Habib Ja'far, Jemaah Lansia, dan Pentingnya Komunikasi Interpersonal Haji

Habib Ja'far, Jemaah Lansia, dan Pentingnya Komunikasi Interpersonal Haji

Strategi itu penting. Agar tujuan bisa efektif tercapai. Jika engkau abaikan strategi, jalanmu pasti tertatih-tatih. Langkahmu akan gontai. Karena engkau abai pada cara jitu untuk bisa menggerakkan langkah itu. Hanya, strategi tidak boleh mengabaikan kondisi sasaran. Strategi bisa tak sama jika kondisi sasaran berbeda. Maka, penting untuk mempertimbangkan sasaran beserta kondisi yang ada padanya untuk mendsesain strategi. Tentu juga bagaimana strategi itu dijalankan di lapangan. 

Simaklah kisah seorang jemaah haji dari Jawa Barat yang tinggal di Sektor 3. Dia adalah seorang bapak tua. Dia menyatakan sangat ingin meninggal di Makkah. Karena dia meyakini secara kuat bahwa meninggal di Makkah itu mati syahid. Dia sudah siap segalanya. Dan dia berharap betul bahwa keinginan itu terkabul. Pikirannya ditata untuk menyambut terkabulnya harapan itu. Hatinya juga sudah terkelola sedemikian rupa untuk terwujudnya doa dan pengharapannya untuk bisa meninggal di Makkah. Kuat sekali doa dan pengharapan itu. Hingga sampailah cerita mengenai lelaki tua kepada petugas haji Indonesian di Arab Saudi. 

Lalu, pertemuan itu pun terjadi. Antara lelaki tua yang memiliki doa dan pengharapan untuk bisa meninggal di Makkah itu dengan Habib Ja’far. Seorang kiai muda Indonesia berketerunan Arab yang sedang naik daun. Ceramahnya enak dan mudah dicerna. Follower-nya, karena itu, sangat banyak. Dalam pertemuan itu, doa dan pengharapan itu diceritakan juga oleh lelaki itu. Habib Ja’far pun serius mendengarkannya. Dia mencoba mencerna jalan pikiran lelaki tua itu. Hingga dia pun bisa menangkapnya dengan baik. Termasuk juga mengetahui cara memberikan treatment atau perlakuan atasnya.   

“Jadi, Bapak betul ingin meninggal di Tanah Suci?” tanya Habib Ja’far. Pertanyaan ini disampaikan sekaligus untuk menguji keteguhan keyakinan dan pendirian sang kakek. “Iya, saya ingin sekali,” jawab si bapak tua itu. Lalu apa yang selanjutnya dilakukan oleh Habib Ja’far atas keyakinan jemaah haji seperti dia. Habib Ja’far lalu memberinya challenge. Memberi kakek ini pertanyaan tantangan. “Kalau meninggal di Makkah, sama malaikat nanti ditanyanya pakai Bahasa Arab. Siap nggak?” begitu pertanyaan tantangan Habib Ja’far kepada sang kakek itu. 

Mendengar pertanyaan tantangan ini, pendirian sang kakek rupanya langsung goyah. Pendiriannya mulai terhuyung. Dia mulai terbebani dengan tantangan itu. Pikirannya mulai gontai. Pendiriannya mulai tak lagi sekukuh sebelumnya. Sebab, dia bisanya hanya Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Lalu dia buru-buru memberikan jawaban begini: “Wah, kalau, Bahasa Arab sih teu ngertos. Nggak paham.”  Pernyataan ini menunjukkan bahwa sang kakek pasrah dengan keadaan yang dihadapi. Dan yang lebih penting lagi, dia akan segera mengubah keyakinannya. 

Rupanya pertanyaan tantangan dari Habib ja’far di atas begitu nendang. Bikin goyah keyakinan membaja sang kakek. Kepasrahannya menjadi simbol kegontaian pendiriannya. Akhirnya, dia pun mengambil keputusan baru. Tak ingin lagi meninggal di Makkah. Tak mau lagi mempertahankan keinginannya untuk wafat di Tanah Suci. Alih-alih, dia lalu menyatakan ingin tetap sehat selama menunaikan ibadah haji. Tak ingin jatuh sakit. Apalagi meninggal di Tanah Suci. Dia pingin kesehatannya terjaga hingga bisa kembali pulang  ke keluarga di Indonesia.  

***

Dialog antara Habib Ja’far dan bapak tua ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Kisah antara keduanya di atas diceritakan ulang oleh Mahmud Syaltut, Tenaga Ahli Menteri Agama RI dan Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024 Kementerian Agama RI. Kisah itu diperdengarkan ulang di Kantor Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja (Daker) Makkah, Rabu (5 Juni 2024). Diceritakannya kisah itu untuk merespon penjelasan sebelumnya oleh Kepala KKHI, dr. Enny. Khususnya tentang jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal di Tanah Suci dalam perbandingan antara musim haji tahun 1445 H/2024 M dan tahun sebelumnya. 

Dalam berhaji, memang akan selalu banyak kisah yang dihadapi. Wajar saja itu terjadi. Karena jumlah warga bangsa Indonesia semakin lama semakin banyak yang terpanggil untuk berhaji. Antrean panjang pun sudah tak bisa dihindari. Maka, dari sisi usia, akan selalu ada mereka yang berusia muda maupun yang sudah tua dalam daftar jemaah haji. Dan, kondisi itu setiap tahun selalu terjadi. Bahkan, tidak hanya usia yang beragam. Latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda-beda pun juga mudah dijumpai. 

Karena itu, banyak kisah, cerita, dan pengalaman hidup akan mudah didapati di kalangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Tak sedikit kisah, cerita dan pengalaman hidup itu berangkat dari keyakinan yang membaja. Keyakinan yang sudah lama dirawat dan dipelihara. Lalu, saat posisi diri sudah mendekat ke titik keterkabulan doa yang besar di Tanah Suci, keyakinan itu makin membuncah. Seakan tak ada yang bisa untuk mengubah. Hingga seakan keyakinan itu tinggal selangkah. Untuk bisa terwujud penuh berkah.

Dalam situasi seperti itu, setiap kisah harus mendapatkan strategi penanganan yang efektif. Setiap pengalaman hidup harus menemukan strategi solusinya yang jitu. Kisah itu menjadi bukti konkretnya. Betapa kecakapan komunikasi interpersonal yang jempolan mampu meruntuhkan keyakinan yang membaja. Betapa kacakapan Habib Ja’far dalam kisah di atas mampu mengubah pendirian kuat sang kakek. Nah, yang berbicara di sini adalah strategi. Ya, strategi komunikasi interpersonal yang efektif. Hasilnya pun lalu langsung bisa dirasakan.  

Karena itu, ada tiga pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah bapak tua yang awalnya bersikeras ingin meninggal di Tanah Suci dalam dialognya dengan Habib Ja’far di atas.

Pertama, pahami betul latar belakang sasaran komunikasi haji. Kebetulan bapak tua ini adalah dari etnis Sunda. Maka, penggunaan Bahasa Sunda seperti yang dilakukan oleh Habib Ja’far dan diceritakan ulang oleh Mahmud Syaltut, segera mendekatkan isi masukan yang diberikan dengan basis kesadaran si bapak tua itu. 

Bahasa terbukti sangat efektif sebagai sarana komunikasi haji jempolan dalam kaitan ini. Apalagi, ungkapan “teu ngertos” yang diucapkan sang kakek menjadi bukti bahwa bahasa menjadi pengikat komunikasi efektif antara dirinya dan Habib Ja’far. Di sini, kecakapan komunikasi interpersonal Habib Ja'far terbukti adanya dan cenderung efektif. Hingga pendirian sang kakek pun goyah dan lalu berubah. 

Kedua, buatlah perbandingan dalam komunikasi haji. Dalam kisah ini, bagaimana Habib Ja’far melakukan pembandingan meninggal di Makkah dan di Indonesia. Kalimat “Kalau meninggal di Makkah, sama malaikat nanti ditanyanya pakai Bahasa Arab. Siap nggak?” digunakan oleh Habib Ja’far untuk memberikan pemahaman transformatif kepada sang kakek dengan menjadikan cara malaikat menanyai jenazah di Arab Saudi dan Indonesia sebagai perbandingan.

Dengan perbandingan itu, sang kakek langsung bisa menabrakkan kondisi kecakapan kebahasaan yang ada dalam dirinya dengan semacam “tuntutan” untuk menjawab pertanyaan dalam Bahasa Arab. Dengan pemahaman perbandingan itu, sang kakek dengan cepat sekali mengubah keputusannya soal tetap sehat atau meninggal di Arab Saudi. 

Ketiga, yakinlah bahwa strategi itu bisa berubah saat target sasaran komunikasi berbeda kondisi. Strategi komunikasi haji oleh Habib Ja’far, sebagai misal, hanya efektif bagi jemaah haji Indonesia dengan kondisi diri dan latar belakang seperti pada bapak tua tersebut. Saat kondisi diri dan latar belakang sasaran komunikasi haji berbeda, strategi komunikasi interpersonal seperti yang dipraktikkan oleh Habib Ja’far, tak boleh ditiru dan dipraktikkan sebagaimana adanya itu. Harus dilakukan adaptasi sebagaimana yang dibutuhkan. 

Kecakapan komunikasi itu penting. Karena itu, butuh strategi. Saat efektif strategi komunikasi itu, keyakinan membaja pun bisa diubah. Bisa bergeser. Hingga seratus delapan puluh derajat. Tapi, strategi tak boleh digunakan dengan prinsip copy and paste. Ditiru dan dipraktikkan apa adanya. Lihatlah situasi dan kondisi sasaran atau target komunikasi. Kenali mereka. Jika mereka berbeda situasi dan kondisi, strategi pun harus bergerak adaptif. Tak boleh dibuat serupa untuk situasi dan kondisi apa saja dari target komunikasi. Setiap strategi punya waktu, kondisi dan problemnya masing-masing. Karena itu, strategis harus dipahami secara cerdas dan adaptif. 

Komunikasi personal memiliki kaitan dekat dengan kemuliaan diri. Maka penting untuk menjaga kemuliaan diri. Dengan kecakapan komunikasi. Strategi komunikasi yang efektif adalah kata kunci. Itulah yang dibutuhkan untuk memperkuat basis pemahaman jemaah haji. Khususnya golongan lansia yang tak pernah letih memperjuangkan niatnya untuk bisa beribadah di tanah suci. Bahkan meninggal pun diyakini tak jadi soal yang berarti. Meski sehat dan kembali ke tanah air akhirnya menjadi pilihan hati. 

 

Akh. Muzakki adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024


$data['detail']->authorKontri->kontri

Prof. Akh Muzakki
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya


Editor: Muhammad Faizin
logo