Kawah Candradimuka
Bergubung dengan Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (éLSAD) adalah mimpi saya. Dengan begitu, saya merasa akan secara otomatis menjadi bagian dari ekosistem pemikiran anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU). Betapa beken-nya menggunakan identitas tersebut bagi anak bawang seperti saya, yang baru saja lulus kuliah, di tahun 2001 akhir.
Pikiran saya sederhana saja, melalui éLSAD saya pasti akan bertemu juga dengan para intelektual muda yang memiliki reputasi nasional seperti yang saya idolakan. Bayangkan saja misalnya, sebelum wacana civil society marak diperbincangkan publik, salah satunya karena dilecut oleh terbitnya karya disertasi “Demokrasi dan Civil Society” (1996) Muhammad AS Hikam, bahkan yang bersangkutan telah terlebih dahulu menggeber wacana tersebut melalui circle Forum Cindekia Muda (FCM) yang dirintis oleh éLSAD.
Sebagai doktor muda jebolan Amerika yang sedang membara, tentu Mas Hikam sendiri butuh lebih banyak panggung yang melejitkan gagasannya. Ini gayung bersambut saja dengan para pengelola jurnal Gerbang yang juga sedang butuh asupan pengetahuan baru. Di bagian ini, saya hanya ingin menggambarkan betapa mudahnya akses untuk bertemu dan menggali pikiran dari para intelektual bereputasi saat itu, secara langsung, melalui sarana jurnal Gerbang.
Pendek kata, pada awalnya, bagi saya éLSAD dan jurnal Gerbang adalah ‘kawah candradimuka’ yang bakal mencanggihkan kapasitas intelektual saya. Bila tidak menceburkan diri di dalamnya, saya pasti tidak mengetahui detail, seluk-beluk, dinamika intenal organisasi tersebut, sekaligus dinamika pergolakan intelektual anak-anak muda NU saat itu.
Orientasi Kognitif Petani
Jangan pernah disangka, upaya meningkatkan martabat dan harga diri dengan cara menjadi intelektual, adalah jalan yang lempeng dan baik-baik saja bagi mayoritas anak-anak muda NU. Bisa dikatakan, secara genetik mereka adalah anak-anak para petani di desa. Bertumbuh di lingkungan pesantren, dan hanya mengenyam pendidikan tradisional, mereka sesungguhnya tidak dibekali imajinasi apapun untuk bisa ‘naik kelas’.
Satu-satunya faktor yang membuka jalan mereka ke pendidikan tinggi—dan itu pun mentok hanya ditempuh di IAIN atau sejenisnya—adalah perubahan orientasi kognitif para petani akibat kebijakan resmi yang diambil oleh PBNU sejak dipimpin oleh Gus Dur. Ihwal ini saya simak dari penuturan Marzuki Wahid dalam suatu diskusi. Mas Jacky—begitu panggilan akrabnya, mengisahkan bahwa tidak lama sesudah Muktamar Situbondo 1984, Gus Dur memang bertekad untuk mengubah total wajah NU dari jam’iyah tradisional, menjadi organisasi modern yang bisa berkontribusi besar bagi isu kebangsaan dan keindonesiaan.
Secara keorganisasian, cita-cita itu diwujudkan dengan menciptakan lapisan intelektual di dalam tubuh NU. Itulah cita-cita yang mendasari lahirnya Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) di tubuh NU. Meski begitu, stok intelektual yang mampu berkiprah pada periode awal ini sangatlah terbatas, dan satu-satunya cara melipatgandakan angkatan cadangan adalah dengan mengubah orientasi kognitif petani, serta mengubah mobilitas ekonomi petani untuk menyekolahkan anak-anak mereka di IAIN atau perguruan tinggi sejenis.
Itulah yang menjelaskan mengapa di awal tahun 1990-an, lahirnya para intelektual muda NU itu umumnya berbasis di IAIN. Tentu ini bukan rumus baku. Ada juga anak-anak petani NU yang berhasil dikirim ke Perguruan Tinggi Umum, bahkan ke luar negeri seperti Mesir dan wilayah Timur Tengah, akan tetapi jumlah mereka relatif bisa dihitung dengan jari dibandingkan dengan yang jebolan IAIN.
Sekali lagi, mereka adalah anak-anak ideologis Gus Dur. Menginjakan kaki di perguruan tinggi dengan stigma sebagai ‘kaum sarungan,’ dan disituasikan berhadap-hadapan dengan kalangan intelektual modernis Islam yang sedang mapan-mapannya, salah satunya karena kebijakan resmi pemerintahan Soeharto yang memfavoritkan gerbong cendekiawan modernis. Favoritisme itu salah satunya diwujudkan melalui dukungan total pemerintahan Soeharto terhadap Ikatan Cendekiawan Muslim Indonenesia (ICMI).
Saya kira, tidak sulit bagi kita semua untuk membayangkan beban kesejarahan yang harus dipikul oleh anak-anak muda NU itu. Di hadapan kalangan modernis, bahkan sesudah menjadi sarjana atau intelektual sekalipun, mereka tetap dipandang sebagi kaum sarungan.
Potongan kisah ini saya simak dari Ahmad Zainul Hamid, suatu saat menceritakan pengalaman karibnya, dalam pergaulannya dengan dosen-dosen senior di IAIN Ciputat yang rata-rata adalah intelektual modernis yang mapan. Mas Inung—begitu ia akrab dipanggil, mengisahkan karibnya ini yang sedang memulai karier sebagai dosen muda, dan reputasinya telah diakui karena karya-karyanya.
