Ayah yang Tak Pernah Pulang dan Ayah yang Baru Lahir: Revolusi Sunyi Abad ke-21

Ayah yang Tak Pernah Pulang dan Ayah yang Baru Lahir: Revolusi Sunyi Abad ke-21

Jakarta, pagi yang penuh sesak dengan klakson dan debu, selalu menyimpan rahasia yang tidak masuk dalam hitungan statistik resmi. Namun, Kompas baru-baru ini menyingkap sebuah angka yang menakutkan: 15,9 juta anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah. Setara dengan 20,1 persen dari 79,4 juta anak negeri ini. Angka yang gabir itu, jika kita bayangkan sebagai wajah-wajah kecil, berarti setiap lima anak yang kita temui di jalan, di sekolah, atau di langgar, satu di antaranya memanggil kata “ayah” hanya sebagai gema kosong, bukan tubuh hangat yang hadir di sampingnya.

Dari jumlah itu, 4,4 juta benar-benar hidup tanpa sosok ayah di rumah. Sisanya, 11,5 juta, punya ayah yang secara resmi ada, tetapi terhisap jam kerja lebih dari 60 jam per minggu, lebih dari dua belas jam per hari. Para ayah itu berangkat sebelum fajar, kembali setelah gelap, seakan hanya menitipkan bayangan di rumah. Psikolog di Pontianak menyebut mereka “ada tapi tak pernah hadir.” Kehadiran yang absen: seperti kursi kosong di ruang makan, seperti suara langkah yang tidak pernah terdengar di malam hari.

Di Gorontalo, satu dari empat anak hidup dalam kondisi seperti ini (26,9 persen). Di Kalimantan Timur, NTB, Jawa Tengah, angka serupa menumpuk, menulis peta luka di tubuh republik. Data regresi linear semenjana yang dianalisis menunjukkan betapa rapuhnya keterhubungan: semakin banyak perceraian, semakin banyak anak kehilangan ayah. Korelasi yang hampir sempurna, 0,98 poin. Seolah-olah, setiap guncangan rumah tangga langsung menghapus separuh dari cahaya masa kanak-kanak.

Akan tetapi bukan hanya perceraian. Migrasi dan kerja paksa jarak jauh juga ikut menorehkan absensi itu. Tenaga kerja laki-laki yang harus pergi ke luar kota, menjadi pekerja sirkuler, bahkan PMI, meninggalkan jejak statistik lain: semakin banyak laki-laki yang jauh dari rumah, semakin banyak pula anak-anak yang tumbuh fatherless. Korelasi itu, kata Kompas, mencapai 0,89 hingga 0,96 poin. Angka yang dingin, tetapi menyimpan panas kesedihan.

Tersembunyi kerapuhan yang lebih besar di balik statistik itu: sebuah bangsa yang membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa pelukan ayah, tanpa cermin laki-laki yang lembut, tanpa bahasa kasih sayang dari separuh orang tua mereka. Indonesia, yang selama ini begitu mandam memuja peran “kepala keluarga,” seakan lupa bahwa kepala tanpa tubuh hanyalah tengkorak yang kering.

Di sinilah ironi itu berdiam: ketika dunia mulai menyaksikan munculnya “ayah-ayah baru”, sosok laki-laki yang setara dengan ibu dalam pengasuhan. Kita masih berdebat dengan bayangan absensi, dengan kursi kosong yang terlalu sering ditinggalkan.

Ayah dalam Bayang-Bayang Sejarah

Sejarah selalu ditulis dengan tangan lelaki yang menggenggam senjata, bukan dengan tangan lelaki yang menggenggam bayi. Kita hafal nama para penakluk, raja, jenderal, tetapi jarang, nyaris tak pernah ada catatan tentang ayah yang mengganti popok, menimang anaknya, atau terjaga sepanjang malam demi tangis kecil. Charles Darwin, sang bapak teori evolusi, bahkan menuliskan dengan dingin bahwa laki-laki mewarisi “unfortunate birthright”, naluri untuk bersaing, berambisi, dan seringkali berubah menjadi egoisme (Hrdy, 2024, hlm. 27). Seakan-akan, maskulinitas sejak awal ditakdirkan sebagai arena, bukan buaian.

