Proyek Asian Games IV 1962 Jakarta merupakan salah satu implikasi dari apa yang disebut “Politik Mercusuar”. Presiden Sukarno sebagai orang paling berpengaruh pada masa Demokrasi Terpimpin memainkan peran penting dalam perhelatan olah raga akbar Asia ini, sehingga nuansa politisnya sangat kental dalam penyelenggaraan Asian Games IV 1962 Jakarta.
Bung Karno sangat berambisi untuk tampil menjadi salah satu pemeran utama dalam percaturan global. Untuk mencapai tujuannya itu, dia harus berhasil menampilkan identitas baru Indonesia. Sebuah kebutuhan akan identitas bangsa yang merdeka membuat Proyek Asian Games IV 1962 Jakarta bermakna sangat penting. Jakarta sebagai tuan rumah harus sempurna merepresentasikan wajah Indonesia.
Mercusuar Poskolonial
Penyelenggaraan Asian Games IV 1962 membuat Jakarta merasa wajib berbenah agar dapat menampilkan wajah Indonesia kepada dunia. Jakarta harus berubah seiring dengan cita-cita besar yang diusung Sukarno. Jakarta harus dapat menyampaikan pesan kepada dunia: Inilah Jakarta! Ibu kota negara Indonesia yang merdeka! Sebuah usaha penghapusan memori Batavia sebagai lambang kejayaan kolonial harus dilakukan (lihat Abidin Kusno, Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia, 2000).
Menurut sejarawan Andri Rahman Alwi dalam penelitiannya, “Proyek Asian Games IV 1962 Jakarta: Sebuah Mega Proyek Nation Building Sukarno” (2009), meneroka bahwa Proyek Asian Games IV 1962 Jakarta merupakan sebuah proyek maha besar bagi negara yang baru merdeka seperti Indonesia. Demi suksesnya penyelenggaraan ajang olah raga prestisius ini, memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang, terutama dari segi venue pertandingan maupun sarana pendukung. Seperti halnya penyelenggaraan Asian Games Jakarta tahun 1962 yang sarat dengan muatan politis, hal ihwal yang sama juga berlaku dalam pembangunan fisik kota Jakarta yang menyertainya. Indonesia masa Demokrasi Terpimpin memang memungkinkan politik untuk memasuki bidang lain di luarnya. Ledakan pembangunan yang mewarnai kota ini menandai dimulainya era baru Indonesia modern.
Sukarno adalah sosok paling berpengaruh dalam konstelasi politik masa Demokrasi Terpimpin. Sukarno tentu tidak mau ketinggalan untuk menuangkan ide dan semangat revolusionernya dalam pembangunan proyek-proyek untuk Asian Games. Semua bangunan yang dibangun untuk keperluan Asian Games pada 1962 harus sejalan dengan ide revolusioner maupun selera Sang Pemimpin Besar Revolusi. Sukarno terkesan sangat detail dalam memuaskan selera seninya. Bung Karno juga termasuk perfeksionis yang sangat terobsesi dengan bentuk, baik arsitektur gedung maupun ruang.
Pembangunan venue terpenting untuk penyelenggaraan Asian Games Jakarta tahun 1962 adalah kompleks Gelanggang Olah Raga Bung Karno yang terletak di Senayan. Sebelumnya Gelanggang Olah Raga Bung Karno direncanakan akan dibangun di kawasan Dukuh Atas, tetapi diganti atas saran Ir. Silaban karena dianggap akan memacetkan wilayah bundaran Hotel Indonesia. Akhirnya pilihan jatuh di Senayan, sebuah kawasan di sebelah kota satelit Kebayoran Baru. Secara keseluruhan pembangunan kompleks olah raga Senayan menelan biaya 12 ½ juta dolar. Sumber pendanaan proyek itu diperoleh dari bantuan kredit Uni Soviet. Segala usaha dan kekuatan dikerahkan demi suksesnya pembangunan proyek Asian Games Jakarta.
