Pendidikan dan Pengisahan Novel

Pendidikan dan Pengisahan Novel

Sejarah pendidikan (modern) di Indonesia tampak dari sisa-sisa bangunan sekolah atau kantor. Penjelasan-penjelasan terbaca dalam dokumen-dokumen masih dikoleksi di pelbagai perpustakaan di Indonesia, Belanda, Inggris, dan lain-lain. Beragam buku biografi dan autobiografi turut merekam arus pendidikan modern di Indonesia, sejak masa kolonial sampai revolusi. Koleksi foto-foto lama makin memberi rujukan saat menilik masa lalu. Tanah jajahan berubah akibat pendidikan modern. Perubahan-perubahan bergerak ke segala arah dengan pelbagai capaian dan sesalan.

Keinginan menjenguk sejarah pendidikan (modern) bisa juga dengan mengetuk pintu kesusastraan. Kita masuk ke novel-novel lama terbitan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir, sejak awal abad XX. Semula, novel-novel itu sering diajarkan sebagai sinopsis memunculkan pendapat-pendapat sulit berubah. Murid-murid masa Orde Baru mengingat puluhan novel Balai Pustaka menguak kawin adat atau permusuhan kaum tua menghadapi kaum muda.

Ratusan novel dari masa silam memiliki beragam tema. Pembaca bisa menentukan perhatian saat membuka halaman-halaman, sejak awal sampai akhir. Ikhtiar menghindari sinopsis beredar di institusi pendidikan dan terbit menjadi buku-buku laris. Di novel-novel, kita bakal menemukan dan menandai masalah (ter)besar dicantumkan pengarang: pendidikan. Kita tak lekas mengukuhkan itu pendidikan. Pengantar menuju masalah pendidikan: tokoh-tokoh dalam puluhan novel berpredikat murid atau siswa.

Adegan mengesankan terdapat dalam novel berjudul Sitti Noerbaja gubahan Marah Roesli (1922) berlatar sekolah. Dua tokoh (Sam dan Sitti) tampil sebagai murid di sekolah modern beralamat di Padang. Mereka belajar ilmu-ilmu berkiblat Barat bermisi “kemadjoean” atau kemodernan. Sekolah atau pendidikan menjadi pijakan pengisahan oleh Marah Roesli. Kita berimajinasi sosok Sam: “Seorang dari anak moeda ini ialah anak laki-laki, jang oemoernja kira-kira 18 tahoen. Pakaiannja badjoe, djas toetoep poetih dan tjelana pendek hitam, jang berkantjing di oedjoengnja. Sepatoenja hitam tinggi, jang disamboeng dengan ikatan kaoes getah pada betisnja. Topinja topi roempoet poetih, jang biasa dipakai bangsa Belanda. Ditangan kirinja ada beberapa kitab dengan seboeah peta boemi, dengan tangan kanannja dipegangnja seboeah belebas, jang dipoekoel-poekoelkan kebetisnja.”  Ia bisa bersekolah merujuk berasal dari keluarga mapan atau berada.

Pada saat siang, Sam pulang bersama Sitti. Di atas bendi, perjalanan menuju rumah, dua murid itu belajar. Sitti menjadi pemicu: "Sam, tadi akoe dberi hitoengan oleh Njonja Van der Stier, terntang perdjalanan djaroem pendek dan djaroem pandjang pada soeatoe djam. Doea tiga kali koetjari hitoengan itoe, sampai poesing kepalakoe rasanja, tak dapat djoega. Bagaimanakah djalannja hitoengan jang sedemikiran.” Sam tampil sebagai murid pintar, bertanggung jawab memberi petunjuk agar soal menemukan jawaban. Kita berimajinasi dua murid itu memasuki dunia “baroe”, dunia dibentuk dengan pengetahuan-pengetahuan telah memajukan Eropa. Beragam pengetahuan itu datang ke tanah jajahan dalam jalinan agenda kekuasaan dan peradaban.