Antropolog Margaret Mead, hampir seabad kemudian, mengulangi mantra itu dengan kalimat liyan: motherhood is a biological necessity, but fatherhood is a social invention (Hrdy, 2024, hlm. 18). Bagi Mead, merawat bayi adalah takdir tubuh perempuan, sementara ayah hanyalah gagasan budaya yang bisa ada, bisa tiada. Dalam pandangan ini, kehadiran ayah hanyalah opsi tambahan, bukan kebutuhan yang melekat.

Begitulah sejarah berulang: dalam masyarakat agraris, industrial, bahkan modern awal, ayah sering kali hadir hanya di momen kelahiran. Kadang dengan bangga, kadang dengan jarak, lalu segera kembali ke dunia “nyata” tempat ia harus menaklukkan pekerjaan, tanah, atau peperangan. Bayi tetap berada di ranah perempuan, karena air susu melekat pada tubuh mereka.

Namun, ironinya: di balik dinding yang menutup akses ayah terhadap bayi, kita menemukan dunia primata yang juga memihak pada pola lama. Di antara simpanse, gorila, orangutan (saudara dekat manusia), perawatan bayi hampir selalu menjadi tugas betina. Para jantan lebih sering menjadi ancaman ketimbang pengasuh. “Infant care as women’s work” begitu universalnya hingga seperti hukum alam (Hrdy, 2024, hlm. 8-12).

Sejarah, dengan demikian, adalah lorong panjang tempat ayah berjalan jauh di depan, meninggalkan jejak-jejak besar di tanah peradaban, tetapi hampir tidak pernah meninggalkan jejak kecil di ranjang bayi. Dan kita, anak-anak dari sejarah itu, tumbuh dengan bayangan seorang ayah yang lebih mirip simbol ketimbang kehadiran.

Runtuhnya Tembok Biologis 

Selama berabad-abad, kita diajari bahwa tubuh perempuanlah yang “diciptakan” untuk merawat: rahim yang menampung, payudara yang menyusui, hormon yang mengikat. Laki-laki, kata sejarah dan biologi konservatif, diciptakan untuk menanam benih lalu pergi. Namun ilmu pengetahuan, dalam senyap laboratorium, mulai membongkar tembok itu. Di balik tembok, ternyata lelaki pun menyimpan rahasia lembutnya sendiri.

Sarah Blaffer Hrdy dalam bukunya Father Time: A Natural History of Men and Babies (Princeton University Press, 2024), menulis dengan nada takjub: ayah yang menjadi pengasuh utama sejak kelahiran bayi mengalami perubahan hormonal dan neurologis mirip ibu. Endokrinolog menemukan penurunan testosteron, hormon yang biasa diasosiasikan dengan agresi dan peningkatan prolaktin dan oksitosin, hormon yang membuat lelaki menjadi lebih sabar, lebih penuh kasih (Hrdy, 2024, hlm. 2-3). Seolah-olah tubuh lelaki, yang selama ini dikira keras seperti besi, menyimpan tombol tersembunyi yang baru menyala ketika ia bersentuhan dengan bayi.

Lebih jauh, neurosains memperlihatkan peta otak yang mengejutkan: frontal cortex, pusat perencanaan dan empati, menyala ketika ayah menggendong, menimang, atau memberi makan. Bahkan area otak purba, sirkuit kuno yang diwarisi dari vertebrata awal ikut teraktivasi, sama seperti pada ibu yang baru melahirkan. Yang kita saksikan bukan sekadar “ayah belajar peran baru,” melainkan tubuh lelaki yang betul-betul bertransformasi, dari dalam.

Pertanyaan pun lahir: jika biologi ternyata memungkinkan, mengapa sejarah terlalu lama menyangkalnya? Mengapa kita lebih percaya pada narasi tentang laki-laki sebagai pemburu, daripada narasi tentang laki-laki sebagai pengasuh? Mungkin karena patriarki hanya mau mendengar separuh dari lagu evolusi: suara keras kompetisi, bukan bisikan lembut hormon kasih sayang.