Stadion Utama Gelora Bung Karno merupakan proyek monumental paling fenomenal yang terdapat dalam kompleks olah raga Senayan. Stadion raksasa berlantai lima ini terdiri dari sebuah lapangan sepak bola yang dikelilingi oleh ring atletik, dan mampu menampung jumlah penonton yang fantastis: 110.000 orang. Rancangan stadion ini dikerjakan oleh L. S. Tyatenko. Tyatenko juga mengerjakan desain Stadion Lenin, sebuah stadion raksasa di kota Moskow. Meskipun desain dikerjakan oleh arsitek Soviet, bukan berarti ide-ide Sukarno tidak ikut bermain di dalamnya. Salah satu yang fenomenal adalah ide atap temugelang yang diaplikasikan dalam konstruksi Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan.
Keunikan dari Stadion Utama Senayan bukan hanya dari desain atap temugelang, akan tetapi juga pada keseluruhan penampilannya yang terbentuk secara ritmis dan harmonis dalam kesatuannya yang padat. Pilar-pilar tipis yang berurutan menyangga konstruksi dan mempertemukan bagian demi bagian menjadi sebuah atap yang unik. Ruang antar pilar-pilar tipis itu membentuk ruang gelap dan terang yang berekspresi sesuai dengan pergantian siang dan malam. Di siang hari, harmoni cahaya matahari masuk ke celah-celahnya, dan bila malam hari, cahaya berpendar di antara lubang-lubangnya.
Stadion Utama Gelora Bung Karno merupakan bangunan tunggal yang sangat menonjol di kompleks olahraga Senayan dan berperan sebagai pengikat massa bangunan yang lainnya. Bangunan tersebut merupakan karya arsitektur pertama bangunan fasilitas publik dari bangsa Indonesia yang berupa kawasan olahraga yang megah dan bertaraf internasional. Maha karya ini merepresentasikan kegigihan sebuah bangsa yang baru merdeka untuk tampil ke pentas politik dunia melalui bidang keolahragaan.
Dalam pandangan Sukarno–seperti yang dijelaskan oleh sejarawan Farabi Fakih, dalam bukunya, Membayangkan Jakarta di Bawah Sukarno (2005)–bahwa salah satu bentuk nyata dari konsep yang dinyatakannya sebagai nation building adalah terletak pada prestasi di bidang olah raga. Hanya terdapat satu ukuran dalam bidang keolahragaan, yaitu prestasi. Keutamaan dalam bidang olah raga hanya ditentukan melalui prestasi yang tertinggi dan tidak terikat pada warna kulit dan suku. Melalui peningkatan mutu dan prestasi di gelanggang olah raga internasional, akan menjadikan bangsa Indonesia disegani dan dihormati oleh bangsa lain di dunia.
Candradimuka Indonesia baru
Kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games ditanggapi oleh Sukarno sebagai suatu momentum untuk dapat memperlihatkan Indonesia ke pentas dunia internasional. Sungguhpun konsekuensi yang harus dipersiapkan Indonesia sangat berat. Sebagai tuan rumah, Indonesia harus menyiapkan venue kegiatan olahraga multicabang, karena hal tersebut merupakan persyaratan minimum yang harus dimiliki sebagai tuan rumah. Sehingga pembangunan kompleks olah raga seperti Senayan merupakan suatu keharusan. Untuk mempersiapkan fasilitas tersebut, Sukarno membentuk DAGI (Dewan Asian Games Indonesia) di bawah Menteri Penerangan Maladi, yang ditugaskan memimpin persiapan pembangunan sports venues, perkampungan atlet, Hotel Indonesia, pembangunan jalan-jalan baru, siaran televisi serta sarana olahraga yang masih diperlukan.
Kunjungan Sukarno ke Moskow pada 1956 membawa kesan tersendiri baginya. Sewaktu di Moskow, dia sempat menyaksikan kemegahan Stadion Lenin. Sikap hangat pemerintah Uni Soviet kepada Indonesia juga turut mendorong Sukarno untuk melakukan kerja sama di bidang teknologi dan pendanaan. Dalam perencanaan rancangan Stadion Utama Gelora Bung Karno, peran Sukarno sangat menonjol. Kekuatan rancangan dari Sukarno terletak pada konsep kemegahan, kekokohan struktur serta artistik. Sukarno berharap agar mahakarya arsitektur main stadium tersebut dapat dipandang sebagai bangunan yang terbesar, termegah dan terbaik di antara bangsa lainnya.
