Renungan Ramadan: Tuhan dan Manusia Pendosa

Renungan Ramadan: Tuhan dan Manusia Pendosa

Tak ada yang bisa menjamin hidup akan selalu baik-baik saja. Seperti cuaca, hujan tidak akan selalu turun, juga panas tidak selalu gagah. Ada situasi ketika keduanya saling bertukar. Sama halnya dengan hidup manusia. Dunia tidak menyediakan keabadian. Senang-sedih, baik-buruk, pahala-dosa, patuh-ingkar. Kehidupan selalu berputar.

Di tengah ketidakpastian itu, apa yang bisa dikatakan pasti? Tidak ada, selain memberi makna pada hidup itu sendiri. Jalan untuk memberi makna pada hidup bercabang; ada yang memilih untuk menjadi pendekar bagi dirinya sendiri, dan ada yang memilih untuk mencari sandaran atau pegangan di luar dirinya.

Jean-Paul Sartre, filsuf asal Prancis, memilih jalan kemerdekaan bagi hidupnya. Melalui gagasan eksistensialisme, ia meyakini bahwa manusia adalah individu yang bebas untuk dapat mendefinisikan dirinya sendiri. Manusia memegang tanggung jawab atas diri dan masa depannya. Sartre menolak pandangan tentang keberadaan Tuhan atau kekuatan metafisis lainnya. Ia meyakini bahwa takdir manusia ada di tangan masing-masing.

Lain hal di kawasan Timur, pandangan soal kehidupan manusia berbeda dengan Barat. Takdir tidak sepenuhnya ada di tangan manusia. Masyarakat Timur meyakini ada dimensi Adikodrati yang turut serta dalam proses berjalannya kehidupan, dalam hal ini biasa disebut Tuhan. Segala hal tidak luput dari ‘pandangan’ dan ‘kehendak-Nya.’

Kita bebas memilih untuk berkiblat pada jenis kehidupan seperti apa. Namun, kali ini kita coba mengulik dari sisi orang-orang yang memiliki keyakinan pada Tuhan. Pemeluk agama Islam meyakini Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Sang Pencipta dan sebaik-baiknya tempat berpulang.

Dalam Qs. Az-Zumar: 53, Allah berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ۝٥٣

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Frezzi Ramadhan Syah melalui penelitiannya bertajuk Besarnya Rahmat Allah Swt Dalam Q.S. Az-Zumar (39):53 menuliskan kandungan dalam Surat Az-Zumar yang disarikan dari berbagai tafsiran para ulama. Ia mendapati kesimpulan bahwa ayat ini mengandung penjelasan betapa besar rahmat Allah yang membuka permohonan maaf kepada seluruh makhluk yang ingin bertobat. Tak peduli sebanyak apa pun kesalahan yang telah dilakukan, Allah membukakan pintu ampunan bagi siapa saja yang mendekat kepada-Nya.

Salah satu syair Rumi, sufi asal Persia mengingatkan kita pada luasnya kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya:

Jika engkau belum mampu berdoa, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan, karena Tuhan dalam rahmat-Nya tetap menerima uang palsumu.

Syair itu mengingatkan kita pada sebuah kisah dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali yang dituliskan ulang oleh Ahmad Fathoni dalam NU Online (21/12/2023). Cerita memuat besarnya rahmat dan ampunan Allah bagi setiap hamba-Nya:

Suatu hari, jenazah seorang pria Basrah yang terkenal jahat tidak mendapat pengantar ke pemakaman, bahkan istrinya harus membayar orang untuk memikul jenazahnya. Namun, seorang ahli ibadah turun gunung dan menshalatinya setelah mendapat wahyu dalam mimpi bahwa Allah telah mengampuni pria tersebut.

Penduduk desa bertanya-tanya mengapa pria itu diampuni, hingga sang ahli ibadah meminta istrinya mengingat kebaikan suaminya. Diketahui, pria itu memiliki tiga amal mulia: ikut shalat Subuh berjamaah meski sering mabuk, menyayangi anak yatim melebihi anak sendiri, dan pernah menangis memohon ampunan Allah di tengah malam.

Amalan sederhana tapi tulus itulah yang menjadi pintu ampunan Allah. Tuhan menilai ketulusan dan keistiqamahan, bukan sekadar jumlah amal.

Antony de Mello, seorang Imam Yesuit, juga menuliskan sebuah cerita yang menggambarkan kasih sayang Tuhan. Cerita tersebut memuat pesan yang amat dalam, menyisakan ingatan pada setiap pembaca. Kisah itu mengandung keimanan dan kesadaran untuk kembali mengingat Tuhan:

Aku sudah lama mudah naik darah. Aku serba khawatir, mudah tersinggung, dan egois sekali. Setiap orang mengatakan bahwa aku harus berubah. Dan setiap orang terus-menerus menekankan, betapa mudah aku menjadi marah.

Aku sakit hati terhadap mereka, biarpun sebetulnya aku menyetujui nasihat mereka. Aku memang ingin berubah, tetapi aku tidak berdaya untuk berubah, betapapun aku telah berusaha. 

Aku merasa paling tersinggung ketika sahabat karibku juga mengatakan bahwa aku mudah naik pitam. Ia juga terus-menerus mendesak supaya aku berubah. Aku mengakui bahwa ia benar, meskipun aku tidak bisa membencinya. Aku merasa sama sekali tidak berdaya dan terpasung. 

Namun, pada suatu hari, ia berkata kepadaku: “Jangan berubah! Tetaplah seperti itu saja. Sungguh, tidak jadi soal, apakah engkau berubah atau tidak. Aku mencintaimu sebagaimana kau ada. Aku tidak bisa tidak mencintaimu.” 

Kata-kata itu bersembunyi merdu dalam telingaku: “Jangan berubah. Jangan berubah. Jangan berubah… Aku mencintaimu.” Dan aku menjadi tenang. Aku mulai bergairah. Dan, oh, sungguh mengherankan, aku berubah! 

Sekarang aku tahu, bahwa aku tidak dapat benar-benar berubah, sebelum aku menemukan orang yang tetap akan mencintaiku, entah aku berubah atau tidak. 

Engkau mencintaiku seperti itu, Tuhan?


Editor: Kendi Setiawan
logo