Ritus Mudik, Perayaan Lebaran, dan Jangkar Identitas

Ritus Mudik, Perayaan Lebaran, dan Jangkar Identitas

Lebaran tak lain adalah musim pulang. Ia datang semisal ritus purba yang tak lekang waktu, menggerakkan jutaan manusia dalam arus deras menuju kampung halaman.

Jauh-jauh hari, sebagian besar kita telah menggadang rencana mudik, berburu tiket, mempersiapkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman, baju lebaran. Di peron stasiun yang riuh, di bandara, dan pelabuhan yang penuh sesak, di jalanan yang tersendat antrean panjang kendaraan, mudik akhirnya menjadi pemandangan kolosal yang menyatukan kerinduan romantisme masa lalu. Mudik dengan segala kenangannya adalah bagian usaha untuk membangkitkan kembali dimana identitas pertama kali tertanam.

Selain perjalanan fisik yang menghantarkan tubuh kembali ke tempat asal, mudik juga dapat dimaknai perjalanan batin melintasi lorong waktu, menghubungkan yang kini dengan yang lalu. Jika kita lihat lebih dalam, mudik tidak hanya menyuguhkan kegembiraan belaka, pada sebagian mereka juga tersirat kegelisahan yang tak terucap. Bagi sebagian, mudik adalah arena untuk merayakan kegembiraan dan kemenangan atas penaklukan kerasnya tanah rantau, bagi sebagian yang lain yang tidak atau belum berhasil sering dihantui bahwa hidup di tanah rantau menyisakan penegasan atas perbedaan harapan dan nasib yang diterima. 

Mudik sebagai arena identitas sosial

Ritus mudik tidak lagi sebatas hanya mempersiapkan tiket, koper, dan seabreg oleh-oleh untuk disuguhkan di kampung halaman, tetapi juga menenteng identitas yang selama ini dibangun di tanah rantau. Identitas ini juga berkelindan dengan harapan, ekspektasi, dan ingatan kolektif dengan kampung halaman. Menyitir pandangan John Turner, identitas sosial terbentuk melalui dinamika kelompok, dimana selain bertaut dengan karakteristik pribadi juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial yang lebih luas (Turner & Tajfel, 1986).

Dalam konteks mudik, perantau adalah sebuah simbol dari impian yang pernah dititipkan keluarga maupun komunitasnya. Sejak memutuskan melangkahkan kaki untuk merantau, harapan telah disandarkan di pundaknya. Merantau berarti suatu saat akan kembali sebagai orang telah “jadi”, bukan hanya orang yang kembali tanpa perubahan. Faktanya sering kali saat mudik, kita dihadapkan pada ruang ekspektasi yang melampaui dengan “memaksa” kita untuk menunjukkan keberhasilan yang dapat diindera dan pada gilirannya diakui keberhasilannya ketika hidup di perantauan. 

Kristalisasi ekspektasi sosial pada keberhasilan perantau sering kali mewujud pada pertanyaan-pertanyaan saat bertemu di kampung halaman, misalnya saja “Pulang bawa mobil sendiri?”. Meski pertanyaan ini terdengar ringan, sejatinya di dalamnya menyiratkan mekanisme perbandingan sosial yang sulit dihindari. Para perantau secara langsung dikomparasikan dengan mereka yang tetap tinggal di kampung halaman atau juga dengan perantau lainnya yang mungkin lebih berhasil. Mudik pada akhirnya juga menjadi arena pengukuhan posisi sosial bagi mereka yang berhasil. Di lain sisi, bagi mereka yang masih berjuang atau belum menapaki tangga keberhasilan, mudik menjadi bagian beban tersendiri. 

Kampung halaman sering kali memandang bahwa perantau harus kembali dengan keberhasilan dalam berbagai purwarupa. Kendaraan dan gadget keluaran terbaru, pekerjaan mapan atau simbol-simbol lain yang dapat diinderawi menjadi salah satu parameternya. 

Pada aspek lainnya, mudik juga bisa dimaknai sebagai ruang negoisasi identitas. Seseorang yang telah merantau di perkotaan selama bertahun-tahun pasti akan mengalami internalisasi budaya kota dengan derajat yang berbeda, entah itu pada gaya hidup, cara berpikir sampai pada sikap yang lebih individualistis. Perantau tipe seperti ini akan mengalami keterjebakan pada dua kutub. Di kota mungkin mereka dipandang sebagai orang kampung dan di kampung halaman dipandang sebagai identitas baru dengan nilai-nilai urban.

Kota sebagai panggung harapan

Dalam kesadaran kolektif, sampai saat ini bagi sebagian besar masyarakat, kota masih menjadi panggung harapan. Meskipun kita ketahui bahwa derajat disparitas kesejahteraan yang tinggi antara si miskin dengan si kaya justru terjadi di sini. Sengitnya persaingan dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi dan juga tuntutan hidup yang terus menggilas waktu membuat banyak perantau seolah tercerabut dari akar mereka sendiri. Dengan ikatan sosial yang tak sehangat di kampung halaman, mereka dipaksa untuk berjuang dan bertahan di tengah hutan beton perkotaan. 

Bagi sebagian perantau yang melakukan permenungan dapat menemukan jawaban bahwa kembali ke kampung halaman bukan berarti kegagalan. Kebahagiaan dan kesejahteraan tidak hanya milik kota semata. Kampung halaman dinilai sebagai lokus yang sesuai denga pola kehidupan yang mereka jalani. Maka beberapa tahun belakangan ini, tak jarang kita disuguhi dengan fenomena kehidupan slow living yang menjunjung keseimbangan hidup. Bagi sebagian perantau akhirnya menyadari bawah kampung halaman adalah tempat yang dapat mereka bangun untuk mimpi-mimpi yang selama ini ada. 

Makna sejati pulang

Di tengah euforia mudik yang terjadi tiap tahun ke kampung halaman, terselip pertanyaan mendasar tentang siapa kita dan sejauh mana perjalanan hidup telah mengubah kita. Kampung halaman yang dahulu akrab, tiba-tiba saja terasa semakin asing. Maka perjalanan mudik pun menjadi ruang sosial yang kompleks, para perantau harus bernegoisasi antara harapan orang lain dan realitas yang mereka alami. Perjalanan pulang kampung yang semula dianggap perayaan kebahagiaan nyatanya juga dapat menjadi panggung permenungan, bahwa kepulangan tidak selalu berarti menemukan tempat yang sama seperti kala ia meninggalkan kampung halamannya dahulu. 

Sebagai penutup, jika selama ini mudik kerap dimaknai sebagai ajang pembuktian atau bahkan penghakiman sosial, maka nampaknya memang perlu dimaknai ulang. Pulang mudik tidak seharusnya menjadi beban bagi merka yang merasa belum berhasil, lebih dari itu juga harus menjadi ruang rekonsiliasi dengan diri sendiri dan kampung halaman. Identitas perantau seharusnya tidak terjebak lagi pada standar kesuksesan yang sempit, tapi pemaknaannya harus diperluas lagi pada nilai-nilai kehidupan. Mudik adalah perjalanan batin untuk menerima diri sendiri dengan segala pencapaian dan keterbatasannya. Sebab, rumah dari sekadar tempat fisik belaka, rumah adalah ruang seseorang diterima tanpa syarat tanpa harus menunjukkan pembuktian apapun. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Nurun Najib
Dosen Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan Peneliti The Reform Initiatives


Editor: Muhammad Zunus
logo