Kiwari, bukti-bukti itu berdiri seperti saksi: fatherhood bukan hanya konstruksi sosial, tetapi potensi biologis yang selama ini terpendam, menunggu keadaan sosial-budaya untuk memanggilnya keluar. Setiap kali seorang lelaki menempelkan bayi di dadanya, sejarah biologi itu bangkit kembali, menuntut pengakuan.

Ayah di Pelbagai Budaya

Jika biologi memberi kemungkinan, maka budaya adalah panggung yang menentukan apakah kemungkinan itu boleh tampil atau dipaksa bersembunyi. Margaret Mead, dalam penelitian lapangan di Papua Nugini, pernah membandingkan dua dunia yang berdekatan namun kontras: lelaki Arapesh yang lembut, responsif, bahkan disebut “maternal,” dan lelaki Mundugumor yang keras, penuh konflik, dan hampir tak menyentuh bayi (Hrdy, 2024, hlm. 18). Perbedaan itu, kata Mead, lahir bukan dari gen, melainkan dari budaya yang mengizinkan atau melarang kelembutan.

Lebih jauh ke Afrika Tengah, antropolog Barry Hewlett menyingkap rahasia masyarakat Aka: para ayah di sana menghabiskan hampir separuh waktunya dalam radius satu lengan dari bayi mereka, memeluk, mencium, menggendong hingga 22 persen waktu siang hari (Hrdy, 2024, hlm. 19). Tidak ada istilah “quality time” singkat khas Barat, melainkan keintiman panjang, tubuh lelaki yang menjadi selimut hidup bagi bayi.

Namun, tidak semua budaya memberi ruang. Pada Ju/’hoansi di Kalahari, lelaki memang sering berada di sekitar bayi, tetapi hanya sesekali menyentuh atau menggendong. Sementara di masyarakat industrial abad ke-20, seperti yang dicatat Hrdy, lelaki Amerika baru dianggap “ayah baik” bila ikut membawa anak ke dokter, atau sesekali mengganti popok. Peran sekunder yang tetap menyisakan jarak (Hrdy, 2024, hlm. 15).

Dari sini kita belajar bahwa ayah adalah makhluk yang lentur: ia bisa menjadi hantu yang jauh, atau bisa menjadi tubuh pertama yang dicium bayi, tergantung bagaimana masyarakat menulis naskah gendernya. Jika Mead benar bahwa fatherhood adalah “penemuan sosial,” maka Aka membuktikan bahwa penemuan itu bisa menghasilkan dunia yang lebih lembut, lebih intim, lebih manusiawi.

Di situlah antropologi memberi pelajaran yang lebih besar: kelembutan lelaki bukan anomali, tetapi kemungkinan. Hanya saja, kita hidup dalam dunia yang terlalu lama memilih untuk tidak mempercayainya.

Fenomena Ayah Baru Abad ke-21

Di abad ke-21, sebuah pemandangan yang dulu musykil kini hadir di ruang-ruang bersalin: seorang ayah dengan tangan gemetar menempelkan bayi yang masih merah ke dada telanjangnya, mendengar detak jantungnya bersatu dengan detak jantung anaknya. Sarah Blaffer Hrdy menyebut ini sebagai momen lahirnya really new fathers—ayah-ayah baru yang tidak sekadar penonton, melainkan pemeran utama dalam pengasuhan sejak jam pertama kehidupan (Hrdy, 2024, hlm. 20).

Contoh-contohnya menyalakan imajinasi global: Anderson Cooper, jurnalis CNN, yang tersenyum malu-malu memegang bayi lahir dari surrogasi, menahbiskan dirinya “ayah penuh” dengan air mata di mata. Pete Buttigieg, Menteri Transportasi AS, mengambil cuti dua bulan penuh untuk merawat bayi kembar yang ia adopsi bersama suaminya, dan dunia melihat, untuk pertama kalinya, seorang pejabat tinggi Amerika mendemonstrasikan bahwa menggendong bayi adalah urusan kenegaraan (Hrdy, 2024, hlm. 23).

