Peringatan Hari Lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan pada 31 Januari 2026 lalu, bukan sekadar seremoni peringatan usia panjang sebuah organisasi. Ia adalah momen refleksi sejarah sekaligus penegasan arah masa depan. Di hadapan ribuan warga nahdliyin, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan kembali fondasi perjuangan NU sejak berdiri satu abad silam. Dalam pidatonya, Gus Yahya menyampaikan dengan tegas:
"Sejak awal berdiri, NU memilih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kubu dan markas perjuangan untuk membangun peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia."
Kalimat itu penting. Ia bukan hanya pengulangan komitmen kebangsaan, melainkan penegasan bahwa hubungan NU dengan Indonesia bersifat ideologis, historis, dan peradaban. NKRI bukan sekadar wadah administratif tempat organisasi ini hidup, melainkan ruang strategis untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Banyak tulisan memaknai pidato tersebut sebagai bukti konsistensi NU menjaga keutuhan bangsa. Namun ada perspektif lain yang layak digarisbawahi. NU selama ini tidak hanya berperan sebagai penjaga stabilitas kebangsaan, tetapi sebagai ekosistem peradaban yang membentuk cara berpikir, cara beragama, dan cara bermasyarakat jutaan warganya.
Selama seratus tahun, kekuatan NU tidak hanya bertumpu pada struktur formalnya, melainkan pada jaringan sosial-kultural yang hidup di tengah masyarakat. Pesantren, madrasah, majelis taklim, tradisi yasin-tahlil dan manaqib, hingga musyawarah kampung adalah ruang-ruang kecil yang secara perlahan membentuk watak kolektif. Di situlah nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) bukan sekadar konsep teologis, tetapi menjadi kebiasaan sosial. NU bekerja dari bawah, membangun peradaban melalui pembiasaan akhlak dan penguatan adab.
Ketika Gus Yahya berbicara tentang "peradaban mulia", kita tidak boleh memahaminya sebagai slogan besar yang jauh dari realitas sehari-hari. Peradaban mulia tumbuh dari hal-hal sederhana: menghormati perbedaan, menjaga keseimbangan antara agama dan kebangsaan, memuliakan manusia tanpa memandang latar belakangnya, serta berani berpihak kepada yang lemah. Dalam sejarahnya, NU berulang kali menunjukkan kemampuan merawat harmoni sosial di tengah perbedaan mazhab, suku, dan pandangan politik.
Namun memasuki abad kedua, konteks perjuangan berubah drastis. Dunia bergerak dalam lanskap digital yang serba cepat. Informasi melimpah tanpa filter, opini terbentuk dalam hitungan detik, dan polarisasi mudah diproduksi. Otoritas keilmuan sering kali dikalahkan oleh viralitas. Dalam situasi seperti ini, ekosistem peradaban yang selama ini bertumpu pada relasi langsung dan sanad keilmuan menghadapi tantangan baru.
Di sinilah relevansi gagasan peradaban mulia diuji. NU tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi harus mampu menerjemahkan tradisi itu ke dalam ruang digital dan global. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di mimbar majelis-majelis taklim, tetapi juga di layar gawai. Pendidikan tidak cukup hanya berbasis ruang kelas, tetapi juga literasi digital. Peradaban mulia berarti menghadirkan etika dalam dunia yang serba instan dan sering kali bising.
Mengawal Indonesia menuju peradaban mulia juga berarti berani menyentuh persoalan struktural. Ketimpangan ekonomi, akses pendidikan yang belum merata, tantangan pengangguran generasi muda, hingga problem intoleransi adalah realitas yang tidak bisa diabaikan. Peradaban tidak dibangun hanya melalui wacana besar, tetapi melalui keberpihakan nyata pada mereka yang terpinggirkan. Di sinilah NU memiliki potensi besar melalui jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan organisasi sosialnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, NU juga memperluas peran dalam dialog lintas agama dan forum internasional. Langkah ini menunjukkan bahwa visi peradaban yang dibangun tidak sempit dan eksklusif. Indonesia adalah markas perjuangan, tetapi nilai yang diperjuangkan bersifat universal: kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian. Dengan fondasi tradisi yang kuat dan pengalaman panjang mengelola keragaman, NU memiliki modal untuk berkontribusi dalam percakapan peradaban global.
Seratus tahun adalah usia kematangan. Namun kematangan bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik tolak tanggung jawab yang lebih besar. Abad kedua menuntut keberanian berinovasi tanpa tercerabut dari akar. Menuntut kemampuan merawat persatuan tanpa menghilangkan dinamika dan kritik. Menuntut kesanggupan menjadikan tradisi sebagai sumber energi pembaruan.
Satu Abad NU adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Jika NKRI adalah kubu dan markas perjuangan, maka peradaban mulia adalah arah yang terus diperjuangkan. NU akan tetap relevan bukan semata karena jumlah pengikutnya yang besar atau sejarahnya yang panjang, melainkan karena kemampuannya menjaga keseimbangan antara iman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada pilihan sejarah: menjadi organisasi yang puas dengan kebesaran masa lalu, atau menjadi ekosistem peradaban yang terus bergerak menjawab tantangan zaman. Optimisme itu ada, karena selama satu abad NU telah membuktikan kemampuannya bertahan, beradaptasi, dan tetap setia pada nilai. Dengan fondasi tersebut, mengawal Indonesia menuju peradaban mulia bukanlah utopia, melainkan ikhtiar yang terus dihidupkan dari generasi ke generasi.
Dus, mengawal Indonesia bukan hanya sebagai negara yang merdeka secara politik, tetapi sebagai bangsa yang matang secara moral, adil dalam struktur sosialnya, dan beradab dalam kehidupan bersama.
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, penikmat sepak bola
Editor: Muhammad Taufiq
