Ratusan bocah laki-laki ditempatkan di sebuah asrama khusus bernama Fond de I’Etang, Prancis. Tempat itu dijadikan ‘pembuangan akhir’ oleh orang tua yang tak mampu mengendalikan kenakalan anak-anaknya. Kepala sekolah dan para pengajar sepakat menerapkan pendidikan militeristik yang serba patuh, kaku, dan keras. Teriakan dan pukulan atas nama disiplin diimani sebagai model pendidikan yang terbaik untuk anak-anak.
Konon, strategi itu dipercaya ampuh membuat anak lekas bertobat dari kenakalan. Terbukti, di hadapan kepala sekolah mereka diam dan patuh.
Namun, pertobatan itu sesungguhnya hanya isapan jempol. Di hati anak-anak tetap bersemayang kenakalan, malahan lebih berkobar-kobar. Tindakan represif dan penekanan yang dilakukan sekolah justru menjadi bahan bakar bagi mereka untuk menyimpan dendam.
Dalam situasi tersebut, datang seorang laki-laki bernama Clément Mathieu. Ia seorang mantan musisi yang memilih karir sebagai guru pengganti di Fond de I’Etang. Kedatangan Mathieu di awal sempat membuat kegaduhan dan rasa frustasi, namun akhirnya menjadi penerang bagi anak-anak.
Mathieu memilih pendekatan yang berbeda ketika mengajar. Alih-alih menyetujui pendidikan yang keras dan represif, ia justru berupaya melakukan pendekatan secara persuasif sembari melihat potensi tersembunyi di dalam diri anak-anak. Dengan penuh kesabaran, Mathieu membentuk paduan suara (chorus) dan mulai mengajarkan anak-anak bernyanyi. Keputusan itu menguraikan sengkarut kenakalan dalam diri anak.
Lewat sentuhan musik, anak-anak mulai mengalami perubahan dan perbaikan karakter. Mereka menjadi lebih disiplin, bersemangat, dan mengalihkan jutaan kenakalan pada karya. Tak terlihat lagi bibit-bibit kriminal dan kekerasan. Anak-anak merasa memiliki wadah untuk mengalihkan energi dalam dirinya.
Kisah itu tertuang dalam sinema Les Choristes (Christophe Barratier, 2004). Film asal Prancis ini memberi sengatan pada orang dewasa dalam memandang kenakalan anak. Tokoh Mathieu tampil sebagai antitesis dari ‘pendidikan keras’ yang selama ini diyakini banyak orang sebagai penyelesaian dari kenakalan anak.
Dadu Pendidikan
Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, baru saja meluncurkan kebijakan pengiriman anak nakal ke barak militer. Program itu sudah mulai berjalan. Tampilannya bertebaran di media sosial. Sorotan kamera mengarah ke personel militer, orang tua, dan mobil yang membawa anak-anak. Hasil sorotan dilengkapi latar musik yang mendukung citra ‘dramatis’ layaknya wajib militer yang ada di film-film Korea. Banyak warganet mengapresiasi tindakan sang gubernur karena dinilai tegas, bijak, dan responsif.
Apakah pengiriman anak-anak ‘nakal’ ke barak militer adalah sebuah langkah yang tepat? Apakah dididik oleh personel militer adalah hal yang dibutuhkan oleh anak-anak? Kita tak coba menjawab dengan pasti, hanya bisa bertanya dan menerka. Jawaban atas pertanyaan itu tentu dimiliki KDM selaku inisiator dalam program ini.
Mungkin KDM memiliki basis data atau riset yang mendukung keputusannya meski tak kunjung ditunjukkan ke publik. Kita menunggu landasan kajian lekas diterbitkan, sebab tak mau berprasangka kebijakan itu tak ubahnya seperti dadu yang asal kocok dan dilempar begitu saja tanpa dasar yang jelas.
Menggandeng pihak militer dalam dunia pendidikan sebenarnya debatable. Untuk mencapai indikator fisik sepertinya masih make sense tapi jika berkaitan dengan jiwa dan pikiran anak, kita perlu meragukan. Layaknya film Les Choristes (2004) asal Prancis dan Taare Zameen Par (2007), kadang-kadang kenakalan anak tak bisa dilihat dengan kacamata orang dewasa dibutuhkan pemahaman secara psikologis untuk memasuki pikiran dan hati mereka. Jalur militer bukan jawaban.
Pada tahun 1998 terbit buku Jembatan Antar Generasi; Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942-1945. Di dalamnya Rosihan Anwar turut menulis kisah hidupnya semasa sekolah di SMT (setingkat SMA). Pendidikan yang ditempuh Rosihan lekat dengan militeristik. Ia mengisahkan mesti baris berbaris secara Jepang, menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, dan menundukkan kepala. Makian dan tempelengan kerap dilakukan oleh pihak Jepang yang membuat Rosihan Anwar merasa gondok.
Di pertengahan tulisannya, ia menulis: “Sikap Jepang ini sama sekali tidak menimbulkan simpati. Karena takut ditampar, saya tentu berusaha jangan sampai berurusan dengan orang Jepang dalam situasi menjadi objek makiannya. Akan tetapi tentu ini adalah kebencian seorang genjumin yang tidak berdaya terhadap pihak yang menjajahnya.”
Catatan Rosihan Anwar bisa menjadi salah satu refleksi untuk mempertanyakan ketepatan kebijakan yang diterapkan KDM. Pendidikan berbasis militer yang diselenggarakan jangan-jangan justru bisa membuat anak malah merasa inferior, tertekan, dan menimbulkan rasa takut.
Seperti layaknya cocor bebek yang tiba-tiba warnanya coklat, KDM tak ubahnya hanya memoles dengan cat agar lekas terlihat hijau. Padahal, tindakan itu sekadar perubahan kosmetik yang tidak menyelesaikan persoalan. Daun yang layu dan rusak perlu ditelisik secara keseluruhan. Apakah tanahnya kurang nutrisi? Cuaca terlalu ekstrem? Kekurangan air? Ada hama pengganggu? Atau malah tukang kebunnya tidak tau cara mengurus tanaman? Hal-hal itu yang memerlukan penelisikan dan penyelesaian.
Alih-alih memasukkan anak ke kamp militer, kenapa tidak membuat tempat khusus yang diampu oleh oleh guru-guru berpengalaman untuk menyelami jiwa dan pikiran anak. Kata ‘guru’ dalam hal ini tidak merujuk pada guru sertifikasi atau dari lembaga formal tetapi bisa menjaring dari kalangan seniman, intelektual, olahragawan bahkan aktivis. Biarkan anak-anak diberikan ruang sebebas-bebasnya untuk menemukan jati dirinya di tangan orang-orang yang tepat.
Kita boleh yakin, anak-anak yang dilabeli ‘kelewat nakal’ tak mungkin jauh dari langit begitu saja, Mereka adalah cermin dari apa yang terjadi disekitar. Banyak penelitian mengungkapkan anak nakal berkaitan dengan faktor internal dan eksternal.
Faktor internal mencakup perkembangan otak dan kebutuhan fisik, sementara faktor eksternal meliputi kurangnya perhatian orang tua, lingkungan yang buruk, pengaruh teknologi hingga teman sebaya. Anak-anak yang berperilaku nakal sangat mungkin mengalami rasa tidak nyaman, depresi, trauma, lelah, atau belum bisa mengkomunikasikan keinginan dengan baik sehingga memunculkan tindakan destruktif.
Kita sangat mengapresiasi upaya KDM dalam upaya menyelesaikan permasalahan anak dan remaja yang menggunung di Indonesia. Namun, kebijakan dengan sistem kebut sepertinya tak bisa terus dinormalisasi, apalagi menyangkut ruang pendidikan. Kebijakan asal jadi tanpa proses pengkajian secara historis, kritis, dan menyeluruh bisa berujuang pada pemendekan dan kerugian. Celakanya, rakyat lagi yang menjadi korban.
Percobaan-percobaan terhadap benda mati dengan resiko kegagalan yang tinggi mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi jika pada manusia, tindakan ini bisa dibilang kejam jika tak mau disebut kejahatan.
Editor: Kendi Setiawan