Walakin, “ayah baru” bukan hanya para figur publik. Ia juga hadir dalam sosok lelaki yang menulis catatan makan, tidur, dan buang air bayi di aplikasi ponsel; yang menyimpan botol susu di tas kerja; yang bangga memposting foto skin-to-skin contact di media sosial. Bagi mereka, maskulinitas bukan lagi diukur dari seberapa jauh ia meninggalkan rumah, tetapi dari seberapa dekat ia menempel dengan anaknya.

Meski begitu, pergeseran ini tidak diterima tanpa perlawanan. Seperti dicatat Hrdy, kritik konservatif menuduh perubahan ini sebagai feminisasi lelaki, bahkan “demonisasi maskulinitas” (Hrdy, 2024, hlm. 25). Akan tetapi tubuh-tubuh lelaki yang sedang menidurkan bayinya, dengan mata sayu namun penuh cinta, menjawab dengan sunyi: bahwa kekuatan sejati bukan pada otot yang tegang, melainkan pada kesediaan rapuh untuk menenangkan makhluk kecil yang menangis di tengah malam.

Fenomena ayah baru adalah revolusi sunyi, yang tidak dikoarkan di mimbar politik, tetapi dilahirkan di kamar tidur rumah-rumah ugahari. Revolusi itu, seperti semua revolusi besar, lahir dari cinta yang menolak ditunda.

Cermin Retak Indonesia

Namun, ketika dunia perlahan-lahan merayakan kelahiran ayah baru, Indonesia masih bercermin pada kaca yang retak. Di satu sisi, ada wacana tentang peran ayah yang setara dalam pengasuhan; di sisi lain, statistik yang mencekik dari Kompas menunjukkan 15,9 juta anak tumbuh tanpa pelukan ayah. Angka itu tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari kerja yang berlebihan, perceraian yang melonjak, dan sistem sosial yang masih menganggap pengasuhan sebagai urusan ibu.

Ayah di banyak rumah di negeri ini bukan tidak ada; mereka justru terlalu sibuk hadir di tempat lain. Mereka menjadi buruh migran yang meninggalkan anak-anaknya di kampung, pekerja tambang yang tinggal di barak, atau karyawan kota yang pulang hanya untuk tidur ketika anak sudah lelap. Dalam bahasa statistik, itu disebut “ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu.” Dalam bahasa anak-anak, kalakian disebut “ayah yang asing di rumahnya sendiri.”

Kontrasnya begitu mencolok: sementara di Barat lahir figur publik seperti Pete Buttigieg yang cuti demi bayi, di Indonesia cuti ayah masih dianggap kemewahan, bahkan kelemahan. Sarah Hrdy meneroka bahwa kedekatan ayah dengan bayi bisa membuat lelaki lebih prososial, lebih peduli lingkungan, lebih damai (Hrdy, 2024, hlm. 6). Tetapi di banyak kota dan desa kita, kapitalisme justru menuntut sebaliknya: ayah yang absen, ayah yang hilang dalam ritme mesin produksi.

Pertanyaannya semenjana namun getir: apakah mungkin ayah baru lahir di negeri yang sibuk mengusir ayah dari rumahnya sendiri? Bagaimana mungkin tubuh lelaki bisa berubah oleh sentuhan bayi, jika ia bahkan tidak diberi waktu untuk menyentuh?

Indonesia, hari ini, berdiri di persimpangan. Antara mengikuti jejak global yang merayakan revolusi sunyi para ayah baru, atau terus berjalan di lorong panjang sejarah yang penuh kursi kosong di ruang keluarga.

