Prabowo-Gibran dan Para Pemilih Intelektual

Prabowo-Gibran dan Para Pemilih Intelektual

Oleh Abd. Aziz

Pemilihan presiden dan wakil presiden telah usai. Gegap gempita kemenangan seperti sudah terlihat di depan mata. Meski demikian, patut kita semua tenang dan menahan diri sampai Komisi Pemilihan Umum menetapkan pemenang pilpres. Sembari menunggu ketetapan itu, ada data-data real count, quick count, atau pun exit poll dari lembaga survei yang menarik untuk diamati.  

Litbang Kompas, misalnya, menyatakan para pemilih dari kalangan intelektual atau berpendidikan tinggi cukup memberikan pengaruh pada perolehan suara pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden. Dari data tersebut menyatakan setiap paslon memiliki pemilih dari kalangan ini. Satu yang menjadi perhatian yakni persentase para pemilih dari pendidikan tinggi di kubu paslon nomor 02, Prabowo-Gibran yang mencapai 41,7 persen. 

Dalam beberapa rilis lembaga survei di masa kempanye para pemilih Prabowo-Gibran diprediksi dari kalangan bawah. Mereka yang dianggap “intelektual” diprediksi akan merapat ke pasangan Anies-Muhaimin ataupun ke Ganjar-Mahfud. Namun ternyata persentase para pemilih dari kalangan intelektual yang ada di kubu Prabowo-Gibran cukup tinggi bahkan melebihi dari paslon lain.

Kondisi ini menunjukkan bahwa para akademisi sebenarnya memiliki alasan masing-masing yang cukup rasional dalam menentukan pilihannya. Bukan berarti mereka yang menjatuhkan pilihannya pada Prabowo-Gibran adalah kelompok pinggiran dan tidak tahu diri atau bahkan disebut intelektual “belimbing sayur”. Mereka juga bukan para intelektual pecinta oligarki dan sebutan-sebutan lain yang selalu menanggap para intelektual ini hina.

Tentu pilihan mereka -- para guru besar, para ilmuan yang diam tidak bersikap namun tiba-tiba menjatuhkan pilihannya ke Prabowo-Gibran, sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Hal ini bukan untuk menjilat atau ingin mendapatkan posisi tertentu. Bahkan, bukan soal takut diintimidasi oleh atasan. Sekali lagi, mereka adalah para ilmuan yang telah ditempa banyak masalah dan melahap banyak buku. Jadi, mereka memilih atas dasar rasional yang sangat matang.

Seorang teman yang benar-benar kritis terhadap pemerintahan menjelaskan soal pilihannya pada Prabowo-Gibran. Dia menyatakan jika para ilmuan tidak berdiaspora untuk masuk di semua kubu dikhawatirkan tidak akan muncul sebagai penyeimbang di dalam pusaran kekuasaan. Jika di tubuh kekuasaan hanya terdapat para ilmuan yang bersikap “asal bapak senang” atau para penjilat atasan maka yang terjadi kekuasaan akan tetap diisi oleh orang-orang yang hanya ingin selamat tapi tidak menyatakan kebenaran. Sehingga, dengan berpihaknya para ilmuan atau sarjana ke kubu Prabowo-Gibran menjadi langkah penting agar nantinya bisa memberikan masukan dari dalam.

Seorang kawan lainnya memiliki alasan berbeda tentang pilihannya pada paslon nomor 02 itu. Dia telah membaca tentang visi-misi yang dicanangkan paslon itu. Bagi dia, kondisi Indonesia yang seperti ini memang perlu sosok seperti Prabowo. Dia meyakini Prabowo bukan sosok yang buruk untuk menjadi seorang pemimpin. Termasuk adanya Gibran sebagai sosok anak muda yang sekalipun dia adalah anak Presiden, setidaknya dia tahu situasi batin dan cara merangkul anak muda.

Dari dua orang kawan yang sudah menjelaskan posisinya itu, saya pun memahami arti keberpihakan yang kritis. Para sarjana dan ilmuan berhak untuk berpihak tapi tak lantas membuat mereka lupa untuk bersuara lantang jika kemudaratan ada di depan mata.  

Pemilu 2024 memang banyak menguras tenaga. Mulai dari persiapannya hingga dinamika yang terjadi pada proses kampanye hingga perdebatan di sana-sini. Termasuk lahirnya gerakan dari dunia kampus untuk memberikan respons atas kondisi pemilu dan demokrasi saat ini. Turun gunungnya para ilmuan menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. Namun, kita juga tidak boleh nyinyir pada mereka -- para ilmuan, yang menjatuhkan pilihannya pada Prabowo-Gibran. (*)

Abd. Aziz adalah Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung


Editor: Muhammad Zunus
logo