Novel dan Mereka yang Lapar

Novel dan Mereka yang Lapar

Film baru membawa “sejarah” meski bermula dari novel. Kita menonton film teringat novel. Pada saat membaca novel, kita mengetahui ada percik-percik sejarah dihadirkan oleh pengarang. Di hadapan film, kita tergoda membuat perbandingan dengan novel. Konon, film baru itu memilih “adaptasi” ketimbang membawa semua hal dalam novel. Urusan sejarah terlihat oleh penonton sebagai ramuan dan dampak.

Film tak mengikuti judul novel. Pada masa 1950-an, Mochtar Lubis moncer dengan novel berjudul Djalan Tak Ada Udjung. Pada abad XXI, penggarapan film merujuk novel memilih judul berbeda: Perang Kota. Judul film condong menguatkan (latar) sejarah. Cerita bergerak dalam arus revolusi. Penonton diajak melihat sejarah tanpa melupa novel sebagai persembahan fiksi.

Kita belum ingin berlagak paham sejarah. Di novel gubahan Mochtar Lubis, kita menemukan tokoh rajin menderita. Ia bernama Guru Isa. Pembaca memilih satu masalah saja: lapar. Derita terletak di perut. Guru Isa mengalami lapar hampir setiap hari. Mochtar Lubis mengisahkan: “… dia mengambil gelas jang tertelungkup di medja. Gelas jang sedikit kotor karena djarang ditjutji dengan sabun. Guru Isa berdiri dan pergi ke kran air di belakang kelas. Sesuatu menggelepar dalam perutnja. Gelepar urat-urat perut jang kosong. Gelas itu diisinja penuh-penuh kemudian diangkatnja tinggi-tinggi seperti orang dalam upaja hendak minum anggur atau sampanje. Kemudian air itu diminumnja, teguk-teguk besar jang tidak putus-putus kelihatan lewat tenggorokannja. Buah lehernja turun-naik ikut dengan setiap teguk jang lewat.”

Adegan jelang siang di sekolah. Situasi rumit setelah gegeran di jalan atas nama perang kota. Guru Isa selamat, berhasil melanjutkan perjalanan sampai sekolah. Hari-hari revolusi mengakibatkan sekolah sepi dari guru dan murid. Di sekolah, Guru Isa sempat berpikiran mencuri sebungkus buku tulis milik sekolah. Ia ingin menjual gara-gara harga buku tulis di pasar terbukti mahal. Uang bakal digunakan menumpas lapar. Mochtar Lubis menguak jagat batin tokoh: “Dengan uang itu dia akan dapat membeli beras. Rasa malu mendjalar ke dalam hatinja ketika pikiran kotor ini melintas di kepalanja.”

Ia tak ingin berhasil menjadi pencuri. Lapar minta jawaban. Guru Isa memilih menanggulangi derita bernama lapar dengan air, bukan nasi dan lauk. Air dianggap jawaban “darurat” agar tetap hidup. Adegan minum itu mengharukan saat tokoh makin menderita dan hampir berbuat dosa. Dampak singkat: “Tangan kirinja memukul-mukul perutnja – sudah diisi sekarang, jangan keroncongan lagi – kata tangan itu pada perutnja jang kosong, belum makan dari pagi. Dan, sekarang, sesuatu dalam perutnja itu telah berhenti menggelepar.” Pada masa revolusi, menjawab lapar memang tak mudah.

Penderita lapar berada di Jakarta. Pada masa lalu, Jakata menjadi alamat proklamasi tapi revolusi memberi derita “tak ada ujung” bagi orang-orang lemah dan penakut. Di Jakarta, orang-orang lapar berusaha mengadakan jawaban meski sulit. Beragam tindakan dilakukan agar perut tak terlalu menderita untuk berlanjut dalam tajuk kematian. Lapar akibat proklamasi dan revolusi mencipta absurditas di Indonesia.

Mochtar Lubis bukan sedang serius menceritakan lapar. Ia justru membuat pembaca menunda prihatin atas perut-perut belum terisi nasi. Beras sedang langka. Harga beras pun mahal. Hasrat makan tiga kali sehari itu mudah dicap sombong atau serakah. Menderita itu kelumrahan saat revolusi memiliki seribu wajah. Guru Isa belum selesai menjawab lapar dengan air dari kran.

