Shinobi-no-mono

Shinobi-no-mono

Saya menghindari diksi intelijen. Lebih enak pakai terma shinobi saja. Lebih aman, dan sepertinya lebih gampang dicerna, terutama bagi penggemar serial manga Uzumaki Naruto, sinobi terkuat Desa Konohagakure sekaligus hokage ketujuh. Ada satu cerita dalam serial Naruto--karangan Masashi Kishimoto--itu yang mengusik kekhawatiran saya tentang situasi Indonesia sekarang: Kisah Hancurnya Negara Amegakure.

Ada banyak faktor memengaruhi perang yang berujung kehancuran Amegakure. Tapi dalam ending cerita, kelihatan siapa dalang utama pemegang saham konflik panjang negara itu. Salah satunya Danzo Shimura, ninja Konoha yang bekerja dari balik bayangan. Ia penguasa shinobi teliksandi Negeri Konoha yang beroperasi secara rahasia di perang shinobi pertama. Ia bekerja sama dengan pemberontak Amegakure bernama Hanzo yang memiliki julukan The Salamander.

Perkawinan kepentingan dua tokoh ini, dibumbui sabotase dan tipu muslihat khas shinobi, pada akhirnya sukses membumihanguskan Amegakure, negara yang semula damai milik Klan Uzumaki. Setelah periode perang, pada tahun-tahun selanjutnya, shinobi teliksandi macam Danzo Shimura lah pemegang kendali dunia bawah tanah yang menentukan eksistensi sebuah negara. Mereka mengendalikan Anbu (pasukan khusus intelijen) yang memiliki pengaruh hampir tidak terbatas di sebuah negara: merusak, membunuh, sabotase konflik dan seterusnya.

Berbagai kasus dalam peristiwa kerusuhan 98 saya rasa operasi teliksandi shinobi semacam ini juga terjadi. Ada banyak kejanggalan muncul di sana. Tiba-tiba ada cerita ninja di Banyuwangi dan daerah-daerah lain. Di susul konflik di berbagai wilayah negeri ini yang sampai sekarang penyebab utamanya masih simpang siur betul. Ini mirip kerja-kerja para shinobi itu.

National Georaphic pernah mengulas tentang kisah shinobi yang dalam budaya modern juga disebut sebagai ninja. Wiracerita tentang mereka lekat dengan sejarah pergolakan politik kekaisaran Jepang. Walaupun dua istilah itu menunjuk entitas yang sama, namun sebenarnya dari sisi bahasa asal usulnya berbeda. Ninja dari bahasa Tionghoa. Sementara shinobi-no-mono (orang yang bertahan atau bersembunyi) bahasa Jepang asli.

Michael Smathers mengulas tentang shinobi di laman The Collector, menukil catatan-catatan tentang shinobi dari Taiheiki, sebuah epos sejarah Jepang disebut juga: Chronicle of Great Peace--yang ditulis pada abad ke-14 silam. Dokumen ini mencatat berbagai strategi pertempuran selama Perang Nanbokucho antara Kekaisaran Utara dan Selatan negeri Nipon yang dimulai sekitar 1330-an di Jepang. Kedua kekaisaran sama-sama mempekerjakan shinobi di pihak mereka.

Dalam versi budaya populer, kata dia, peran shinobi paling umum digambarkan sebagai pembunuh bayaran. Namun faktanya, sebenarnya mereka sering bertindak sebagai mata-mata, provokator massa, dan penyabotase. Shinobi bahkan melakukan banyak trik muslihat dan tipu-tipu terhadap musuh-musuh mereka. Shinobi ini direkrut dari para petani, anak-anak muda, bahkan samurai (tentara) yang digembleng dalam akademi-akademi.

Mereka sebenarnya tidak harus ikut perang terbuka, tugasnya menyusup, memata-matai, memprovokasi kadang menyabotase suatu kerajaan atau negara. Targetnya melumpuhkan lawan dengan strategi apa saja: menggulingkan pemimpin, membuat huru-hara, menciptakan situasi chaos, bahkan adu domba.

Lalu tiba-tiba ketika kerusuhan di Jakarta selama lima hari ini, sejak Rabu hingga Sabtu (27-28-29-30) Agustus 2025, saya teringat kisah-kisah para shinobi itu. Saya buka media sosial, searching unggahan-unggahan lama, tentang jejak digital "Negeri Konoha" yang acapkali digunakan oleh Gen-Z untuk menyebut Indonesia di masa Presiden Jokowi. Sebuah analogi satir, tapi popular sekali.

Sepintas memang ada satu kemiripan antara Konoha dan Indonesia. Jumlah hokage dan presiden sama-sama tujuh jumlahnya. Hokage pertama Konoha sekaligus pendiri desa bernama Hashirama Senju. Sementara sosok Presiden RI pertama Soekarno sang pendiri bangsa (Founding Father). Lalu Hokage kedua Thobirama Senju dipadankan dengan Presiden kedua RI Soeharto. Hokage ketiga Hiruzen Sarutobi disandingkan dengan Presiden Habibie. 

Hokage keempat Minato Namikaze disandingkan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hokage kelima Nyonya Tzunade, satu-satunya hogake perempuan disandingkan dengan Presiden Megawati Soekarno Putri yang juga satu-satunya presiden perempuan RI. Hokage keenam Kakashi Hatake disandingkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sama-sama mantan militer.

Terakhir Hokage ketujuh Naruto Uzumaki disandingkan Presiden Jokowi. Setelah hokage ketujuh itulah serial Naruto selesai. Walaupun Masashi Kisimoto kemudian melanjutkan komik manganya ke cerita Boruto Uzumaki, anak dari Naruto. Namun posisi hokage dalam serial lanjutan itu masih di pegang oleh Naruto. 

Satu lagi, pengaruh Naruto dalam dimensi apapun di Konoha sangat kuat. Sosok yang oleh pengarangnya dibuat sangat tolol itu ternyata menyimpan bakat kecerdikan alamiah. Semacam given atau anugerah. Karakternya kuat. Pesonanya sebagai orang baik tiada tanding pula. Lalu bicara pengaruhnya sebagai shinobi? Jangan tanya. Penggemar pasti tahu apa itu "petuah no jutsu" andalannya, yang di saat-saat genting manjur sekali menjinakkan musuh.

Dulu, warga +62 pernah berisik sekali di media-media sosial memadankan sosok Naruto dengan Jokowi. Mereka menganggap figur Jokowi memiliki pengaruh over power dalam "Negara Konoha" versi Indonesia. Bahkan ada yang bilang pengaruhnya sampai sekarang. Masyhur dalam obrolan-obrolan politik, akademisi, orang-orang bilang "hokage ketujuh" masih mencengkeram pos-pos penting negeri ini walaupun presiden sudah berganti.

Benar atau tidak? Wallahua'lam..


 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id


Editor: Muhammad Taufiq
logo