Film Moana 2 dan Kondisi Laut yang Tidak Lagi Ajaib

Film Moana 2 dan Kondisi Laut yang Tidak Lagi Ajaib

Walt Disney Animation Studios kembali menampilkan kisah gadis pelaut pemberani dalam film bertajuk Moana 2 (2024) yang disutradarai Dana, Jason, dan David. Penonton disuguhi keindahan laut yang memukau dan kondisi masyarakat yang guyub. Ditemani oleh Maui dan teman-teman barunya, Moana kembali melakukan petualangan untuk menyelesaikan sebuah misi akbar.

Moana 2 mengambil latar waktu tiga tahun setelah cerita film pertama. Perempuan pemberani dari Polinesia itu masih tetap dengan rambut keriting hitam panjang yang tebal. Namun, ia terlihat jauh lebih menguasai kapal dan bijak dalam mengambil keputusan. Kisah petualangan baru Moana bersama teman-temannya memikul misi mencari penduduk lain yang berada di luar pulau tempatnya tinggal.

Misi petualangan dimulai ketika suatu hari Moana didatangi oleh salah satu pelaut pertama, Tautai Vasa dalam mimpinya. Vasa menceritakan kisah pulau Motufetu yang hilang sejak lama. Moana mendapat panggilan dari leluhurnya untuk lekas menemukan pulau tersebut agar dapat menghubungkan kembali masyarakat di seluruh samudra.

Untuk menyelesaikan misi itu, Moana harus menghadapi Nalo, dewa badai, yang telah lama mengutuk Motufetu dan menenggelamkannya di dasar laut. Dengan pertarungan yang menegangkan, Moana dan teman-temannya berhasil mengembalikan kejayaan masyarakat di atas samudera. Pertama, dalam film Moana 1 (2016), gadis itu berhasil menyelamatkan laut dari kerusakan ekologis, lalu dalam Moana 2 (2024), gadis itu mempertemukan kembali jalur komunikasi antar suku yang sempat terputus. Di dalam film, laut terselamatkan dari berbagai ancaman.

Dari Mana Asal Ikan yang Kita Makan?
Tangan saya memegang deretan ikan kalengan siap olah. Warnanya beragam; merah, hitam, hijau, putih, dan biru. Setiap warna menampilkan gambar ikan yang lezat diikuti kalimat ‘tanpa bahan pengawet’, ‘mengandung omega 3&6’, dan ‘siap santap’. Saya ambil beberapa kaleng dan lekas membayarnya ke kasir.

Sampai di rumah, saya segera mengolahnya dengan tambahan bumbu penyedap, cabai, dan beberapa bawang. Harumnya menggoda lidah untuk lekas memakannya. Setelah masakan siap, saya genapi dengan sepiring nasi, beberapa lalapan, dan tempe goreng. Ah, nikmatnya menyantap olahan ikan sambil mendengarkan rintik hujan. Rasanya hidup ini seringan kapas.

Demikianlah aktivitas yang selama ini saya lakukan di hari libur. Kini, sepertinya itu semua hanya akan menjadi cerita. Saya enggan melakukannya lagi. Kalaupun memang harus memakan ikan, saya akan mengusahakannya dari pasar tradisional atau nelayan lokal. Saya pikir itu lebih bijak ketimbang mendapatkan ikan dari olahan pabrik yang konon lekat dengan perusakan ekosistem laut.

Saya menonton sebuah film dokumenter bertajuk Seaspiracy (2021). Film itu disutradarai dan dibintangi oleh Ali Tabrizi, seorang pembuat film asal Inggris. Seaspiracy (2021) menggugah kesadaran tentang kerusakan ekosistem laut akibat aktivitas manusia, terutama praktik industri perikanan komersil. Film ini menggali isu penangkapan ikan berlebihan (overfishing), perburuan paus, penggunaan alat tangkap berbahaya hingga eksploitasi tenaga kerja di industri perikanan.

Ali Tabrizi awalnya terinspirasi untuk melindungi kehidupan laut, seperti lumba-lumba dan paus. Namun, dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa ada masalah yang jauh lebih besar dari yang selama ini ia kira. Tabrizi mengungkapkan bagaimana label “berkelanjutan” pada produk makanan laut seringkali menyesatkan. Selain itu, ia juga mengkritisi organisasi lingkungan yang dinilai tidak transparan atau bahkan berdiri dibawah pengaruh industri perikanan komersial.

Benar yang dikatakan oleh salah seorang narasumber dalam film tersebut bahwa “Orang tidak melihat proses kami menangkap makanan laut. Mereka hanya peduli untuk makan.” Ketidakpedulian itu telah memperluas perlakukan manusia yang mengerikan pada penduduk laut. Industri perikanan komersial telah memberi dampak yang lebih besar terhadap lautan dibandingkan tindakan destruktif lainnya.

Film garapan Tabrizi amat mengesankan, memberikan pemaham baru mengenai asal-usul makanan di piring. Meskipun beberapa pihak dari industri perikanan dan organisasi kelautan menyatakan bahwa data yang digunakan dalam film ini bias atau tidak sepenuhnya akurat, tetapi film ini tetap menarik ditonton untuk menambah perspektif lain dalam memandang persoalan laut.

Saya masih ingat salah satu scene dalam film Finding Nemo (2003) garapan Andrew Stanton yang menurut saya cukup menyesatkan penonton. Ada salah satu adegan yang menampilkan gerombolan ikan berhasil menyelamatkan diri dari perangkap pemburu dengan saling bekerja sama. Gambaran itu memposisikan manusia tidak berdaya menghadapi makhluk laut, dan ikan-ikan di laut dapat membela hidupnya sendiri.  Ini sungguh tidak tepat. Yang terjadi adalah sebaliknya.

Penduduk laut tidak berdaya di hadapan kapal-kapal besar yang terus melakukan penangkapan secara massal tanpa mempertimbangakn dampak ekologis yang ditimbulkan. Ali Tabrizi, dalam filmnya menukilkan pendapat para ahli dan hasil penelitian bahwa bahaya paling besar yang dihadapi laut bukan hanya dari plastik sekali pakai, seperti sedotan atau botol, tetapi  industri perikanan global yang menggunakan cara tidak etis dan limbah jaring yang banyak membunuh makhluk laut.

Di mana Moana dalam Dunia Nyata?
Keajaiban laut tidak akan muncul seperti dalam film Finding Nemo (2003), Moana 1 (2016) dan Moana 2 (2024). Hingga kini, laut masih dihadapkan dengan beragam masalah. Bukan hanya sampah yang menjadi ancaman, tetapi perburuan manusia secara besar-besaran juga menjadi momok bagi para penghuni laut.

Moana dan Maui hanya dimiliki film. Di dunia nyata, rasanya kita tak akan menemukan sosok mereka secara utuh. Tapi, manusia tetap bisa membuat keajaiban menyelamatkan laut dengan kerja kolektif, dimulai dari hal paling sederhana. Mengurangi makanan ikan kaleng, menghindari penggunaan plastik sekali pakai, mengelola sampah dengan bijak, menanam terumbu karang, dan mengurangi budaya konsumerisme, adalah beberapa jalan yang bisa ditempuh selain advokasi yang melibatkan banyak pihak. 

Kita boleh percaya, perubahan pasti akan terjadi, dimulai dari seseorang dengan melakukan hal yang paling mungkin dan sederhana. Tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama akan memberikan dampak yang luar biasa bagi kebaikan semua makhluk.  
 


Editor: Kendi Setiawan
logo