Selain keunikan Stadion Utama Gelora Bung Karno yang berupa atap temugelang, Sukarno juga menggunakan momentum penting dengan mengkait-kelindankan dengan hari atau tanggal yang bertepatan dengan peristiwa sejarah. Untuk menengarai awal pembangunan Gelanggang Olah Raga Bung Karno, Sukarno menentukan tanggal 8 Februari sebagai hari baik untuk memulai proyek Stadion Utama dengan pertimbangan kesamaan tanggal dengan wafatnya seorang pahlawan nasional: Pangeran Diponegoro. Bung Karno mengagumi sosok Diponegoro.
Selain Stadion Utama Gelora Bung Karno yang menjadi ikon, di dalam kompleks Gelanggang Olah Raga Bung Karno Senayan, masih ada beberapa bangunan yang cukup monumental dan dibangun untuk menjadi venue dari Asian Games 1962. Bangunan itu, antara lain Covered Sporthall Senayan, sebuah arena olah raga tertutup. Covered Sporthall Senayan juga menjadi tempat dipanggungkannya ajang Thomas Cup 1962, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Tidak seperti Stadion Utama Gelora Bung Karno yang oleh Sukarno diberikan pujian setinggi langit, Covered Sporthall Senayan justru dianggap Sukarno sebagai bangunan yang biasa saja. Sukarno selain berupaya menumbuhkan rasa kebanggaan, rupanya ingin menumbuhkan perasaan tidak puas diri kepada bangsa Indonesia agar mendapat semangat untuk terus menuai kemajuan.
Secara analisis semiotika arsitektur, Stadion Utama Gelora Bung Karno pada awalnya merupakan fenomena dan akhirnya terwujud sebagai pengungkapan mentalitas seorang Sukarno. “Onward, No Retreat, Maju Terus, Pantang Mundur” direfleksikan sebagai upaya dan semangat Bung Karno agar dapat tampil ke pentas internasional melalui karya arsitektur di bidang olah raga. Main stadium Gelora Bung Karno telah menjadi simbol perjuangan politik Sukarno melalui kedahsyatannya berkarya dalam rancangan arsitektur.
Hotel Indonesia juga menjadi salah satu gedung yang dibangun guna menyambut Asian Games 1962. Hotel Indonesia merupakan bangunan pencakar langit pertama di Indonesia yang berdiri kokoh dengan 14 lantai. Proyek pembangunan Hotel Indonesia dibiayai dengan uang hasil Perjanjian Pampasan Perang dari Jepang. Dalam perlawatan “keliling dunia”-nya, Sukarno sempat singgah di Amerika Serikat. Ketika berkunjung ke Gedung Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Sukarno sangat terkesan dengan penampilan bangunan tersebut.
Menurut sejarawan cum arsitek Yuke Ardhiati dalam karyanya, Bung Karno Sang Arsitek (2005), Abel Sorensen, arsitek yang merancang gedung itu akhirnya ditunjuk Sukarno untuk membantunya merancang Hotel Indonesia. Uniknya dalam proses perancangan Hotel Indonesia, tidak jarang terjadi perdebatan antara arsitek Abel Sorensen dengan Sukarno. Sikap turut campur Sukarno terhadap segala detail rancangan membuat perdebatan kadang tidak terhindari. Sampai-sampai terlontar kata-kata dari Bung Karno bahwa, “Jangan lupa saya juga seorang insinyur, jadi Hotel Indonesia juga dibangun oleh seorang Presiden”. Bukan hanya dari segi arsitektural yang dinilai cukup baik karena menyesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia, tetapi juga desain interior dari hotel dengan 14 lantai ini cukup unik.
Sukarno secara teliti telah menemukan dan meracik gagasan interior dari Hotel Indonesia. Selain menentukan nama-nama ruangan fasilitas hotel, Sukarno juga menentukan jenis dan tema dekorasi dinding hotel. Salah satu ruangan yang diberi nama Java Room Coffeshop untuk mengingatkan Java Coffee dari Indonesia. Demikian pula nama Bali Room yang terletak di sebelah kanan bangunan utama dengan kapasitas 1000 orang. Akustik ruang multifungsi itu sangat diperhatikan oleh Sukarno.
Sebuah ruangan yang didesain khusus secara artistik adalah Ramayana Room, sebuah diningroom yang besar dengan dekorasi mural pada dinding sebelah atas. Seniman Darta dari Yogyakarta yang mendapat tugas untuk melukis bagian atas dinding tersebut. Sebuah kisah Ramayana dilukis pada dinding luar ruangan restoran dengan “atap kubah” sebagai pelindungnya, lukisan tersebut dilukis oleh pelukis Lee Man Fong.
Sukarno tidak ragu untuk menahbiskan Hotel Indonesia sebagai “Wajah Muka Indonesia”. Pada masa itu, belum ada satu pun bangunan berlantai 14 selain Hotel Indonesia. Hotel Indonesia adalah mahakarya gedung pencakar langit pertama di Indonesia. Keberadaannya merupakan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia.
Selain bangunan gedung Hotel Indonesia yang megah dengan interior artistik etnik yang indah, ketika itu juga dibangun sebuah obyek yang hingga sekarang menjadi salah satu landmark dari kota Jakarta. Tepat di depan Hotel Indonesia, dibangun sebuah kolam air mancur dengan bentuk bundaran besar yang diberi nama Henk Ngantung Fountain. Di atas kolam air mancur besar itu muncul sebuah patung yang menggambarkan sepasang pemuda dan pemudi sedang melambaikan tangan sambil membawa karangan bunga. Karya simbolis yang kemudian dikenal sebagai “Patung Selamat Datang” dibuat oleh pematung Edhi Soenarso atas gagasan Bung Karno.
Secara simbolis patung itu bertujuan untuk menunjukkan keramahan bangsa Indonesia terhadap tamu luar negeri. Sesuai dengan tema yang diberikan, “Patung Selamat Datang” secara khusus juga dibangun untuk menyambut atlet-atlet dari luar negeri yang turun dari Bandar Udara Internasional Kemayoran menuju ke kompleks Gelanggang Olah Raga Bung Karno di Senayan untuk berlaga di Asian Games pada 1962 di Jakarta.
Proyek Transportasi-Media
Selain proyek-proyek yang bersifat bangunan, juga terdapat proyek yang bersifat fasilitas umum seperti Jakarta By Pass dan Jembatan Semanggi. Proyek pembangunan sarana umum yang lain seperti pelebaran Jalan Thamrin dan Sudirman juga pembangunan Jalan Cawang-Grogol (14 km) merupakan bagian dari pembangunan Senayan. Kebutuhan yang mendasar seperti jalan raya untuk memperlancar arus lalu lintas memang sangat diperlukan mengingat Senayan menjadi pusat kota baru.
Pembangunan Jakarta By-Pass merupakan proyek yang tidak secara langsung berhubungan dengan proyek Senayan. Jakarta By-Pass (27 km) dibangun sebagai jawaban atas makin meningkatnya arus kendaraan di salah satu jalanan utama kota Jakarta yaitu Senen-Jatinegara. Keberadaan jalan ini mempermudah pengiriman barang-barang dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu, pembangunan jalan tersebut telah memudahkan akses ke bagian timur kota, yang menyebabkan pembangunan perumahan seperti Cempaka Putih ataupun kota satelit seperti Pulo Gadung. Selain untuk mendukung kelancaran ajang Asian Games 1962, Jakarta By-Pass pada waktu itu menjadi sebuah fenomena karena merupakan ring-road perdana di Indonesia.
