Hidup Lintas Akidah: Tujuan Agama di Tengah Masyarakat Majemuk

Hidup Lintas Akidah: Tujuan Agama di Tengah Masyarakat Majemuk

Perdebatan soal hidup lintas akidah terus muncul di ruang publik. Dari ucapan selamat hari raya hingga relasi sosial antarumat beragama, isu ini kerap diperlakukan seolah mengancam iman. Padahal, pengalaman akademik dan sosial justru menunjukkan sebaliknya: Agama tidak hidup di ruang hampa. Ia selalu hadir dalam konteks masyarakat yang beragam. 

Pengalaman mengajar Bahasa Inggris untuk Kajian Hukum Islam di Program Pascasarjana UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi memperlihatkan hal itu. Selama satu semester, mahasiswa saya minta menelaah sebuah buku penting karya Mohammad Hashim Kamali, Actualization of the Higher Purposes of Shariah, yang menekankan pentingnya memahami tujuan besar ajaran Islam, bukan sekadar teks hukum. Dari sini, diskusi berkembang ke persoalan nyata: bagaimana agama dijalankan di tengah perbedaan.

Salah satu bagian paling menarik perhatian adalah pembahasan mengenai cara mengambil keputusan keagamaan dengan mempertimbangkan tujuan besar ajaran Islam, bukan semata-mata bunyi teks. Dalam bagian studi kasus, Kamali mengulas pandangan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi tentang kebolehan mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Topik ini segera menghidupkan suasana kelas. Ada yang awalnya ragu, ada yang setuju, dan ada pula yang mempertanyakan batas-batasnya. Namun dari perdebatan itulah muncul satu kesadaran penting: ajaran agama tidak pernah lepas dari konteks sosial tempat umatnya hidup.

Dari ruang kelas itulah renungan tentang hidup berdampingan lintas akidah menjadi semakin nyata. Al-Qur’an dengan jelas menyatakan, “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. 2:256). Iman tidak bisa dipaksa, apalagi diseragamkan. Setiap orang berjalan dengan keyakinannya masing-masing. Ayat berikutnya (QS. 2:257) menggambarkan iman sebagai perjalanan keluar dari kegelapan menuju cahaya. Perjalanan ini bersifat pribadi dan tidak bisa diwakilkan, apalagi dipaksakan oleh orang lain.

Realitas Indonesia membuat pesan ayat ini terasa sangat dekat. Kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Perbedaan agama bukan sesuatu yang jauh, melainkan hadir di lingkungan terdekat: tetangga, teman kerja, bahkan anggota keluarga. Data kependudukan menunjukkan bahwa Indonesia dihuni oleh pemeluk berbagai agama yang setiap hari berbagi ruang sosial yang sama. Dalam situasi seperti ini, sikap saling menghormati bukan sekadar ajaran moral, tetapi kebutuhan bersama agar kehidupan sosial tetap sehat.

Menariknya, berbagai catatan sosial menunjukkan bahwa konflik yang kerap disebut sebagai konflik agama lebih banyak dipicu oleh persoalan ekonomi, ketidakadilan, atau kepentingan politik. Agama sering kali hanya dijadikan simbol. Sebaliknya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat justru memperlihatkan wajah yang lebih damai: saling membantu saat ada yang berduka, bekerja bersama dalam kegiatan sosial, dan menjaga ketenangan lingkungan saat hari besar keagamaan tiba. Praktik-praktik sederhana ini jarang disorot, tetapi justru menjadi penyangga utama kerukunan.

Al-Qur’an kembali mengingatkan dalam QS. 2:272 bahwa urusan memberi petunjuk bukanlah tugas manusia. Tugas kita adalah berbuat baik dan menghadirkan manfaat. Bahkan, ayat-ayat selanjutnya (QS. 2:272–274) menautkan keimanan dengan kepedulian sosial: memberi, membantu, dan menolong tanpa menyakiti perasaan orang lain. Nilai-nilai ini tidak mengenal batas agama, karena ia berbicara tentang kemanusiaan.

Dalam konteks hidup lintas akidah, kepedulian sosial bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: hadir saat tetangga berduka cita, memenuhi undangan ketika tetangga bersuka cita, atau bekerja bersama dalam kegiatan kemanusiaan. Semua ini tidak mengurangi keyakinan seseorang, justru menunjukkan kedewasaan dalam beragama. Iman yang matang tidak merasa terancam oleh perbedaan, tetapi mampu berdiri teguh sambil tetap menghormati orang lain.

Pengalaman di ruang kelas akhirnya menemukan relevansinya di ruang sosial. Ketika agama dipahami dari tujuan dasarnya, ia hadir bukan sebagai sumber ketegangan, melainkan sebagai kekuatan untuk merawat relasi antarmanusia. Di tengah dunia yang mudah terbelah oleh identitas, pengalaman hidup lintas akidah mengajarkan satu hal penting: menjaga keyakinan dan merawat kemanusiaan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua jalan yang seharusnya berjalan beriringan.  


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irwandi
Dosen UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi


Editor: Muhammad Zunus
logo