Ketika Film Tidak Lagi Milik Kota
Menonton film di Indonesia selama dua dekade terakhir bagaikan menyaksikan negeri ini merangkak keluar dari kabut panjang. Dulu, sinema kita sempat mati suri. Gedung bioskop tutup satu per satu, dan generasi 90-an lebih akrab dengan film-film asing di televisi swasta ketimbang sinema lokal.
Tapi kini, kita menyaksikan geliat baru. Bioskop hidup lagi, film Indonesia menempati posisi utama di layar-layar besar, dan yang lebih mengejutkan: film bukan lagi milik kota semata.
Sebagai penonton biasa yang hidup jauh dari pusat industri hiburan, saya menyaksikan sendiri bagaimana kehadiran film lokal; terutama yang lahir dari komunitas, pelajar, dan akar rumput; mulai menyentuh kehidupan kami.
Bukan sekadar tontonan, film menjadi cermin, menjadi suara, dan menjadi ruang bersama. Salah satu fenomena paling penting dalam hal ini adalah tumbuhnya festival film pelajar di berbagai daerah, dan Festival Film Pelajar Purbalingga (FFPP) adalah salah satu contoh terbaiknya.
Tumbuh di Luar Sorotan
Ketika Jakarta dan kota-kota besar sibuk dengan gala premier dan penghargaan perfilman, di banyak daerah, anak-anak muda sibuk meminjam handycam, belajar menyusun naskah, dan menyulap kampung halaman mereka jadi latar kisah. Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana penonton di lapangan terbuka diam menyimak film pendek buatan pelajar. Bukan karena sinematografinya megah, tapi karena ceritanya begitu dekat. Tentang ibu yang jadi buruh cuci, tentang tradisi sedekah bumi, tentang sawah yang berubah jadi ruko.
Film-film seperti itu mungkin tidak akan tayang di bioskop komersial, tapi justru di situlah maknanya. Mereka merekam Indonesia yang tak tersentuh kamera studio besar. Mereka bercerita dengan logat daerah, dengan laku hidup yang sederhana, dan dengan sudut pandang yang tak bisa dipalsukan.
Sebagai penonton, saya merasa sedang tidak hanya menonton cerita, tapi sedang "didongengi" oleh bangsa saya sendiri.
Seringkali film-film pendek itu hanya berdurasi 10–15 menit, namun mampu menyampaikan lebih banyak makna daripada film berdurasi dua jam. Ia menggugah tanpa harus menggurui. Di situlah kekuatan bahasa visual yang jujur dan lahir dari kenyataan hidup sehari-hari.
Perubahan yang Digerakkan oleh Komunitas
Apa yang dilakukan oleh Festival Film Pelajar Purbalingga selama hampir dua dekade ini bukan hanya soal teknis perfilman. Mereka membangun ruang belajar lintas generasi. Anak desa belajar menulis, menyutradarai, bahkan menyunting film mereka sendiri. Lebih penting lagi, mereka belajar berpikir kritis, menggali sejarah kampungnya, dan mengangkat isu-isu yang kerap dipinggirkan.
Dalam banyak kasus, festival ini juga membuka partisipasi masyarakat. Film-film mereka diputar keliling desa, di balai warga, di halaman sekolah, bahkan di warung kopi. Ini menjadikan film sebagai milik bersama, bukan milik segelintir orang di pusat industri. Penonton tak lagi pasif. Mereka berkomentar, berdiskusi, bahkan ikut jadi aktor.
Saya percaya, ini adalah bentuk paling tulus dari pendidikan budaya: belajar mengenali siapa kita melalui cerita kita sendiri. Komunitas menjadi motor perubahan. Mereka tidak hanya mencetak sineas muda, tapi juga membentuk cara pandang baru terhadap budaya, sejarah, dan masa depan.
Bahkan lebih dari itu, FFPP telah meneguhkan apa yang saya sebut sebagai “kedaulatan narasi”. Anak-anak muda itu menolak didikte dari luar. Mereka memilih cerita mereka sendiri, cara mereka sendiri, dan sudut pandang mereka sendiri. Dalam dunia yang penuh konten seragam, keberanian ini sangat layak dihargai.
Kebangkitan Film Daerah: Jalan Sunyi yang Menghidupkan Narasi Pinggiran
Film daerah tumbuh tidak dengan gegap gempita. Mereka lahir dari keterbatasan, tapi justru karena itu, mereka lebih jujur dan kontekstual. Anak-anak muda di pelosok tak punya dana besar atau alat canggih, tapi mereka punya semangat dan kedekatan emosional dengan cerita yang mereka angkat. Mereka merekam kehidupan sekitar: kemiskinan yang tak kunjung usai, hilangnya tradisi, kekuatan perempuan desa, hingga mimpi-mimpi sederhana tentang masa depan.
Festival seperti FFPP menjadikan film sebagai ruang negosiasi antara masa lalu dan masa kini. Lewat visual, mereka menyelamatkan ingatan kolektif. Mereka mempopulerkan bahasa ibu, menarasikan kembali ritual-ritual lama, dan sekaligus mengkritik ketimpangan sosial yang terjadi.
Saya membayangkan, jika di setiap kabupaten ada festival seperti ini, kita akan memiliki peta narasi Indonesia yang jauh lebih utuh. Tak hanya dari sudut pandang elite kota, tapi juga dari suara minor yang selama ini tak terdengar. Film pendek itu bisa menjadi semacam “surat kabar lokal dalam bentuk visual”; mengabarkan apa yang tak tertulis di media arus utama.
Dan yang tak kalah penting: film-film itu memperlihatkan bahwa estetika tidak harus mahal. Kreativitas dan keberanian menyampaikan perspektif seringkali lebih kuat dampaknya daripada efek visual yang megah.
Mengapa Kearifan Lokal Harus Digali?
Dalam konteks keindonesiaan yang plural dan majemuk, kearifan lokal bukan sekadar pelengkap estetika. Ia adalah inti identitas. Indonesia bukan satu suara, tapi orkestra beragam logat, budaya, dan cara pandang hidup. Film yang menggali kearifan lokal sejatinya sedang meneguhkan fondasi kebangsaan kita.
Kearifan lokal mengajarkan kita cara hidup yang selaras dengan alam, cara menyelesaikan konflik dengan musyawarah, dan cara menjaga harmoni sosial tanpa perlu teori-teori besar. Jika hal ini tidak dituturkan kembali melalui media populer seperti film, maka generasi mendatang hanya akan mengenal warisan leluhurnya dari foto-foto di museum.
Sebagai penonton biasa, saya bersyukur ketika mendapati ada film pelajar yang mengangkat cerita tentang mitos desa, tentang tokoh adat, atau tentang pasar tradisional. Sebab saya tahu, itu bukan sekadar cerita, tapi penanda arah: bahwa kita masih punya akar, dan kita tidak lupa dari mana kita berasal.
Itulah sebabnya, pelajar perlu didorong tidak hanya untuk menonton, tetapi juga mencipta. Dan mencipta tidak harus menunggu fasilitas ideal. Sebab yang paling penting adalah niat untuk menggali dan menyampaikan apa yang dekat dengan jiwa dan hidup mereka.
Cermin Sederhana tapi Jujur
Kita tidak butuh film yang sempurna. Kita butuh film yang jujur. Dan seringkali, kejujuran itu justru hadir dari anak-anak muda di daerah yang dengan alat seadanya mampu menceritakan dunia mereka sendiri.
Festival Film Pelajar Purbalingga adalah contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari layar kecil di tengah lapangan. Dari kursi plastik penonton biasa, saya menyaksikan kebangkitan sinema Indonesia yang lebih merakyat, lebih membumi, dan lebih Indonesia.
Dan jika saya boleh berharap, semoga kursi-kursi plastik itu terus bertambah. Semoga layar-layar sederhana terus terbentang di lapangan desa, dan semoga anak-anak muda terus punya keberanian bercerita, karena dari cerita merekalah Indonesia bisa melihat dirinya sendiri dengan lebih utuh dan jujur.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor: Kendi Setiawan