Jembatan Semanggi merupakan arsitektur monumental yang juga digagas oleh Sukarno. Jembatan Semanggi adalah jembatan layang pertama di Indonesia. Selain menjadi sebuah bangunan yang fenomenal Jembatan Semanggi juga dimaksudkan untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar pusat kota baru Senayan yang semakin ramai. Saat itu, Jembatan Semanggi diklaim sebagai cloverleaf bridge terbesar di Asia Tenggara. Meskipun demikian, seperti yang sering dikatakan Sukarno, dia tidak mau merasa cepat puas dengan hasil tersebut. Rasa tidak puas dianggap Sukarno akan menjadi motor penggerak untuk memperoleh kemajuan.
Selain proyek-proyek itu, penyelenggaraan Asian Games 1962 juga menghadirkan sejarah baru bagi bangsa Indonesia. Televisi Republik Indonesia (TVRI) lahir berdasarkan SK Menteri Penerangan Tahun 1961 untuk mengantisipasi keinginan pemerintah, agar pertandingan olah raga terakbar di benua Asia ini diliput oleh media televisi. Dengan pemencar berkekuatan 100 watt dan tiga kamera serta organisasi siaran yang masih sanggat sederhana, TVRI berhasil meengudara di saluran 5 dalam acara liputan peringatan 17 Agustus 1962 di Istana Negara.
Seminggu kemudian, tanggal 24 Agustus 1962 pukul 14.30 WIB, TVRI mengudara dengan kuat pancar 10 kilowatt. Dari tiang antena setinggi 80 meter yang dipasang beberapa jam sebelumnya, dipancarkan liputan acara pembukaan Asian Games IV di Stadion Utama Senayan di saluran 9. Siaran televisi yang masih hitam putih pada waktu itu baru dapat dinikmati masyarakat di sekitar Jakarta. Namun, para pekerja TVRI telah mengukir sejarah baru di jagat media massa Indonesia. Mereka berhasil menangani sendiri teknologi maju, sekitar tujuh tahun setelah penduduk Indonesia melihat pesawat televisi buatan Uni Soviet di Pekan Raya 200 Tahun kota Yogyakarta (1955). Sejak itu, televisi menjadi kotak ajaib bagi masyarakat Indonesia.
Arkian, proyek Asian Games IV Jakarta 1962 memainkan peranan dalam tataran penting sebagai sebuah simbolisasi bagi negara-bangsa –yang seperti dikatakan Benedict Anderson– imajiner. Penjajahan yang sekian lama membelenggu pada akhirnya dianggap Sukarno sebagai “cacat” bagi bangsa Indonesia. Untuk menghapuskannya perlu dilahirkan sebuah identitas bangsa yang merdeka, yang terbebas dari kultur penjajahan. Konsepsi “Revolusi Belum Selesai” agaknya membutuhkan manusia-manusia Indonesia yang tangguh, baik jasmani maupun rohani, sebagai pendukung dari konsepsi ini.
Asian Games sebagai sebuah ajang olah raga multicabang terbesar di benua Asia, dianggap Bung Karno cukup penting bagi jalannya revolusi Indonesia. Dengan terselenggaranya Asian Games di negeri mereka, maka rakyat akan tergerak untuk berolah raga. Menurut Sukarno, olah raga merupakan salah satu anasir dari revolusi Indonesia. Satu hal yang sangat berguna bagi jalannya revolusi Indonesia.
Terakhir dan tidak kalah penting adalah bagi telatah Sukarno, penyelenggaraan Asian Games IV Jakarta 1962 akan bernilai prestise dalam pergaulan Indonesia di kancah internasional. Tak salah apabila Proyek Asian Games IV Jakarta 1962 merupakan implikasi dari “politik luar negeri mercusuar” yang dicetuskan Sukarno. Dia berharap melalui penyelenggaraannya, bangsa Indonesia akan menunjukkan “wajah muka” yang ideal; bahwa ia pantas bersanding dengan bangsa besar lainnya di dunia, meskipun fakta berbicara lain, yaitu kondisi perekonomian Indonesia pada saat itu sedang kembang kempis.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus
