Adu Taktik Debat ke-4: Pertaruhan Cak Imin, dan Ujian Konsistensi Gibran-Mahfud

Adu Taktik Debat ke-4: Pertaruhan Cak Imin, dan Ujian Konsistensi Gibran-Mahfud

Seperti debat sebelumnya, para kandidat wakil presiden akan saling gebuk dalam mengusung gagasan. Mereka harus tampil cemerlang demi meraup perolehan dukungan dari pemilhnya. Cak Imin harus all out.

Debat digelar lagi. Pada Ahad malam, 21 Januari, giliran para pendamping calon presiden (capres) yang tampil. Abdul Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD akan saling silang pendapat. Mereka beradu kehebatan dalam penguasaan materi tentang energi, sumber daya alam, sumber daya manusia, pajak karbon, lingkungan hidup, agraria, dan masyarakat adat. 

Ibarat turnamen, babak kali ini boleh disebut semifinal sebelum di ronde akhir atau di debat kelima saat para capres kembali akan manggung. Tentu saja debat ini teramat penting. Mereka para cawapres berusaha keras untuk meyakinkan pemilih lewat gagasannya serta saling menguji gagasan kandidat lain. Jika tampil baik, mereka akan mereguk citra positif dan tentu saja meraup dukungan pemilih.

Namun dengan tema debat yang kompleks dengan waktu yang terbatas sulit bagi cawapres mana pun untuk mengurai visi dan misinya. Tema lingkungan sepertinya akan mendominasi debat. Terlebih isu ini menjadi perhatian para kandidat yang bertarung di pilpres 2024 kali ini.

Dari dokumen resmi visi-misinya yang disebarkan kepada publik, masing-masing pasangan calon mencantumkan krisis lingkungan sebagai salah satu prioritas permasalahan yang harus disikapi apabila terpilih menjadi presiden dan wakil presiden.  

Di debat nanti, diskursus mengenai krisis lingkungan harusnya lebih banyak bicara pada tawaran solusi atas krisis lingkungan yang sedang terjadi di dunia saat ini. Masalah ini dekat dengan kehidupan masyarakat. Krisis lingkungan sama dengan persoalan kemiskinan yang dekat dengan hidup keseharian masyarakat. Masyarakat dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, entah itu masyarakat bawah dan menengah ke atas, seluruhnya bisa merasakan dampak dari krisis lingkungan yang terjadi. 

Krisis lingkungan bukanlah isu sektoral yang hanya dialami sebagian orang. Bukti nyata dari hal itu terlihat misalnya dari kasus polusi udara yang terjadi di langit DKI Jakarta beberapa waktu terakhir. Seluruh penduduk Jakarta—baik yang miskin maupun kaya—melihat dan merasakan langsung dampak dari polusi udara tersebut.

Hasil riset Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Unity of Trend (UniTrend) bertajuk “Menuju Transisi Energi: Pesan Rakyat Untuk Presiden Masa Depan” (2023) menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memiliki persepsi bahwa krisis lingkungan adalah hal nyata dan tidak terjadi di daerah tertentu saja, melainkan terjadi di banyak daerah. Hampir semua responden penelitian yang tinggal di pulau Jawa, Sumatera, Papua, Maluku, dan Sulawesi menyatakan bahwa krisis iklim hal yang nyata.

Riset CELIOS ini penting dicermati karena menjadi bukti empirik bahwa krisis lingkungan memang menjadi permasalahan yang dianggap penting oleh masyarakat. Oleh sebab itu, isu ini perlu untuk didiskusikan secara terbuka dalam forum debat. 

Publik berhak tahu bagaimana ide dari para calon pemimpin Indonesia ke depan mengenai krisis lingkungan. Tentu publik tak suka dengan retorika yang cenderung penuh jargon dan glorifikasi tentang pengentasan krisis lingkungan. Seharusnya hal semacam ini tidak lagi banyak dipakai oleh para kandidat. Sebaiknya para cawapres nanti benar-benar bicara solusi nyata sekaligus langkah-langkah taktis dan strategis untuk menyikapi krisis lingkungan.

Potensi Saling Gebuk

Seperti tiga debat sebelumnya, potensi saling gebuk cukup besar untuk terjadi. Dalam isu krisis lingkungan, selain topik tersebut memang kompleks dan perlu disikapi secara serius, isu ini juga berpeluang menjadi bahan bakar saling gebuk untuk seluruh kandidat.

Gibran Rakabuming Raka -- kandidat yang direspresentasikan sebagai petahana, kemungkinan besar akan menjadi target serangan. Misalnya dalam soal tanggung jawab pemerintah selama ini tentang krisis lingkungan, kubu Gibran otomatis akan menjadi sasaran tembak. Tak terkecuali dari Cak Imin – yang kemungkinan akan melancarkan serangan lebih banyak dan lebih tajam dari debat cawapres pertama, termasuk soal krisis lingkungan. 

Cawapres nomor urut tiga, Mahfud MD kemungkinan akan melakukan hal serupa. Di samping menyampaikan program untuk mengatasi krisis lingkungan, Mahfud juga pasti akan melancarkan kritik kepada kubu pemerintah meskipun cara yang dipakai diprediksi tidak sefrontal kubu Cak Imin. 

Lalu bagaimana sikap Gibran? Sudah pasti dia tidak akan tampil seperti Prabowo yang pasif dalam dua debat yang sudah dilakukan. Putra Presiden Joko Widodo ini  punya kemampuan untuk melakukan serangan balik terhadap yang menyerangnya. Debat cawapres Desember lalu menjadi bukti hal itu. 

Dalam debat keempat nanti, untuk isu krisis lingkungan, kubu Gibran punya cukup banyak bekal untuk melayangkan pukulan balik. Untuk menangkis serangan Cak Imin soal lingkungan, dia bisa menyenggol Menteri Lingkungan Hidup yang berasal dari Partai Nasdem -- yang tak lain pendukung koalisi perubahan Anies-Cak Imin. 

Sedangkan kepada Mahfud – yang masih menjadi bagian dari pemerintah, Gibran bisa mengarahkan kritik terhadap pemerintah dengan membelokan serangan pada Mahfud sebagai menteri di kabinet.  

Sebagai simbol dari kepanjangan tangan pemerintah, Gibran punya sumber daya lebih baik dari dua kandidat lain. Dengan itu, dia bisa menangkis sekaligus menyerang balik kandidat lain yang menyerangnya.

Debat keempat nanti sangat mungkin akan tetap diwarnai serangan-serangan secara tajam ke tiap masing-masing calon. Apalagi debat nanti adalah debat terakhir untuk para cawapres. Seluruh cawapres pasti bakal tampil all out untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya kepada masyarakat.

Pertaruhan Cak Imin

Di debat cawapres pertama, Cak Imin bisa dibilang tampil underperform --  seperti tidak siap untuk menghadapi serangan Gibran dan Mahfud. Selain itu, dia juga terkesan tidak menguasai permasalahan ketika mendapat pertanyaan Gibran dan Mahfud. 

Tentu saja di luar luar prediksi banyak kalangan mengingat rekam jejaknya yang telah lama terjun di dunia politik. Pengalaman Cak Imin sama banyaknya dengan Mahfud yang juga merupakan pemain lama dalam dunia politik Indonesia. Namun yang terjadi Cak Imin justru babak belur diserang Gibran dan Mahfud.

Penampilan Cak Imin berbanding terbalik dengan pasangannya Anies Baswedan yang selalu percaya diri dalam tiap debat. Tak pelak, panggung debat cawapres nanti menjadi kesempatan bagi Cak Imin guna menunjukkan kemampuannya. Inilah saatnya Cak Imin membuktikan bahwa ia memang layak menjadi wakil presiden dan pantas berpasangan dengan Anies untuk memimpin Indonesia. 

Debat cawapres nanti adalah akan menjadi pertaruhan Cak Imin. Kalau gagal tampil baik, sentimen negatif -- seperti debat cawapres perdana, bakal makin menguat kepada dirinya.

Konsistensi Gibran dan Mahfud

Gibran dan Mahfud dalam debat cawapres pertama bisa dikatakan menjadi bintang. Keduanya tampil meyakinkan. Gibran yang semula diremehkan justru tampil mengejutkan. Selain berhasil menyampaikan gagasan dengan baik juga mampu menyerang kandidat lain secara terbuka. 

Mahfud yang sejak awal diprediksi akan mampu mendominasi forum memang tampil demikian. Mahfud tampil memukau dengan menjawab pertanyaan jebakan dari Gibran sekaligus menyerang balik lawan-lawannya. Di samping itu, dia pun memiliki kecakapan dalam menyampaikan gagasan.

Sorotan publik tetap akan terarah pada Gibran – dengan segala kontroversi yang mengiringi pencalonannya sebagai cawapres Prabowo. Sedangkan bagi pendukungnya, Gibran ditunggu untuk bisa membuktikan kapasitasnya yang kerap dipandang sebelah mata. 

Sebaliknya bagi lawannya, Gibran tentu saja ditunggu apakah bakal melakukan blunder atau tidak. Sekali Gibran melakukan kesalahan dalam debat, dampak yang dimunculkan akan bisa berkepanjangan. Gibran dituntut untuk bisa tampil maksimal seperti ketika debat cawapres pertama agar hal-hal semacam itu tidak terjadi.

Untuk Mahfud, penampilannya akan disorot, apakah bisa sebagus seperti debat pertama. Tak ada jalan lain baginya untuk all out untuk meyakinkan publik guna memilihnya. 

Pasalnya, tren suara Ganjar Pranowo-Mahfud mengalami penurunan. Survei Indikator Politik, pada 18 Januari 2024, menempatkan pasangan ini sebagai juru kunci. Padahal dalam survei pada Desember lalu, mereka masih berada di posisi dua berada di bawah Prabowo-Gibran dengan 45,79% dan Anies-Cak Imin 25,47%.  Hal ini menjadi alarm bahaya untuk kubu Ganjar-Mahfud. 

Untuk bisa bertarung di putarang kedua, tim Ganjar-Mahfud perlu kerja keras menaikkan kembali elektabilitasnya. Forum debat cawapres nanti, bisa menjadi arena Mahfud memperbaiki citra dan penampilan publiknya guna mengkatrol perolehan suara.  

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor: Muhammad Zunus
logo