Jimat, laiknya mantra atau pelbagai bentuk magi islami (Islamic magic) lainnya, kiwari dipandang banyak muslim Indonesia sebagai sesuatu yang ada di dalam atau di luar Islam ortodoks.
Hal ihwal itu secara jelas berkelindan dengan tradisi Islam terlihat dari penggunaan tulisan Arab, biasanya diambil dari al-Qur’an (Hermansyah 2010). Selama masa revolusi Indonesia, bentuk-bentuk magi islami ini memiliki peran penting dalam perang kemerdekaan Indonesia.
Jimat dan tradisi-tradisi magi sudah ditemukan di dunia Islam, termasuk sub-Sahara Afrika, Turki, dunia Arab, Iran, Asia Selatan, dan bahkan masyarakat diaspora seperti budak-budak muslim Afrika di Brasil (Knight 2016). Akan tetapi, tradisi itu sangat kuat terutama di Asia Tenggara, karena kerap kali berkelindan dengan masa perang atau pemberontakan.
Ada beberapa spekulasi bahwa magi menggunakan agama dan kekuatan supranatural pada mulanya merupakan bagian dari upaya memikat pemeluk baru Islam di Asia Tenggara (Reid 1988). Tentu saja, tokoh-tokoh masyhur dan bagian dari sejarah dakwah Islam, Wali Songo, yang membuat seseorang pindah agama di Jawa pun dihubungkan dengan pelbagai aksi magis (Quinn 2021).
Sejak sebelum menyebarnya senjata menggunakan bubuk mesiu, jimat-jimat untuk kekebalan diteroka sebagai persiapan paling hakiki untuk peperangan. Walakin, jimat tidak terbatas pada masa-masa perang; pada abad ke-19 penguasa muslim di seluruh Nusantara menggunakan stempel jimat perlindungan saat berkorespondensi dan membuat pengumuman, merepresentasikan kebiasaan umumnya kaum muslim di wilayah-wilayah lain.
Magi islami
Banyak pelaku magi adalah muslim saleh, dan penerapannya dibuat dengan pelbagai elemen Islam, seperti ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa. Meskipun pengobatan, ramalan, kelahiran anak, dan bahkan ramuan cinta ditangani dalam praktik-praktik magi di Nusantara, praktik yang berkaitan dengan peperangan tetap menjadi kabar yang paling menggema.
Pengetahuan tentang magi di Nusantara berkelindan dengan masa silam dari generasi ke generasi pengamal, juga berhubungan dengan dunia Islam yang lebih luas. Banyak orang Indonesia, termasuk para pembaru Islam seperti Syaikh Jamil Jambek di Bukittinggi, belajar magi saat berhaji di Makkah dan membawa tradisi-tradisi itu pulang ke kampung halamannya (Noer 1973: 16).
Walaupun mereka sudah belajar dari para guru di seluruh dunia (misalnya Jamil Jambek mengklaim berguru pada seorang Maroko), Snouck Hurgronje juga melaporkan bahwa orang-orang Indonesia dan Melayu masyhur di kota-kota suci Islam karena pengetahuan mereka dalam seni magi, terutama penciptaan dan penguatan jimat. Barang-barang ini bisa dibuat atau diberkati di tanah suci dan dibawa pulang ke Indonesia untuk khasiat tertentu (Fogg 2019: 152).
Di antara banyak barang yang ditemukan dari jemaah haji saat kembali ke tanah air pada abad ke-19 ialah jimat-jimat dari berbagai jenis, termasuk formula-formula mistis dalam bahasa Arab, Jawa, dan Sunda; tulisan-tulisan kaligrafi yang diulang-ulang dari nama-nama Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw.; serta model-model kecil dari bambu, logam, atau kertas.
Juga ada tulisan-tulisan tentang hari-hari keberuntungan, makhluk-makhluk spiritual yang menghuni Jawa, dan obat-obatan magis. Bahana, semua benda ini dianggap islami, bahkan merupakan contoh islami nan sempurna, ketika dibuat dan dibawa kembali dari kota-kota suci (Tagliacozzo 2013: 167).
Akan tetapi, pada awal abad ke-20, banyak intelektual muslim urban atau reformis mulai menjauhi tradisi magi islami, menyebutnya sebagai bid’ah. Hadji Agus Salim membuat pernyataan semacam itu tahun 1919, mencela para pembeli dan penjual jimat sebagai orang-orang yang kurang memiliki komitmen keagamaan dalam menghadapi kematian tanpa mantra-matra kekebalan (Laffan 2003: 210).
Pelbagai sentimen semacam itu menandai perpecahan dalam masa Revolusi Indonesia, tatkala magi dipraktikkan dengan gigih oleh para pejuang muslim di tingkat akar rumput, tapi diabaikan, dikecam, atau direndahkan sebagai sesuatu yang tidak islami oleh para pemimpin politik Islam didikan Barat (Reid 1986).
Kekebalan revolusioner
Dalam bukunya Indonesia’s Islamic Revolution (2020), sejarawan Kevin W. Fogg menjelaskan bahwa keyakinan-keyakinan magi Islam bisa mencakup jimat, mantra, dan berbagai peragaan yang lebih fantastis dengan intervensi supranatural, banyak ritual umum juga berkelindan dengan maji islami, termasuk ritual yang paling dasar: sembahyang. Kaum muslim diwajibkan menjalankan sembahyang lima waktu setiap hari, tapi ada pula sembahyang-sembahyang sunah untuk keadaan-keadaan khusus. Salah satunya ialah sembahyang Hajat, yaitu perantara kolektif yang dapat diarahkan untuk tujuan apa pun asal bukan untuk kemaksiatan.
Dalam revolusi Indonesia, tujuan itu adalah kemenangan dan kemerdekaan. Menurut Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2010), dalam beberapa kasus, ulama bisa dengan mudah menyadari pemahaman magis dari para pengikut, entah mereka mengutarakan atau tidak. Ulama kemudian memberikan “ijazah” kepada para pengikutnya yang disimbolkan dengan penyematan lempengan kaleng ukuran kecil berlatar belakang bendera merah putih dan bertulisan kalimat La ilaha illa-Allah, Muhammad ar-Rasul-Allah (Tiada tuhan selain Allah, Muhammad urusan Allah)–setelah bacaan wirid, rartibul haddad, juga mendirikan sembahyang Tasbih, sembahyang Hajat, dan sembahyang Witir.
Ijazah-ijazah ini tidak begitu berbeda dengan jimat-jimat yang diberikan para guru Islam lain kepada para pejuang di seluruh Nusantara. Jimat-jimat semacam itu menjadi fokus utama magi islami selama perang revolusi.
Ilmu kekebalan yang paling umum berpusat pada penciptaan jimat, yang umumnya dipercaya membuat tahan peluru dan kuat secara supranatural dalam pertempuran. Jimat tidak hanya umum di kalangan muslim, tapi juga Kristen dan Komunis di Indonesia pada abad ke-20 (Farram 2002: 25-26). Tidak terbatas pada masa perang: bahkan pada masa damai, kiai lokal menyediakan jimat untuk para murid dan pengikutnya (Zuhri 1987). Walau begitu, Revolusi Indonesia adalah masa tatkala banyak muslim berpaling ke jimat dan mantra kekebalan sebagai pelindung terbesar mereka (Siegel 1997: 213).
Permulaan revolusi menjadikan jimat, dalam semua jenis, sangat popular. Ketika pertempuran mulai memanas pada bulan-bulan akhir 1945, kekebalan menjadi daya tarik utama bagi banyak orang di garis depan. Sekitar Bandung, demam jimat melanda pada November dan Desember 1945. Keyakinan pada jimat ini meluas di Bandung, termasuk sebagian orang melakukan perjalanan jauh ke pesisir selatan Jawa untuk mengunjungi kiai digdaya dan membawa benda berkah ke kotanya. Tentara-tentara muda, terutama pemuda muslim yang juga merapal mantra ketika ditugasi bertempur, berusaha mencari bantuan magis seperti itu dalam jumlah besar. Fakta bahwa jimat-jimat itu menggunakan bahasa Arab dan diberikan oleh ulama menunjukkan bagaimana benda-benda magis itu dipahami sebagai ciri khas magi islami (Smail 1964: 104).
Perlindungan yang diberikan oleh jimat bisa disejajarkan dengan satu lagi praktik yang berhubungan dengan magi islami: seni bela diri. Berbagai bentuk seni bela diri, yang biasa dikenal dengan sebutan umum silat, lazim mulai dari Aceh sampai Maluku, dan berada dalam jaringan, institusi, dan keyakinan Islam (Wilson 2020). Di beberapa bagian Nusantara, koneksi antara Islam dan seni bela diri lebih menonjol, seperti Palu, Sulawesi Tengah, tatkala Sayyid Idrus Al-Jufri mendirikan Ikatan Bela Diri untuk memperluas jangkauan misinya dan untuk menarik lebih banyak murid memasuki sekolah-sekolah Islamnya.
Pada periode Jepang, ketika semua sekolah didorong untuk mengajarkan olahraga (meniru sekolah-sekolah Jepang), mereka bahkan memfasilitasi pengajaran seni bela diri. Pada akhir revolusi, tatkala begitu banyak pemuda muslim terorganisir dalam lasykar-lasykar yang dipimpin ulama mereka, wajar saja jika mereka juga akan memasukkan seni bela diri (Frederick 1989).
Dalam banyak kasus, keyakinan-keyakinan pada kekuatan manusia super yang diberikan oleh silat, jimat, dan petunjuk Ilahi, semuanya disebarkan oleh pejuang yang sama dalam lasykar Islam, yang dipimpin oleh ulama lokal mereka (Cribb 2010). Walakin, ketika doa, jimat, seni bela diri, dan kesurupan menghadapi persenjataan yang sangat modern, hasilnya ialah kehancuran total bagi para lasykar Islam, dan hal ihwal ini menjadi poin kritik dari para elite muslim didikan Barat.
Arkian, magi islami yang digunakan para pejuang dalam Revolusi Indonesia tidak membawa hasil yang paling diharapkan: para pejuang ternyata tidak berhasil lenyap dari pandangan musuh. Keyakinan dalam praktik ini memang membawa dampak sangat nyata.
Memercayai jimat atau mantra-mantra pelindung menyebabkan tentara-tentara muslim menjadi jatmika dan tidak gegabah dalam pertempuran, sering menyerang lebih dulu pasukan yang jauh lebih superior. Perihal ini menyebabkan jumlah korban di pihak lasykar Islam nun tinggi, terutama dalam pertempuran intensif pada bulan-bulan pertama revolusi.
Magi islami dalam Revolusi Indonesia menunjukkan pelbagai keyakinan para partisipan, bahwa Tuhan membantu mereka dalam pertempuran. Jauh dari pemandangan bahwa perang kemerdekaan ialah pertarungan politik modern, atau semata-mata pertempuran militer, kaum muslim ini percaya bahwa pelbagai kekuatan supernatural membantu mereka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sistem keyakinan itu berperan langsung dalam narasi perjuangan muslim, yang memandang Revolusi Indonesia adalah islami.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus
