Pulau Buru di Dalam Diri Kita: Membaca Kembali Kubah Ahmad Tohari

Pulau Buru di Dalam Diri Kita: Membaca Kembali Kubah Ahmad Tohari

Ada momen tatkala tubuh seorang manusia memikul lebih banyak dari sekadar beratnya sendiri. Pada sebuah halaman markas militer, seorang lelaki bernama Karman menuruni anak tangga dengan langkah gemetar. Tangannya menggenggam surat pembebasan yang terasa lebih berat tinimbang surat apa pun yang pernah ia bawa dalam hidupnya. 

Ahmad Tohari membuka Kubah (Gramedia, 1995) dengan adegan kecil namun menyimpan dentuman sejarah yang seluruhnya ditanggung seorang individu yang sendirian menghadapi dunia baru yang menakutkannya. Pada halaman awal novel digambarkan bagaimana Karman berdiri terpaku di depan pintu gerbang markas, seolah dunia telah berubah menjadi panggung asing tempat ia tidak lagi memiliki peran yang jelas (Tohari, 2012, hlm. 5).

Ia memandangi jalan raya yang kini lebih ramai. Ia melihat bangunan yang dulu tidak ada. Ia menyaksikan anak-anak sekolah dan kendaraan yang berseliweran dengan ritme yang lebih cepat daripada kenangan terakhirnya sebelum dibawa ke Pulau Buru. Perubahan itu membuatnya merasa bukan lagi bagian dari kota kelahirannya. Dalam dirinya tumbuh perasaan kecil, fana, dan tidak berarti. Ia menyebut dirinya bukan apa apa. Bahkan merasa dirinya tidak setara dengan seekor semut. Pada titik itu, novel tidak sedang membuka cerita fiksi semata. Novel sedang membuka pintu menuju sejarah emosional Indonesia.

Ada sesuatu yang menyentuh pembaca ketika melihat Karman berdiri di bawah pohon waru di halaman markas. Debu menempel di daunnya. Panas menyengat tubuh. Tidak ada tempat berteduh bagi hati yang letih. Di dalam kerapuhan yang ia rasakan, tersimpan beban masa lampau yang dibawanya pulang. Ia bekas tahanan politik. Ia bekas manusia yang pernah dianggap berbahaya. Ia baru saja dilepaskan dari Pulau Buru. Namun ia dibawa kembali ke dunia yang tidak pernah berhenti bergerak.

Novel ini lahir dari keberanian seorang penulis desa yang melihat luka manusia dengan mata yang jernih. Ahmad Tohari menulis Kubah tahun 1979. Novel ini terbit tatkala memori tentang 1965 masih diselimuti sunyi yang dipaksakan instrumen negara. Karman adalah pintu masuk untuk memahami bagaimana sebuah bangsa pernah merawat luka tanpa benar benar mengakuinya. Tohari menggunakan langkah gontai seorang tokoh untuk berbicara tentang tragedi yang lebih luas.

Seperti seorang sejarawan yang menelusuri arsip hidup, pembaca mengikuti Karman yang berjalan ke alun alun kabupaten. Ia mencari tempat duduk di bawah pohon beringin. Ia melihat pedagang rokok, tukang becak yang tertidur, burung burung di antara ranting. Dunia berjalan seperti biasa. Akan tetapi hanya bagi mereka yang tidak membawa masa silam seberat dirinya. Setiap detail kecil yang digambarkan Tohari memberi napas pada suasana. Pembaca seperti ikut duduk di bawah beringin itu. Ikut merasakan kegamangan. Ikut meraba hidup yang terasa asing bagi seseorang yang baru dilepaskan dari hukuman panjang di pulau pengasingan.

Dalam sekejap, kita tahu bahwa novel ini bukan hanya cerita tentang seseorang yang kembali pulang. Novel ini adalah kisah tentang bangsa yang ingin pulang ke dirinya sendiri.

Suara Sunyi 

Menulis tentang tragedi politik di masa ketika luka itu masih berdarah adalah pilihan yang penuh risiko. Ahmad Tohari melakukannya dalam keheningan pada 1979. Ia menulis bukan sebagai juru bicara ideologi. Ia menulis sebagai saksi moral terhadap apa yang terjadi pada banyak manusia biasa yang terseret dalam arus besar politik Indonesia. Novel ini membawa suara yang tidak dapat diucapkan secara terbuka di ruang publik masa itu. Tohari memilih fiksi sebagai jalan untuk mengatakan sesuatu tentang kemanusiaan yang hancur dan upaya memperbaikinya.

