Sepak Bola Indonesia mencapai prestasi terbaiknya. Banyak catatan manis tersaji dalam beberapa waktu belakangan. Setelah membuat kejutan dengan lolos ke babak 16 besar Piala Asia, lalu semi final Piala Asia U-19, kini timnas melaju ke babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026.
Dua hasil imbang melawan Arab Saudi dan Australia, menambah kegembiraan para penggila sepak bola di Tanah Air. Kesempatan bermain di Piala Dunia, meski tidak mudah, tetap menyala.
Pencapaian ini melompati prestasi tertinggi sebelumnya yakni berada di babak kedua kualifikasi Piala Dunia 1986. Saat itu, tiga puluh sembilan tahun silam, pasukan yang diasuh Sinyo Aliandoe, berhasil maju ke babak berikutnya. Namun kandas di tangan Korea Selatan – yang kemudian lolos ke Piala Dunia di Meksiko.
Toh begitu, tak sepenuhnya menyenangkan para penggila sepak bola. Di sisi lain, banyak yang bersorak tapi ada juga yang terdiam bahkan cemberut menyaksikan anak-anak asuhan Shin Tae-yong, berlaga melawan tim-tim papan atas di kawasan Asia, seperti Arab Saudi, Jepang, dan Australia.
Salah satu sebabnya, para pemain yang membela Garuda kali ini dijejali para pemain naturalisasi asal Belanda yang beralih paspor menjadi warga negara Indonesia. Mereka yang memutuskan bermain untuk Indonesia tidaklah sembarang. Sesuai dengan aturan FIFA, sesuai dengan revisi yang dilakukan pada 2020, hanya pemain yang memiliki "hubungan yang sah" dengan negeri tertentu yang bisa bersalin paspor. Syarat-syarat naturalisasi itu antara lain tempat lahir, tempat tinggal, atau tempat kelahiran salah satu kakek-nenek.
Hal ini dilakukan FIFA untuk menghindari pembelian pemain. Seperti yang pernah dilakukan Qatar dalam mencari pemain yang telah diabaikan di negara asal mereka. Contoh yang terkenal adalah ketika Qatar merayu tiga pemain Brasil pada 2005, dengan bujukan berupa uang tunai hingga 1 juta dolar AS.
Sepak bola tak lagi mengenal batas negara. Dalam Piala Dunia Qatar 2022, tercatat sebanyak 137 dari 830 pemain dari 32 negara merupakan pemain yang tidak mewakili tanah kelahirannya. Tentu kita masih ingat ketika Achraf Hakimi, penentu kemenangan Maroko atas Spanyol di babak 16 Besar. Padahal Hakimi lahir di Madrid, Spanyol.
Pun dengan Breel Embolo — yang lahir di Kamerun tapi bermain untuk Belgia. Ironis, Embolo sendiri yang menggagalkan Kamerun melaju ke Babak 16 Besar. Pemain lainnya adalah Rogelio Funes Mori, yang berasal dari Argentina namun kemudian membela Meksiko – tempat dia mencari sesuap nasi sejak berusia 20-an tahun.
Piala Dunia di Qatar menjadi puncak perputaran perpindahan kewarganegaran di dunia sepak bola. Jumlahnya yang mencapai 16,5 persen merupakan peningkatan dari sebelumnya. Di Piala Dunia 1018, Rusia, terdapat sekitar 11,2 persen. Peningkatan jumlah pemain yang bermain untuk negara di luar kelahiran mengalami peningkatan terutama setelah gelaran Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang, yang mencapai 8,7 persen.
Kondisi ini pada akhirnya menggambarkan bahwa masing-masing federasi mencari bakat di luar batas negara mereka. Persis seperti yang dilakukan Maroko, yang menelisik pemain-pemain yang lahir dari orang tua mereka yang bermigrasi ke berbagai negara di Eropa.
Lain lagi dengan cara yang dilakukan Qatar. Mereka membangun tim nasionalnya dengan mencari pemain pra-remaja dan awal remaja dari negara lain dan melatihnya di Akademi Aspire, di Doha. Tak heran bila skuad Qatar di Piala Dunia lalu ada 10 pemain yang kelahiran luar negeri dari 8 negara berbeda.
Bagi sepak bola Indonesia, naturalisasi bukanlah hal baru. Masih lekat dalam ingatan kita saat para pemain seperti Irfan Bachdim memperkuat tim nasional Indonesia dalam Piala AFF yang diselenggarakan di Jakarta, pada akhir 2010. Meski gagal untuk menjadi juara tapi kehadiran Bachdim Cs kadung membuat publik sepak bola di negeri ini gembira tiada terkira. Padahal level turnamen itu hanyalah kawasan Asia Tenggara.
Dalam perkembangan berikutnya, Indonesia tetap sulit untuk mencetak tim nasional yang tangguh. Hingga akhirnya perburuan pemain di negeri lain – dengan syarat yang sesuai dengan peraturan FIFA kembali dilirik.
Bila kemudian naturalisasi pemain seperti ini dikritik dengan alasan semestinya tindakan ini menjadi jangka pendek semata untuk membangun tim yang lebih kuat tentu ada benarnya. Tim nasional yang kuat – yang dilahirkan dari pembinaan dan kompetisi liga lokal yang cemerlang, pasti menjadi dambaan semua pecinta sepak bola.
Namun berdatangannya para pemain naturalisasi juga memberikan efek langsung bagi para pemain asli binaan negeri sendiri. Kemampuan bermain di lapangan -- hasil tempaan pembinaan sejak usia dini dan dilanjutkan dengan kompetisi yang ketat, dan juga sikap profesional yang ditunjukkan para pemain natutalisasi itu menjadi contoh.
Satu hal yang amat penting adalah antusiasme para pemain naturalisasi saat membela timnas. Unggahan mereka di akun media sosial, berupa hashtag #garudacalling menjadi pernyataan kebanggaan mereka untuk memenuhi tugas membela negerinya. Mereka terbang untuk menempuh jarak ribuan kilometer.
Mereka begitu bersemangat bermain dengan kostum Merah Putih dan Garuda di dada, yang merupakan tanah leluhurnya. Pernyataan kapten timnas, Jay Idzes menjelaskan tentang aksinya yang bermain habis-habisan di lapangan, "Saya bukan orang luar yang membela Indonesia, tapi saya orang Indonesia yang pulang untuk membela negara Indonesia."
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Fajar WH
