Kenangan: Ramadhan dan Bacaan

Kenangan: Ramadhan dan Bacaan

Pada suatu masa, orang-orang mendengarkan radio. Mereka mengikuti siaran pengajian oleh sekian ulama kondang. Telinga untuk radio berharapan dalam kehendak meningkatkan iman dan takwa. Mereka pun mendapat hiburan dan berita-berita. Babak paling seru tentu detik-detik menjelang azan maghrib. Mereka dalam adegan menjelang berbuka puasa. Dulu, radio itu benda penting bagi orang-orang berpuasa, sebelum terbujuk televisi dan media sosial.

Ramadhan pun mengingatkan bacaan. Sekian orang berpuasa memerlukan belajar agama dan pelbagai hal. Mereka menikmati bacaan berupa koran, tabloid, majalah, dan buku. Berpuasa dan menjadi pembaca memberi derajat terhormat. Pilihan membaca itu perwujudan mencari ilmu. Mereka insaf peristiwa membaca memerlukan kekuatan, sabar, telaten, kepekaan, dan lain-lain. Lelah dan bingung kadang melanda pembaca. Kebiasaan membaca berlatar Ramadhan mengukuhkan makna keberimanan.

Kita sejenak mengenang saat silam: orang-orang mendengarkan radio dan menikmati bacaan. Di keseharian, mereka tampak tenang. Takdir ketergesaan gara-gara gawai jauh dari irama hidup setiap hari. Kita tampak berpihak masa lalu meski dapat terbantah. Pada abad XXI, radio dan bacaan masih ada tapi pudar pesona atau surut di zaman cepat-tergesa.

Masa lalu belum semua sirna dalam ingatan. Kita mengenang melalui majalah Gatra, 20 Desember 1997. Tulisan berjudul Ramadhan Tiba Buku pun Laku agak memicu rindu. Sekian pengelola penerbitan buku memahami bulan Ramadhan itu bulan laris buku bertema agama. Mereka membuktikan umat Islam memang keranjingan bacaan saat Ramadhan. Dulu, bulan suci berarti bulan literasi. Kutipan: "Larisnya buku-buku agama di bulan Ramadhan tak hanya terfokus pada toko-toko besar, toko kecil sampai pedagang emperan pun menikmati berkahnya bulan puasa.” 

Masa itu berlalu. Kini, Ramadhan dan buku sulit berlaku. Sekian toko buku di pelbagai kota masih sepi. Buku-buku sulit laris. Para pedagang buku baru atau bekas di media sosial mengerti situasi lesu. Ramadhan tak lagi keranjingan bacaan. Kita mengartikan itu bacaan cetak. Mereka sudah merasa memadai dengan tangan-tangan bergawai. Di hadapan mata, mereka mendapat beragam hal. Bacaan tersaji tapi makin sulit memikat.

Ramadhan itu bacaan terkandung dalam biografi Dawam Rahardjo. Intelektual dan penggubah sastra itu memiliki masa lalu menggirangkan dengan bacaan. Kita simak pengakuan Dawam Rahardjo saat remaja: "Di bulan Ramadhan, semua sekolah diliburkan. Karena itulah, saya sering pergi ke rumah nenek di Desa Tempur Sari, Klaten. Di sana, saya menyempatkan diri membaca buku dan majalah. Setiap hari, saya membawa buku-buku dan majalah-majalah, dan saya membacanya di pendopo rumah nenek. Sambil membaca buku, saya duduk di kursi goyang kakek saya, dan di situlah sebetulnya saya belajar agama, termasuk belajar filsafat dan lain sebagainya.”

Pada saat dewasa, ia memang tenar sebagai pemikir besar. Ia berkecimpung di pemikiran agama, filsafat, ilmu-ilmu sosial, dan sastra. Nama itu mengingatkan pengabdian intelektual menghampiri publik berupa jurnal Prisma dan Ulumul Quran. Ia rajin menulis artikel di beragam koran dan majalah. Buku-buku pun terbit sebagai lanjutan dari keranjingan dan kegirangan membaca bertumbuh sejak kecil.

Ramadhan dan bacaan pun termuat dalam kenangan Sinta Nuriyah Wahid. Ia mengenang masa remaja: “Ketika sudah di pesantren, pada bulan Ramadhan, kami mempunyai tradisi pindah-pindah pesantren. Sebenarnya saya adalah santri di Pesantren Tambak Beras. Kemudian pada bulan Ramadhan, ketika sedang libur, untuk mengisi waktu luang saya mondok di Cukir. Ramadhan berikutnya, saya mondok di pesantren yang lain. Kenapa harus pindah-pindah? Karena ada beberapa kitab di sebuah pesantren yang tidak diajarkan di pesantren lain. Katakanlah, misalnya di pesantren saya, untuk persoalan puasa, kitab yang dipelajari adalah Fath al-Qarif, sementara di pesantren lain yang dipelajari adalah Fath al-Mu’in. Sehari-hari kegiatannya adalah ngaji, dari pagi sampai sore.”

Dua sosok kondang itu pembaca dan penikmat beragam bacaan. Mereka membekali diri sejak remaja. Ramadhan demi Ramadhan berdatangan, pengetahuan dan pengalaman mereka meningkat. Mereka mengerti Ramadhan itu hikmah atau pengetahuan untuk ditekuni setiap hari. Ramadhan bukan sia-sia ketagihan hiburan-hiburan picisan.

Masa lalu mengingatkan buku atau kitab. Kita mungkin pernah mengalami Ramadhan itu bacaan, sebelum acara-acara televisi mengajak tertawa, menangis, dan cemberut. Di depan televisi, orang-orang merasa waktu bisa bergerak cepat dan mereka terpuaskan hiburan-hiburan. Di televisi, ada sekian acara keagamaan tapi sesak iklan-iklan. Pada situasi berbeda, Ramadhan tak lagi bacaan atau televisi tapi kesibukan bergawai di putaran waktu cepat.

Kita masih ingin mengingat kesilaman tokoh bernama Husein Muhammad. Ia bertumbuh di pesantren, memiliki babak-babak Ramadhan dengan bacaan. Husein Muhammad mengisahkan: "Biasanya, saya mendapat bagian mengajar kitab setelah shalat tarawih. Kitab-kitab yang saya ajarkan adalah kitab-kitab baru yang menyuguhkan pemikiran berbeda dari kitab-kitab yang diajarkan di pesantren pada umumnya. Dulu, sebelum ke Mesir, saya sudah akrab dengan kitab-kitab ushul fiqih, fiqih, tasawuf, dan teologi." Kita mencatat ingatan-ingatan kitab dan peristiwa selama Ramadhan. Pada masa berbeda, kita justru mengenang Ramadhan dengan ceramah-ceramah membosankan atau pengajian-pengajian memberi tema-tema mengantar tidur. 

Berita di majalah Gatra memang menguak rindu buku. Pengisahan dari tokoh-tokoh termuat dalam buku berjudul Kembali ke Jati Diri (Mizan, 2013) membuat kita iri. Ramadhan itu bacaan mengesankan keseruan dalam pergumulan iman, pergolakan pemikiran, dan pembentukan umat keaksaraan. Ramadhan menjadi bulan istimewa tak sekadar puasa, tarawih, atau tadarus. Kebersamaan dengan beragam buku dan kitab memberi penguatan ikhtiar menjadi hamba bermartabat, bukan hamba kecanduan hiburan dan pengidap kemalasan. Begitu. 
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
logo