Suatu siang, di jam mengajar yang rutin, sang karib itu sedang melintas di depan kantor Pak Azyumardi Azra, Allahu yarham. Dan tiba-tiba Pak Azra memanggilnya untuk diperkenalkan kepada koleganya di dalam kantor tersebut. Tentu saja ini suatu kehormatan bagi sang karib, karena siapa yang tidak mengenal reputasi beliau sebagai ilmuwan. Masalahnya hanyalah, cara sang karib diperkenalkasn juga terasa istimewa, “perkenalkan ini dosen muda, anak NU, tapi cerdas kok.”
Siapa pun yang belajar analisis wacana bakal memahami bahwa, wacana di atas bernada eksklusi. Seolah-olah semua anak muda NU adalah kolot dan terbelakang, dan bila ada yang cerdas, itu hanyalah suatu pengecualian. Di hadapan mental-kognitif seperti ini, sangat bisa dipahami bila pada akhirnya sebagian besar anak-anak muda itu bertumbuh karena dilecut oleh semangat pembuktian diri, sebagiannya juga karena kemarahan.
Marah karena identitas dan akar kesejarahan mereka dijadikan sabagai faktor yang tidak memberi kemungkinan bagi mereka, untuk bisa berdiri secara setara sebagai seorang intelektual.
Hantam Krama
Beban kesejarahan yang berbalut dengan semangat pembuktian diri dan ‘kemarahan’ itulah yang memantik semangat berkobar anak-anak muda NU. Semua energi intelektual yang mereka miliki, seolah-olah hendak dikerahkan untuk mengatasi berbagai ketebatasan. Harus tetap diingat, mereka ini pada dasarnya adalah santri yang hanya ‘alim dalam tradisi keilmuan Islam klasik.
Sementara itu, untuk mendapat rekognisi sebagai intelektual yang ‘setara’ dengan kalangan modernis, mereka mau tidak mau harus masuk di gelanggang baru. Mereka dituntut mampu menyerap semua neraca pemikiran Barat kontemporer yang bukan hanya asing, tetapi juga ditabukan di lingkungan pesantren.
Ini baru soal etika tradisional, belum lagi menghitung soal modalitas. Untuk bisa berkenalan dengan khazanah pemikiran kontemporer, pastilah dibutuhkan modalitas yang cukup untuk bisa mengakses literatur sumber, dan semua memahami pada masa itu sumber-sumber elektronik belum tersedia. Jangan lupa juga urusan bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang pasti dibutuhkan ketika mengakses literatur sumber, dan kemampuan ini, sudah pasti tidak diajarkan dengan baik di pesantren-pesantren tradisional.
Begitu terjalnya jalan yang harus dilalui oleh anak-anak muda itu, untuk sekadar mendapatkan rekognisi sebagai intelektual. Dalam situasi seperti ini, tidak ada cara lebih mudah yang bisa ditempuh kecuali cara hantam krama: apa saja halal untuk kepentingan belajar. Inilah yang menjelaskan mengapa dalam perjalanannya, kisah pembuktian diri seperti dialami oleh rata-rata anak-anak muda itu, tidak lagi melulu soal glorifikasi pergumulan intelektual, tetapi justru siasat mengatasi keterbatasan dengan cara-cara satir dan konyol.
Kisah satir yang mudah diceritakan kembali adalah, kisah karib saya di éLSAD, namanya Aminoto Sa’dullah, anak kiai dari Senori Tuban, yang dicetak oleh bapaknya untuk menjadi kiai. Pendidikan satu-satunya adalah Madrasah Aliyah. Meski menguasa khazanah klasik Islam dengan sangat meyakinkan, ia tidak sedikitpun memiliki neraca teori sosial dan apalagi pemikiran kontemporer. Takdirlah yang membawanya sampai di Forum Cendekia Muda (FCM) dan bergabung dengan éLSAD.
Di forum itu, untuk pertama kalinya dia mendengar istilah-istilah ilmiah populer yang membuatnya temangu-mangu, dan butuh memeras kepala untuk sekadar bisa menghafalnya. Ketika pertama kali mendengar istilah ‘apologi,’ ia menyangka bahwa itu merupakan bentukan dari kata apollo dan logos, sehingga ia tafsirkan sendiri sebagai ‘ilmu tentang apollo.’ Begitu pula saat pertama kali mendengar narasi ‘bunuh diri kelas,’ ia kembali terheran-heran karena menyangka, ‘se-isi kelas didorong untuk bunuh diri.’’
Bayangkan, berapa jarak tempuh dan waktu yang dia butuhkan untuk sekadar menguasai teori-teori sosial dasar, sehingga mampu ia didialektikakan dengan khazanah klasik Islam yang sudah ia kuasai. Tentu saja, ini hanyalah satu kasus untuk menggambarkan betapa terjalnya jalan yang harus dilalui oleh anak-anak muda NU untuk sekadar bisa memanggul identitas sebagai intelektual. Dan sekali lagi, cara hantam krama itulah jalan terbaiknya.
Faktanya, hanya dalam hitungan satu-dua tahun saja, melalui proses belajar yang tanpa henti—termasuk bertanya hal-hal dasar tanpa malu, telah memungkinkan Mas Aminoto membuktikan dirinya sebagai satu-satunya orang berlatar belakang pesantren murni yang menulis di jurnal Gerbang dan publikasi lainnya, sehingga memukau para intelektual lain, bahkan sekelas Zuhairi Misrawi dan Mas Mun’im DZ. Tulisannya di Gerbang berjudul “Masailnya Bahtsul Masail” dan “Al-Ibriz yang Tidak Digubris” merupakan salah satu yang paling legendaris, dan diingat orang hingga saat ini.
Kisah satir dan konyol itu masih terlalu banyak, sehingga bisa menjadi dongeng yang panjang. [] Bersambung
Akhol Firdaus
Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung
Editor: Muhammad Zunus
