Ekosistem Politik PBNU Era Gus Kikin

Ekosistem Politik PBNU Era Gus Kikin

KEMARIN, Selasa 6 Oktober, Sekretaris Jenderal PBNU Gudfan Arif, menerima Wakil Duta Besar Qatar. Pertemuan di gedung PBNU tersebut membahas tiga hal: energi, pendidikan dan pariwisata.

Sekjen Gudfan adalah "kader" Gerindra. Dia bisa disebut salah satu jangkar dari ekosistem politik partainya Presiden Prabowo Subianto di PBNU. Putra Kiai Ghofur, kiai kharismatik dari Lamongan ini, tampaknya "dimandati" untuk "memakai" NU. Memakai dalam konteks ini ialah NU sebagai legitimator sosial kemasyarakatan proyek dan program pemerintahan Prabowo maupun kepentingan Gerindra.

Membaca Gudfan juga relevan dari sudut relasinya dengan kepolisian RI. Ketika terjadi pergeseran pucuk pimpinan kepala kepolisian RI, dari Listyo Sigit ke Suyudi, publik juga membaca trimatra berikut: Gerindra-Polri-PBNU. Hal ini terbaca dari pergantian pimpinan polri hanya selisih sehari dari pengumuman kepengurusan lengkap PBNU hasil Muktamar Tambakberas.

Tampaknya, Hambalang berkeinginan agar Gudfan (atau bisa juga sebaliknya Gambir) tidak kehilangan ekosistem Trimatra tersebut. Sehingga secara tidak langsung bisa dibaca kalau Suyudi seperti memang didesain sebagai tandem inti Gudfan ke depan.

Kiai Asep, Lilur dan Solihin

Sebelum pengurus PBNU diumumkan--setelah Muktamar Jombang--ada gelagat lahirnya oposan bagi kepengurusan yang berkantor di Jalan Kramat ke depan. Kholilur Rahman Syahlawy (Lilur), Kiai Asep Saifudin Chalim, Marzuki Mustamar dan Sholihin, pantang mundur menghadapi gertakan Saifullah Yusuf (Ipul).

Namun, meskipun di permukaan hanya mereka berempat yang terdengar speak up, sejujurnya merekalah juru bicara hati nuraninya jutaan warga NU, ratusan ribu santri, mewakili puluhan ribu pesantren, para gus serta para kiai pejuang NU sejati. 

Di sisi lain, kelompok-kelompok kepentingan juga terus memantau gerakan para oposan tersebut. Apalagi menguatnya kelompok oposan ini seirama dengan momentum isu risywah (suap) dalam penyelenggaraan Muktamar Jombang yang gagal diklarifikasi oleh Ipul maupun Ikhsan Abdillah. Oposan ini juga memperoleh limpahan momentum dari keprihatinan orang-orang NU yang mempertanyakan mengapa kiai-kiai besar tidak masuk Ahwa?

Selebihnya, publik juga menyimak pasif-nya PKB dari dinamika muktamar maupun penyusunan kebinetnya Gus Kikin. Raden Saleh "absstain" dari dua momentum tersebut. Sikap Raden Saleh ini menarik. Berbeda dengan sikapnya pada muktamar-muktamar sebelumnya. Sekilas terlihat, PKB seperti wait and see, menahan diri bahkan untuk sekadar ber-statement sedikit apalagi kritis tentang Muktamar Jombang maupun komposisi PBNU.

PBNU di antara Dua Pelanduk

Situasi internal PBNU yang belum stabil ini tidak berbeda dengan ekosistem politik eksternal. Dua gajah yang tengah memperkuat kuda-kuda, secara naluriah dan alamiah, pasti memakan korban.

Hubungan dan ekosistem politik yang dibangun dan disetting ulang oleh hambalang, secara diametral berhadapan dengan Genk Solo. Tidak ada yang memandang ringkih solo meski sudah tidak berada di pusaran kekuasaan. Kontrol Solo atas sejumlah aparat penegak hukum, termasuk kepolisian, tidak serta merta sirna pasca berakhir dan beralihnya era Listyo Sigit ke Suyudi.

Benar, Listyo Sigit adalah die hard Solo. Tetapi terlalu simplistis melihat Suyudi sebagai antitesa Listyo. Antitesa dalam arti menempatkan dirinya sebagai die hard Hambalang. Bukankah korp coklat lebih nyaman bekerja sama dengan sipil (baca Solo), ketimbang mengabdi kepada militer (Hambalang)? Secara empirik, catatan relasi militer-polisi sepanjang Orde Baru, superioritas militer menempatkan polisi menjadi semacam Pramuka semata.

Walahasil, serpihan yang menyerupai puzzle dari tulisan ini, mengusung kegelisahan tunggal: bagaimana nasib dan masa depan NU produk Muktamar Tambakberas ke depan? Kegelisahan ini relevan. Sejumlah langkah konsolidasi dan rekonsiliasi yang dijanjikan Gus Kikin, faktanya masih sebatas retorika semata. 

Alih-alih rekonsiliasi akomodatif terhadap sejumlah kekuatan di NU, Gus Kikin justru menjejali dan men-sesaki pengurus PBNU dengan para pendatang, naturalisasi maupun representasi individu. Rekonsiliasi dan konsolidasi retoris ala Gus Kikin ini, sejatinya bom waktu yang mudah meledak manakala trigger internal tersulut oleh percikan eksternal. 

Dengan ekosistem seperti ini, PBNU era Gus Kikin tak ubahnya seperti "gajah bertarung melawan gajah, lalu pelanduk mati di tengah-tengah". Wallahu A'lam..


$data['detail']->authorKontri->kontri

M Sholeh Basyari
Lektor Kepala Sekretaris Program Pascasarjana Insuri Ponorogo, Wasekjen PB IKA PMII dan Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS)


Editor: Muhammad Taufiq
logo