantulkan wajah peradaban pada zamannya. Bahkan di era media sosial, ketika kucing direkam dan dibagikan jutaan kali, kita masih membawa warisan ambivalensi itu: mencintai sekaligus mengendalikan, mengagumi sekaligus mengeksploitasi.

Hari Kucing Sedunia, dalam kacamata historis, adalah upaya kita untuk memilih satu sisi dari ambivalensi itu: merayakan, bukan mengorbankan. Tetapi perayaan tanpa kesadaran akan sejarah hanyalah hiburan yang manis namun kosong. Ingatan tentang Bastet dan Bast, tentang kucing-kucing korban perburuan penyihir, tentang wildcat strikes dan Black Panthers, menuntut kita menjadikan hari ini sebagai refleksi etis. 
Perayaan sejati adalah yang memutus rantai penganiayaan, melindungi kebebasan kucing, dan mengakui bahwa hubungan ini bukan milik tunggal manusia, melainkan sebuah persekutuan yang rapuh namun berharga.

Mungkin, hadiah terbesar yang kucing wariskan kepada kita adalah kemampuan untuk tidak peduli dengan ambisi kita yang megah-megah itu. Mereka melihat kita membangun piramida, menyalakan obor Olimpiade, bahkan mengirim roket ke Mars, kemudian tetap duduk menjilat kaki belakangnya, seolah berkata: “Bagus sekali, sekarang tolong isi mangkukku.” 

Kucing adalah guru kebebasan yang malas-malasan, filsuf yang tidur siang di tengah revolusi, dan diplomat yang bisa menghancurkan gencatan senjata hanya dengan mendorong vas bunga ke lantai. Di setiap Hari Kucing Sedunia, tatapan mereka seakan menantang: “Sehebat apa pun kalian, aku tetap bosnya.”
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
logo