Novel penting berbarengan pembuatan sejarah di Indonesia: Salah Asoehan (1928). Novel gubahan Abdoel Moeis berlatar jurnalis dan penggerak politik. Novel biasa diulas para kritikus sastra mengungkap dilema identitas dan perselisihan di naungan ideologis. Pada 1958, novel terbitan Balai Pustaka itu cetak ulang ketujuh. Di sampul, kita melihat sosok modern berpenampilan necis. Lelaki itu menandakan terdampak pendidikan modern dan pengaruh tata hidup di perkotaan. Di belakang, gambar rumah mengisahkan adat masih dipegang oleh orang-orang di kampung halaman.

Kita mengikuti alur pendidikan tokoh bernama Corrie, sosok idaman bagi Hanafi. Dua sosok terpelajar berbeda bangsa. Pengisahan hasrat pendidikan Corrie: “… setelah berumur delapan tahun, baharulah Corrie tahu bangku sekolah. setamatnja disekolah rendah, bimbang pulalah hati ajahnja antara mengirimkan dia ke Padang kesekolah MULO atau ke Betawi ke HBS. Dengan mudah Corrie menempuh kedua udjian buat masuk diterima disekolah-sekolah itu, tapi sebab kebimbangan ajahnja, jang tak sampai hati buat bertjerai dengan anaknja, hilang pulalah waktu dua tahun.” Ia menunda melanjutkan studi ke Betawi, tinggal di rumah selama dua tahun sambil menunggu pertambahan umur.
Kita mengerti kota-kota besar menjadi pusat pendidikan. Di Padang, pendidikan modern sudah maju. Orang-orang ingin meraih masa depan melanjutkan pilihan belajar ke sekolah-sekolah di Betawi. Pendidikan terbukti memberi perubahan besar bagi mereka dalam menapaki zaman. Kehidupan di kota besar makin memberi godaan-godaan meninggalkan adat dan berkiblat baru. Pelik dalam pendidikan itu bertambah dengan mutu asmara dan corak pernikahan, merujuk perbedaan adat, bangsa, dan agama.

Pada 1949, terbit novel berjudul Widjawati gubahan Partini Djajadiningrat atau Ati Purbani. Ia mengisahkan gejolak kaum muda. Pengarang itu mengalami babak-babak perubahan, sejak masa kolonial sampai revolusi. Ia memberi kisah dipengaruhi pengalaman dan rekaman zaman.
Pendidikan dalam novel berada dalam tegangan feodalisme dan kolonialisme. Pengarang lahir dan tumbuh di Mangkunegaran (Solo), mengetahui dampak-dampak pendidikan modern berkiblat Barat. Pembaca novel itu masuk dalam dilema-dilema identitas, kultural, pengetahuan, asmara, dan “politik”.  

Pembaca mendapat deskripsi situasi sekolah dan kaum muda masa silam: “Anak-anak sekolah laki-laki dan perempuan berdujun-dujun meninggalkan ruangan kelas. Widjawati, jang biasanja dipanggil Widati, menunggu sampai teman-temannja pergi semua, lalu lekas-lekas dimasukkannja sebuah bungkusan ketjil dalam tas.” Belajar itu serius. Selesai belajar atau pulang itu girang. Mereka belajar untuk pertaruhan nasib saat zaman berubah. Mereka mengerti pendidikan modern turut menentukan identitas dan kedudukan dalam jalinan feodalisme (Jawa) dan kolonialisme (Eropa). Keinginan para perempuan berpendidikan tinggi terjegal dengan kehendak kaum kolot dengan lekas membawa mereka ke pernikahan. Konon, pernikahan itu urusan derajat dan angan-angan kemapanan atau kemakmuran. Sekolah dan pernikahan menjadi ruwet, menimbulkan sengketa-sengketa panjang.

Tiga novel dari masa silam itu mengingatkan alur pendidikan modern di Indonesia. Keinginan menggerakkan “kemadjoean” berbenturan dengan adat dan agama. Di pelbagai kota, pergumulan pengetahuan di sekolah dibarengi dengan asmara. Di tanah asal kaum terpelajar, derajat keluarga dan perintah pernikahan menjadi sumber pertikaian terwariskan, dari masa ke masa. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
logo