Ia melanjutkan peristiwa agak menghibur. Siasat pengarang agar pembaca tak jatuh dalam kasihan atau iba kebablasan: “Dia mulai bersiul-siul, menjanjikan lagu jang sedang dikarangnja untuk kelasnja. Lagu untuk kanak-kanak jang sederhana melodinja… Dia membuka lemari dan mengeluarkan tempat biolanja. Telah agak tua dan udjung-udjung kain perak hitam penutup biola telah terkelupas.” Jawaban estetis atas perut lapar: biola dan lagu. Kita menikmati novel “bermelodi kelaparan” saat revolusi adalah suara tembakan-tembakan, jeritan, dan deru jalanan.

Di tempat lain dan waktu berbeda, kita berjumpa tokoh mencampur serius dan kelakar dalam menjawab lapar. Pada akhir abad XIX, terbit novel gubahan Knut Hamsun. Novel berpengaruh di Eropa, lekas bersebaran di dunia. Novel itu datang kepada para pembaca di Indonesia berjudul Lapar. Novel diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Marianne Katoppo. Kita diajak berkelana jauh dan mengetahui silam. Lapar itu masalah akbar, tak mudah mendapat jawaban paripurna di Eropa abad XIX.

Tokoh menanggung lapar setiap hari. Ia tak mau kalah. Lapar mengesahkan kemauan menghasilkan tulisan-tulisan filsafat. Tokoh masih ingin terhormat meski tak ada jaminan bisa makan setelah membuka mata atau sebelum tidur. Perut itu bukti sah dari derita berjudul lapar. Di kursi taman kota, tokoh merenungi lapar dalam urusan Tuhan dan manusia.

Pembaca malah dipaksa merenung: “Serpihan-serpihan ajaran masa kanak-kanak melintasi benakku. Musik Alkitab bergema dalam telingaku. Dan, aku berbicara pelan-pelan pada diriku sambil menyandarkan kepala secara kesal ke sisiku. Betapa aku kuatirkan perihal makanan, minuman, serta akan dikenakan apa gerangan pada sosok yang lusuh ini, yang dinamakan tubuh fanaku ini? Bukankah Bapaku yang di surga telah mempedulikanku sampa seperti Ia mempedulikan burung pipit di langit. Dan, bukankah Ia telah menunjukkan rahmat-Nya padaku oleh cobaan-cobaan-Nya ini?”

Ia sadar telah menjual dan menggadaikan segala barang. Diri tak sekadar miskin. Ia seperti sedang dimampuskan oleh dunia. Ingatan kepada Tuhan dan masa lalu memberi pijakan agar tak jatuh gara-gara lapar. Keberanian berpikir dan menghasilkan tulisan menggunakan pensil di kertas ingin dijadikan bukti manusia insaf kefanaan. Benda-benda dimiliki atau pakaian di tubuh harus diserahkan ke pegadaian atau pedagang demi ia masih mengerti makanan. Semua demi menjawab lapar. Jawaban tak pernah tuntas.

Absurditas terbaca dalam novel garapan Knut Hamsun. Kita melihat tokoh bergelimang derita: “Betapa bertambah pedihnya masalahku! Kini, aku sedemikian hina papanya sehingga bahkan tak mempunyai sisir lagi, juga tak lagi memiliki buku satu pun yang dapat kubaca pada saat putus asa. Sepanjang musim panas, aku duduk di taman pemakaman atau di taman bunga dekat istana, sambil menulis artikel-artikel bagi surat kabar mana saja, dipenuhi dengan segala macam ide, ilham, khayal, yang terpancar dari benakku yang teramat resah. Terdorong keputusasaan, aku memilih subjek-subjek yang paling ganjil”

Ia berjanji belum tamat jika ada kertas dan pensil. Harga diri sebagai manusia masih bisa disampaikan kepada sesama manusia dan Tuhan. Pada saat lapar, ia malu bila gagal berpikir dan absen menghasilkan tulisan. Tokoh itu memiliki penghiburan berupa kata-kata ditulis menggunakan pensil meski perut tersiksa.

Dua novel dari negara berbeda mengajarkan lapar. Pembaca diminta tak tergesa mengartikan lapar membutuhkan makanan. Usaha menjawab itu sulit. Dua tokoh dalam dua novel itu sadar keterbatasan. Tindakan terhormat atau perbuatan dosa bisa diadakan tanpa memberi jawaban sempurna. Lapar tak sekadar menghasrati makanan. Pembaca justru mendapat pengajaran tentang musik dan tulisan. Tokoh menanggung lapar berhak memainkan biola. Tokoh terbiasa tersiksa lapar boleh berpikir berat dan berusaha menuntaskan tulisan-tulisan. Musik dan tulisan itu penghiburan bagi sosok-sosok mengerti lapar. Begitu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo