Gus Dur, Prabowo, dan Kisah Karpet Merah

Gus Dur, Prabowo, dan Kisah Karpet Merah

Akhirnya Prabowo Subianto menginjak karpet merah di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada 20 Oktober 2024. Hari itu, sejarah mencatat namanya sebagai Presiden yang ke-8 Republik Indonesia. Dia pun disumpah untuk masa baktinya berlangsung hingga lima tahun ke depan.

Sepanjang waktu itu pula, dia pun tak ragu lagi dan tidak perlu menghindari karpet merah – sesuatu yang dalam lima tahun terakhir sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju, selalu dihindarinya.

Dalam acara apa pun, Prabowo selalu berkelit dari karpet merah. Dia akan memilih jalan di samping karpet yang terbentang itu. Padahal karpet merah adalah sebuah kelaziman yang ada dalam sebuah acara. Namun, bagi Prabowo, karpet merah bukan untuk dirinya.

Sebuah penjelasan akhirnya muncul dalam akun Instagram @bachren.71. Dalam postingan itu, dalam acara KTT G20, pertengahan November 2022, di Bali, orang dekatnya itu berkisah soal adab yang selalu dipegang oleh Prabowo.

“Sejatinya memang karpet merah diperuntukkan bagi para Presiden dunia. Dahulu, karpet merah dipakai untuk para raja. Para pemimpin tertinggi negara,” tulis akun itu.

Dalam unggahan itu, pemilik akun itu juga menulis bahwa Prabowo kala itu bukanlah seorang presiden. Itu sebabnya, dia tak pernah mau berjalan di atas karpet merah itu.

“Prabowo tengah memperlihatkan sebuah adab, yang tidak melalui tutur kata tetapi juga melalui sikap. Tidak hanya di depan banyak orang tetapi juga saat jika tidak diperhatikan banyak orang,” tulis akun itu  lagi.

Namun, seperti yang ditulis dalam akun itu – kisah Prabowo dan karpet merah itu luput dari perhatian banyak orang juga media. Prabowo cenderung ditampilkan sebagai sosok yang keras, tegas, dan bergaya militeristik. Dalam wajah seperti itu publik mengenal bekas Pangkrostrad ini saat masuk dalam politik nasional.

Langkah itu dimulai pada 2004, saat Prabowo ikut konvensi calon presiden dari Partai Golkar. Ia bersaing dengan kader Golkar lainnya seperti Akbar Tandjung, Wiranto, hingga Surya Paloh. Namun, Prabowo kalah, Wiranto -- pemenang konvensi yang melaju ke ajang Pilpres.

Tak menyerah, Prabowo kemudian keluar dari Golkar. Pada 2008, dia mendirikan partai baru, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai yang melesat dan berhasil ikut Pemilu setahun kemudian. Megawati Ketua Umum PDIP kemudian meminang Prabowo untuk maju pada Pilpres 2009. Namun, mereka kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Lima tahun kemudian, Prabowo kembali maju dalam Pilpres 2014, bersama cawapres Hatta Rajasa. Pasangan ini kalah oleh Joko Widodo-Jusuf Kalla yang meraup 53,13 persen suara. Prabowo-Hatta meraih 46,84 persen. Sepanjang lima tahun, Prabowo bersama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menjadi partai oposisi bersama Partai Demokrat dan PKS.

Pada Pilpres 2019, Prabowo kembali maju jadi calon presiden. Tapi lagi-lagi, kalah. Bersama calon Wakil Presiden Sandiaga Uno hanya memperoleh 44,50 persen suara. Sedangkan Jokowi yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin unggul dengan perolehan 55,50 persen suara.

Namun langkah mengejutkan terjadi. Dalam sebuah pertemuan di gerbong MRT, Prabowo dan Joko Widodo bertemu. Di sanalah menjadi awal sebuah berakhirnya rivalitas di antara keduanya dalam kontestasi Pilpres.

Tanpa pikir panjang, Prabowo menerima tawaran sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.  “Tidak lebih dari satu jam saya katakan, iya,” katanya.  

Alasannya, simpel. Prabowo menyebut keputusan itu semata karena demi persatuan bangsa. Dia mengaku, banyak pendukungnya memintanya menolak tawaran itu. “Tapi demi persatuan nasional, demi rakyat Indonesia para pemimpin harus bersatu," ujarnya.

Dalam dua kali Pilpres, warga memang terbelah dalam dua kelompok besar: pendukung Prabowo dan Jokowi. “Cebong” dan “Kampret” adalah sebutan untuk memisahkan keduanya. Bersatunya kedua figur --  meski Prabowo menjadi anak buahnya – pembantu Jokowi dalam kabinet, lambat laun polarisasi itu melemah.

Barangkali inilah yang disebut KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sekitar sepuluh tahun sebelumnya. Dalam sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta, Gus Dur ditanya siapa yang akan dipilih rakyat di antara kandidat yang ada dalam Pilpres 2009.

"Kalau orang yang paling ikhlas kepada rakyat Indonesia, itu Prabowo," kata Gus Dur. "Nah, ya banyaklah yang saya pikir itu menunjukkan bagaimana dia ikhlas gitu kepada rakyat Indonesia."

Gus Dur dan Prabowo memang memiliki kedekatan. Saat menjadi Presiden (Oktober 1999 hingga Juli 2001) , Gus Dur sering memanggil Prabowo. Hingga pada suatu saat, pada Gus Dur, dia pun berharap namanya direhabilitasi.

“Dia tahu bahwa saya sebenarnya tidak salah. Saya berharap kalau bisa dia rehabilitasi saya, mengembalikan saya sebagai seorang jenderal," katanya dalam  Mukernas III MUI, Sabtu, 2 Desember 2023.  

Namun jawaban Gus Dur, dia diminta untuk menemui seorang kiai di Jawa Tengah. Alangkah kecewanya Prabowo, sang kiai itu malah menyarankan untuk menjadi pengusaha.  

“Kemudian kiai itu mengatakan kepada saya 'sudah Mas Bowo, sudah ndak usah mikir lagi kembali ke tentara. Mas Bowo kembali menjadi pengusaha saja',” ujar Prabowo menirukan sang kiai itu. “Ya sudah, kamu pengusaha saja," balas Gus Dur ketika dia melaporkan dengan kiai tersebut.  

Akhirnya Prabowo menjadi pengusaha. “Tuhan memberi kebaikan-kebaikan, memberi rezeki yang baik, yang halal. Akhirnya saya bisa bantu banyak orang," tambahnya.

Setelah itu, Prabowo berpikiran untuk mengabdi kepada negara. Dia pun memutuskan terjun ke dunia politik. “Di situlah saya mulai masuk politik," kata dia. Namun langkah Prabowo di dunia politik tidaklah mulus dan lancar.  Gus Dur pun pernah menyinggung soal itu.

Waketum Partai Gerindra, Irfan Yusuf menceritakan isi percakapan dengan sepupunya, Gus Dur ketika sedang berziarah ke makam leluhur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. "Gus Dur mengatakan, 'Pak Prabowo nanti jadi presiden nek wes tuwek," ujar Gus Irfan menirukan Gus Dur.

Tak hanya sekali, menurut Gus Irfan, Gus Dur menyampaikan 'ramalan' itu di berbagai forum diskusi kepada orang yang berbeda di setiap pertemuan. "Tidak hanya sekali Gus Dur ngomong itu, ada beberapa kali, ada beberapa kesempatan pada orang yang berbeda," ucapnya.

Ucapan Gus Dur itu terjawab pada 24 April 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI resmi menetapkan pasangan  Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sebagai presiden dan wakil presiden terpilih hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Dan, Ahad lalu, 20 Oktober, Prabowo pun menjadi Presiden RI yang ke 8, di usianya yang tidak muda lagi, yaitu tiga hari setelah usianya genap 73 tahun. “Gus Dur itu, orang mau percaya atau tidak percaya, kadang-kadang punya sesuatu, bisa melihat jauh ke depan," kata Prabowo.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
logo