Mengapa Dunia Butuh Ayah Baru

Di balik tubuh seorang ayah yang menidurkan bayinya, tersembunyi sebuah politik yang jarang dibicarakan: politik empati. Sarah Blaffer Hrdy menulis bahwa ketika lelaki terpapar bayi, tubuhnya tidak hanya berubah. Otaknya pun berlatih kepekaan anyar. Hormon-hormon yang meneteskan kesabaran membuat mereka lebih prososial, lebih peduli pada anak-anak lain, bahkan lebih berhati-hati dalam memutuskan jalan hidup (Hrdy, 2024, p. 6). Dalam bahasa lain: dunia dengan lebih banyak ayah pengasuh adalah dunia yang lebih damai, lebih rendah kekerasan, lebih penuh kepedulian.

Antropolog telah lama mencatat bahwa masyarakat di mana lelaki banyak terlibat dalam pengasuhan cenderung lebih sedikit berperang. Psikolog sosial menunjukkan bahwa lelaki yang sering mendengar tangis bayi menjadi lebih murah hati. Bayangkan jika politik global dipimpin oleh lelaki yang setiap malam mengganti popok, bukan oleh lelaki yang sibuk menghitung rudal. Mungkin perundingan damai akan lebih cepat tercapai, dan bumi lebih diselamatkan dari kerakusan.

Fenomena “ayah baru” bukan sekadar transformasi domestik; ia adalah proyek peradaban. Ia adalah gagasan bahwa kekuatan tidak terletak pada kemampuan menghancurkan, melainkan pada kemampuan menenangkan makhluk yang rapuh. Dunia butuh ayah baru bukan hanya demi anak-anak, tetapi demi masa depan yang tidak lagi dikuasai logika perang dan kerakusan.

Di sinilah, mungkin, politik paling radikal hari ini bersembunyi: di kamar tidur sederhana, ketika seorang ayah menimang bayinya dengan tangan gemetar, sementara dunia di luar masih percaya bahwa kelembutan adalah kelemahan.

Ayah yang Lahir Kembali

Pada akhirnya, mungkin yang paling kita rindukan bukanlah ayah sebagai kepala keluarga, melainkan ayah sebagai tubuh yang hadir: tangan yang membetulkan selimut, mata yang menatap tanpa tergesa, napas yang hangat di kening bayi. Dari 15,9 juta anak Indonesia yang tumbuh tanpa pengasuhan ayah, kita mendengar jeritan sunyi sebuah bangsa yang kehilangan separuh nadinya. Tetapi di sisi lain dunia, ayah-ayah baru lahir: lelaki yang tubuhnya ikut bergetar oleh oksitosin, yang menemukan kekuatan justru dalam kelembutan.

Di situlah masa depan menunggu: di rumah-rumah ugahari, di lorong-lorong desa, di apartemen sempit kota besar, di mana seorang ayah memutuskan untuk pulang lebih awal, untuk memangku anaknya sebentar lebih lama. Sebuah revolusi kecil, tanpa teriakan, tanpa bendera, hanya berbekal cinta yang diturunkan dari tubuh ke tubuh.

Tatkala sejarah menoleh ke belakang, ia akan menuliskan sesuatu yang berbeda: bahwa pada abad ini, lelaki berhenti sekadar menjadi pemburu, lalu belajar menjadi pengasuh. Bahwa ayah tidak lagi hanya nama di kartu keluarga, melainkan cahaya kecil di ruang tidur seorang anak. Bahwa dari tangan mereka yang dulu menggenggam senjata, akhirnya lahir generasi baru: tangan-tangan yang menggenggam bayi.

Mungkin, pada akhirnya, republik ini hanya butuh satu revolusi kecil: bukan reformasi pajak, bukan reshuffle kabinet, melainkan cuti ayah yang cukup panjang untuk sekadar mengganti popok tanpa merasa kehilangan martabat. Bayangkan, para lelaki yang dulu bangga memamerkan otot di kedai kopi kini bersaing tentang siapa yang paling piawai menidurkan bayi. Lucu? Tentu. Walakin bukankah sejarah sering kali bergerak dengan cara yang tampak konyol sebelum jadi berkanjang? 

Jika politik kita terlalu bising untuk berubah, biarlah revolusi dimulai dari ruang tidur yang hening, ditemani tangis bayi.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
logo