Ia menempatkan pembaca di titik paling rawan dari sebuah tragedi yang telah mengubah banyak kehidupan. Tohari tidak menampilkan adegan kekerasan secara grafis. Ia menampilkan akibatnya. Ia memperlihatkan bagaimana sejarah besar bisa menghancurkan mimpi kecil. Ia memperlihatkan bagaimana negara dapat memutus manusia dari rumahnya, istrinya, anaknya, dan segala kenangan yang menjadi fondasi identitas seseorang.

Walaupun ditulis sebagai novel desa, Kubah menyimpan visi besar tentang rekonsiliasi. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut novel ini sebagai karya awal yang berbicara tentang rekonsiliasi 1965 bahkan sebelum wacana itu mungkin didiskusikan secara terbuka. Tohari menuliskan suara yang pada masa itu dibungkam. Ia memberi wajah pada eks tapol yang selama bertahun tahun hanya menjadi bayangan dalam wacana resmi negara.

Tohari menulis dengan kesemenjanaan. Namun dalam kesemenjanaan itu terdapat keberanian. Ia mengajak pembaca memikirkan bahwa manusia yang pernah dituduh salah masih menyimpan hak untuk menjadi manusia kembali. Dalam hal ihwal ini, novel menjadi lebih dari sekadar karya fiksi. Novel menjadi dokumen sejarah emosional.

Pulau Buru 

Novel Kubah berhasil menggambarkan Pulau Buru bukan hanya sebagai tempat pembuangan. Pulau Buru menjadi ruang psikologi. Tempat di mana manusia sedang diringkus, direnggut, dan kemudian dipaksa belajar ulang tentang dirinya sendiri. Di salah satu adegan yang sangat kuat, Karman sakit keras di barak. Ia tidak mau makan. Ia tidak mau minum obat. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Semua harapan runtuh ketika ia menerima kabar bahwa istrinya meminta izin menikah lagi. Surat itu ia letakkan di bawah gumpalan kain bekas. Surat itu menjadi beban yang menghantam jiwanya lebih keras daripada hukuman fisik apa pun yang dialaminya (Tohari, 2012, hlm. 11-20).

Pada bagian ini, Tohari memperlihatkan ranah batin yang sulit dibicarakan dalam narasi sejarah resmi. Karman adalah figur manusia yang kehilangan segalanya. Ia mencoba mati dengan cara menolak hidup. Ia menghukum dirinya sendiri melalui sakit yang diciptakan keputusasaan. Ia merasa tidak punya masa depan. Ia percaya bahwa hancurnya rumah tangga adalah bukti bahwa hidupnya sudah tamat.

Namun di tengah semua itu, Kapten Somad datang. Perwira yang memiliki sisi kemanusiaan yang tidak tergerus tugas kedinasan. Ia mencoba menenangkan Karman. Ia mencoba mengajaknya memikirkan kemungkinan hidup yang masih tersisa. Ia tidak memaksakan moralitas. Ia tidak menekan. Ia memberi ruang bagi Karman untuk bernapas.

Adegan percakapan antara Karman dan Kapten Somad adalah salah satu bagian paling lembut dalam novel ini. Di situ, Tohari menunjukkan bahwa kemanusiaan dapat bertahan bahkan di tempat pembuangan. Kapten Somad berkata bahwa putus asa tidak akan pernah menjadi jawaban. Ia meminta Karman kembali percaya bahwa ada kekuatan lebih besar yang menjaga manusia. Percakapan ini tampak sederhana. Namun dalam konteks masa itu, gagasan seperti ini adalah bentuk keberanian moral.

Pulau Buru menjadi tempat di mana manusia dilucuti martabatnya. Namun juga menjadi tempat di mana beberapa dari mereka berusaha merajut kembali serpihan dirinya. Tohari tidak menulis Pulau Buru sebagai ruang gelap semata. Ia menulisnya sebagai ruang pergulatan manusia.

Keretakan Sosial

Salah satu kekuatan novel ini terletak pada caranya menggambarkan kehidupan rumah tangga sebelum dan sesudah tragedi. Karman pernah memiliki keluarga yang harmonis. Ia memiliki istri bernama Marni. Mereka memiliki anak. Mereka tinggal di kampung yang kelak menjadi tempat ia kembali dengan hati yang luka. Walakin sejarah merenggut semua itu. Marni menunggu selama bertahun tahun. Ia percaya suaminya masih hidup. Ia bertahan dengan anak anak kecil dan tekanan hidup yang semakin berat. Ia pernah bersekolah di Sekolah Kepandaian Putri dan mencoba bekerja. Namun ia tidak berhasil bertahan lama.

Pada akhirnya Marni menulis surat kepada suaminya. Ia meminta pengertian. Ia meminta izin untuk menikah lagi setelah lima tahun menunggu. Ketika Karman menerima surat itu di Pulau Buru, ia jatuh. Ia roboh dari dalam. Ia merasa tanah di bawah kakinya hilang. Kehilangan keluarga menjadi pukulan yang melampaui semua bentuk hukuman negara.

Tohari menggambarkan adegan ini dengan kesederhanaan yang memilukan. Tidak ada dramatika berlebihan. Tidak ada kecaman terhadap Marni. Tidak ada pembelaan terhadap Karman. Yang ada hanya realitas yang harus dialami manusia ketika sejarah besar merampas kebahagiaan kecil mereka.

Pada titik ini, Tohari memperlihatkan bahwa tragedi 1965 bukan hanya soal ideologi dan politik. Tragedi itu telah memutus rumah tangga. Telah merusak hubungan. Telah menjadikan anak anak tumbuh tanpa ayah. Telah membuat perempuan menanggung beban sosial yang tidak adil. Tohari tidak mengatakan semua itu secara didaktik. Ia justru menunjukkan semuanya lewat adegan yang sunyi.

Tatkala membaca bagian ini, pembaca memahami mengapa Karman merasa hidupnya telah selesai. Ia tidak hanya kehilangan kebebasan. Ia kehilangan rumah yang menjadi sumber identitasnya.

Iman, Ideologi, Pencarian Diri

Ada percakapan yang menjadi titik balik dalam perjalanan batin Karman. Pada suatu sore di Pulau Buru, Kapten Somad berkata bahwa Karman hanya dapat menemukan jalan keluar dari kekosongan batin jika ia kembali percaya pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Karman menunduk. Ia monyos. Ia mengakui bahwa ia tidak pernah benar-benar meninggalkan Tuhan meski ia lama menjadi anggota partai komunis. Ia mengatakan bahwa ada keyakinan yang sulit ia hapuskan dari dalam dirinya (Tohari, 2012, hlm. 26-27).

Pengakuan ini penting. Bukan karena ia mempromosikan keimanan tertentu. Tetapi karena ia memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak dapat dipaksa menghapus keyakinan paling dalam dari dirinya. Karman menghadapi konflik antara ideologi partai dan nurani. Dalam dirinya ada dua suara yang berebut ruang. Novel ini menyuguhkan pergulatan itu tanpa memihak. Tidak ada kemenangan mutlak dari satu gagasan atas gagasan lain. Yang ada adalah manusia yang sedang mencari tempat berpijak di tengah reruntuhan hidupnya.

Tohari dengan halus menyampaikan kritik terhadap kekerasan ideologis yang dapat datang dari dua arah. Dari partai yang meminta segala keyakinan ditanggalkan. Dari negara yang menggunakan agama sebagai instrumen pembinaan moral. Di antara dua tekanan itu, Karman memilih jalan tengah. Ia kembali kepada sesuatu yang ia rasakan dekat. Ia percaya bahwa yang ia cari bukan Tuhan sebagai konsep politik. Ia mencari kedamaian yang bisa membuat hidupnya kembali bergerak.

Dalam bab ini, Kubah menunjukkan bahwa iman bukan alat propaganda. Iman adalah ruang batin tempat manusia bisa menemukan ketenangan setelah kehilangan banyak hal. Pergulatan Karman menggambarkan dinamika sosial Indonesia yang berusaha memadukan keyakinan, ideologi, dan moralitas di tengah sejarah yang penuh luka.

Masjid, Kubah, Rekonsiliasi

Momen paling simbolis dalam novel ini adalah ketika Karman mengikuti anak-anak menuju masjid saat malam mulai turun. Ia tidak berniat sembahyang pada awalnya. Ia hanya mengikuti orang banyak. Namun langkah kecil itu berubah menjadi pengalaman penting. Seusai sembahyang magrib, ia merasakan sesuatu yang lapang. Ia merasa disentuh keramahan sederhana. Ia melihat senyum orang orang yang tidak mengenalnya. Ia merasa tidak lagi sepenuhnya sendirian. Ia menangis tanpa suara. Air mata itu menjadi tanda bahwa jiwanya masih hidup (Tohari, 2012, hlm. 28-30).

Tatkala kembali ke kampung Pegaten, ia diterima oleh Pak Haji. Lelaki kamitua yang pernah ia sakiti karena pilihan politik yang dulu ia ikuti. Namun Pak Haji justru menawarkan kepercayaan yang tidak didapatkan Karman dari orang lain. Ia meminta Karman membangun kubah masjid. Pekerjaan itu bukan sekadar proyek fisik. Itu adalah undangan untuk kembali menjadi manusia. Dengan tangan yang dulu pernah dianggap salah, Karman diminta membangun rumah Tuhan di tengah masyarakat yang pernah mengusirnya.

Arkian, kubah masjid dalam novel ini adalah simbol rekonsiliasi. Rekonsiliasi tidak datang dari pidato. Tidak datang dari kebijakan. Rekonsiliasi datang dari perjumpaan manusia dengan manusia lain. Dari kerja bersama. Dari kepercayaan yang dipulihkan sedikit demi sedikit. Dari kesempatan untuk memperbaiki diri tanpa dihakimi.

Novel ini memperlihatkan bahwa rekonsiliasi adalah kemungkinan yang hanya muncul ketika manusia mau menerimanya. Pak Haji tidak menuntut Karman menyatakan kesetiaan politik tertentu. Ia hanya meminta Karman membangun kubah. Dalam proses itu, Karman belajar bahwa martabat manusia tidak hilang. Martabat itu dapat tumbuh kembali ketika diberi ruang.

Trauma, Ingatan, Relevansi

Membaca Kubah pada masa sekarang membuat pembaca menyadari bahwa trauma nasional dapat berdiam dalam cerita kecil. Karman adalah satu dari banyak manusia yang mengalami nasib serupa. Ia bukan tokoh besar. Ia bukan pemimpin partai. Ia bukan tokoh sejarah. Namun Tohari menjadikannya pusat cerita untuk mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya terjadi pada aktor besar. Sejarah juga terjadi pada manusia yang hidup dalam rumah ugahari, bekerja sebagai pegawai kecil, dan mencintai keluarganya dengan cara yang biasa.

Novel ini mengajak pembaca melihat bahwa dampak tragedi tidak selalu tampak di ruang publik. Ia hadir dalam bisik bisik keluarga. Dalam cerita yang tidak sepenuhnya diceritakan. Dalam rasa kimput yang diwariskan pada generasi selanjutnya. Dalam stigma yang bertahan bahkan setelah hukuman formal dicabut.

Banyak keluarga Indonesia memiliki kisah yang tidak berani diceritakan. Banyak orang tua yang memilih bungkam. Banyak anak yang tumbuh tanpa tahu penuh tentang masa lalu orangtuanya. Dalam konteks ini, Kubah menjadi pengingat bahwa rekonsiliasi bukan hanya urusan hukum. Rekonsiliasi adalah urusan kemanusiaan.

Novel ini tetap relevan karena Indonesia masih berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi masa lalunya. Kubah tidak menawarkan jawaban besar. Novel ini menawarkan cara semenjana. Berbicara. Mendengarkan. Memberi kesempatan. Membangun kubah bersama.

Cermin Bangsa

Pada akhir novel, Karman berdiri sebagai figur yang telah melewati perjalanan panjang. Ia bukan tokoh sempurna. Ia memiliki kelemahan. Ia pernah salah pilih. Ia pernah tersesat. Namun ia berusaha kembali. Ia berusaha pulang. Ia berusaha menerima bahwa hidup harus terus bergerak meski masa lalu tidak bisa hilang begitu saja.

Novel ini menunjukkan bahwa pulang adalah proses panjang. Pulang adalah keberanian untuk melihat diri sendiri. Pulang adalah kesediaan untuk memperbaiki yang pernah tercela. Pulang adalah rasa syukur karena masih ada manusia lain yang mau membuka pintu.

Dalam perjalanan Karman, Tohari seperti menuliskan biografi emosional Indonesia. Negara yang pernah terbelah oleh ideologi. Negara yang pernah melukai warganya. Negara yang masih mencari cara untuk menyembuhkan dirinya. Seperti Karman, bangsa ini sedang belajar menata masa lalunya agar bisa berjalan ke masa depan tanpa dihantui rasa bersalah yang tidak pernah selesai.

Kubah menjadi sumbangan penting bagi ingatan kolektif Indonesia. Ia tidak menyuguhkan amarah. Ia tidak menuduh. Ia tidak memaksa. Ia menawarkan keheningan. Dari keheningan itu, pembaca menemukan sesuatu yang lebih dalam. Pembaca menemukan bahwa setiap manusia, betapapun salahnya, berhak mendapatkan kesempatan untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

Novel ini menunjukkan bahwa rekonsiliasi bukan hanya kata indah. Rekonsiliasi adalah tindakan kecil yang dilakukan dengan hati yang terbuka. Rekonsiliasi adalah ruang untuk percaya kembali.

Karman membangun kubah. Dalam gerak tangannya, Tohari memperlihatkan bahwa bangsa ini dapat membangun dirinya kembali. Tidak dengan melupakan. Tetapi dengan mengingat dan memilih untuk memberi ruang bagi masa depan.

Di sanalah kekuatan novel ini. Ia membuat pembaca merasa bahwa sejarah besar dapat dipahami melalui kisah kecil. Ia membuat pembaca percaya bahwa luka bangsa dapat sembuh ketika manusia mau bersentuhan kembali sebagai sesama manusia.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
logo