Saya masih ingat betul peristiwa di sebuah ruang kuliah, ketika seorang mahasiswa yang dikenal sebagai “jago teori” tiba-tiba terdiam saat diminta menganalisis kasus nyata. Mahasiswa itu, dengan IPK yang membuat kagum banyak orang, sangat fasih mengutip definisi dari buku-buku tebal. Namun, ketika dihadapkan pada sebuah fenomena sosial sederhana, katakanlah, mengapa mahasiswa lebih sibuk membuat konten media sosial daripada membaca literatur ilmiah, ia hanya mampu memaparkan kembali pengertian teori komunikasi massa tanpa mampu menarik benang merah dengan kenyataan.
Saya tertegun. Bukan karena mahasiswa itu bodoh, tetapi karena sistem pendidikan kita yang telah lama memelihara budaya “jago hafalan” daripada mengasah nalar analitik. Fenomena ini bukan satu dua kali saya jumpai. Ia menjadi cermin buram dari ruang-ruang kuliah yang lebih gemar mengulang isi buku daripada merayakan penemuan gagasan.
***
Di banyak kampus, pola kuliah satu arah masih menjadi primadona. Dosen berbicara panjang lebar dari podium, mahasiswa mencatat dengan rapi, lalu diuji dengan soal-soal hafalan yang jawabannya harus persis seperti modul. Buku ajar dijadikan semacam kitab suci yang tidak boleh ditafsirkan di luar teksnya. Bahkan, ada aturan tak tertulis di beberapa program studi: jika jawaban mahasiswa tidak sama dengan redaksi buku, maka jawabannya dianggap salah.
Padahal, ilmu pengetahuan bukan monumen beku yang hanya pantas dihafal. Ilmu adalah dialektika yang lahir dari keberanian bertanya, menggugat, dan menemukan makna baru dari setiap realitas yang kita hadapi. Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan dari Brasil, menolak keras pola pendidikan gaya “bank” (banking education), yakni guru seolah-olah adalah pemilik kebenaran yang menyetorkan pengetahuan kepada murid-murid yang dianggap tabungan kosong. Bagi Freire, pendidikan adalah dialog yang harus menciptakan kesadaran kritis, bukan hanya transfer pengetahuan.
Namun, di ruang-ruang kuliah kita, budaya transfer pengetahuan masih sangat kental. Mahasiswa yang rajin menghafal dianggap lebih cerdas daripada yang berani bertanya. Hafalan dipuja, sementara keberanian meragukan malah dianggap pembangkangan.
***
Saya pernah menguji mahasiswa dengan pertanyaan sederhana, “Menurut pemahamanmu pribadi, apa inti dari teori komunikasi dua langkah?” Sebagian besar dari mereka hanya mengganti urutan kata dari buku, tanpa benar-benar memahami maknanya. Ketika saya meminta contoh aplikasinya di lingkungan sekitar, mereka gagap.
Saya jadi teringat Benjamin Bloom dengan taksonomi terkenalnya. Ia membagi level berpikir dalam proses belajar mulai dari mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), hingga mencipta (create). Sayangnya, sistem pendidikan kita sering berhenti di level pertama: menghafal. Level menganalisis hingga mencipta seolah menjadi barang mewah yang hanya dimiliki segelintir mahasiswa “berbakat”.
Di era ketika informasi mengalir deras dari berbagai penjuru, perkuliahan yang hanya menguji daya ingat menjadi ironi yang menyakitkan. Mahasiswa seharusnya diajak memadukan teori dengan realitas yang mereka temui, bukan sekadar mengulang definisi yang ada di buku.
***
Saya mencoba mencari jalan lain. Dalam beberapa mata kuliah, saya terapkan metode “kelas terbalik” (flipped classroom). Mahasiswa diminta membaca materi di rumah, lalu di kelas mereka membedah kasus nyata yang relevan dengan materi tersebut. Hasilnya mengejutkan.
Mahasiswa yang biasanya pasif mulai berani mengemukakan pendapat. Mereka tak lagi takut salah, karena ruang kelas menjadi ruang bermain gagasan, bukan sidang penghakiman hafalan.
Di kelas seperti itu, saya lebih banyak memancing pertanyaan daripada memberi ceramah panjang. Saya menyodorkan fenomena yang mereka temui sehari-hari: Mengapa hoaks lebih cepat viral daripada klarifikasinya? Mengapa mahasiswa lebih gemar belajar melalui TikTok daripada membaca buku? Dari pertanyaan-pertanyaan itu, teori-teori besar yang sebelumnya terasa kaku menjadi hidup dan relevan di hadapan mereka.
Namun, saya paham tidak semua dosen nyaman dengan metode ini. Dibutuhkan keberanian untuk melepaskan ego sebagai “sumber kebenaran mutlak” dan bertransformasi menjadi fasilitator. Proses ini memang tidak instan. Butuh kesadaran bahwa tugas dosen bukan memaksa mahasiswa menghafal pemahamannya, tetapi menemani mahasiswa menemukan pemahaman mereka sendiri.
***
Belajar adalah proses menemukan, bukan mengulang. Namun, frasa ini masih menjadi utopia di banyak ruang kuliah. Saya sering mendengar curhat mahasiswa yang takut menyampaikan pendapat karena khawatir “tidak sesuai teori”. Mereka merasa nilai mereka akan terancam jika berani berbeda pandangan dengan dosennya.
Di sinilah letak luka pendidikan kita: mahasiswa dilatih menjadi penghafal, bukan penemu. Mereka terbiasa mencari jawaban yang “benar menurut buku”, bukan jawaban yang “relevan dengan realitas”. Padahal, dunia nyata tidak pernah menyediakan soal-soal pilihan ganda. Dunia nyata menuntut kepekaan membaca persoalan dan keberanian menawarkan solusi.
Henry Ford pernah berkata, “Thinking is the hardest work there is, which is probably the reason why so few engage in it.” Berpikir itu pekerjaan paling berat, itulah sebabnya banyak yang lebih memilih menghafal. Namun, jika kita ingin menghasilkan lulusan yang siap menghadapi kompleksitas dunia, kita harus mendorong mahasiswa untuk bekerja keras di ranah berpikir, bukan sekadar mengisi memori.
***
Saya teringat wejangan Gus Mus: “Ilmu itu tidak cukup dipelajari, ia harus ditemukan.” Temuan itu tidak akan terjadi kalau kita hanya memandangi buku tanpa pernah bertanya. Belajar bukan tentang mengisi gelas kosong, tapi menyalakan api pencarian.
Saya percaya, setiap mahasiswa memiliki potensi untuk menjadi penemu. Namun, sistem yang memaksa mereka menjadi penghafal telah lama mematikan api itu. Kini saatnya kita sebagai pengajar menghidupkan kembali semangat menemukan. Kita harus mulai membangun ruang-ruang kuliah yang tidak alergi pada pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Teori tetap penting, tetapi ia hanyalah alat bantu. Teori adalah jembatan, bukan tujuan. Kampus bukan tempat menara gading yang terasing dari realitas, melainkan laboratorium gagasan yang harus terus berinteraksi dengan kehidupan.
Selama kita masih memuja nilai ujian lebih dari proses pemahaman, selama itu pula keresahan ini akan menjadi luka abadi dalam dunia pendidikan kita.
Mari, sebagai dosen, kita ubah ruang kuliah menjadi ruang temu gagasan, bukan ruang pamer hafalan. Dan sebagai mahasiswa, mari berani meragukan apa yang kita baca, agar kita bisa menemukan makna yang lebih dalam.
Belajar adalah menemukan, bukan mengingat.
Belajar adalah menggali, bukan menyalin.
Belajar adalah keberanian bertanya, bukan sekadar menjawab.
Dan di tengah arus zaman yang gemar membanggakan kecepatan, tugas kita sebagai pendidik adalah memastikan mahasiswa tidak tersesat di jalan pintas hafalan, tetapi berani menyusuri jalan terjal penemuan.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor: Kendi Setiawan
