Saya pernah mendapati seorang mahasiswa yang begitu bangga memamerkan transkrip nilainya. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya nyaris sempurna, map folio di tangannya penuh dengan sertifikat pelatihan. Tapi, ketika diajak berdiskusi soal problem sosial di sekitarnya, ia gelagapan. Ia mengulang teori dari buku, namun gagal menjembatani dengan realitas.
Ia bukan satu-satunya. Di balik angka-angka prestasi yang rapi di atas kertas, saya sering menemukan wajah-wajah mahasiswa yang kebingungan dan gelisah. Mereka seperti produk pabrik: seragam, rapi, tetapi kehilangan identitas. Pintar mengerjakan soal, tapi gagap menjawab pertanyaan hidup.
Saya pun bertanya: Apakah ini yang kita sebut pendidikan?
Kampus dalam Jerat Logika Pabrik
Hari ini, kampus kerap terjebak dalam logika pabrik. Kurikulum dipadatkan, mahasiswa dikejar target lulus tepat waktu, dosen dibebani angka-angka akreditasi, dan proses belajar direduksi menjadi absensi dan PowerPoint. Pendidikan berubah menjadi mesin produksi, dan mahasiswa, yang sejatinya manusia dengan keunikan jiwa, dianggap sebagai produk akhir.
Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari tuntutan zaman yang serba cepat, dari sistem birokrasi yang lebih mementingkan indikator-indikator kuantitatif ketimbang kualitas proses. Kampus dituntut menghasilkan lulusan-lulusan yang “siap pakai” bagi dunia kerja, tanpa banyak bertanya apakah dunia kerja itu sendiri sudah siap menerima manusia yang utuh. Lulusan dicetak secepat mungkin, seperti barang produksi massal yang harus lulus uji mutu berdasarkan standar-standar administratif.
Dosen pun sering terjebak dalam rutinitas. Alih-alih menjadi pendamping intelektual, mereka sibuk memenuhi kewajiban laporan, mengejar angka kredit, dan memenuhi tuntutan borang akreditasi. Akhirnya, ruang kelas menjadi panggung monolog, bukan ruang dialog. Mahasiswa menjadi penonton pasif yang tugas utamanya adalah menghafal, mencatat, dan lulus ujian.
Di Antara Angka dan Kegelisahan Mahasiswa
Namun, di tengah keseragaman itu, saya masih sering bertemu mahasiswa yang gelisah. Mahasiswa yang merasa ada sesuatu yang hilang dalam proses belajarnya. Mereka adalah anak-anak muda yang tidak puas hanya dengan angka IPK, yang merasakan kekosongan meskipun map mereka penuh sertifikat.
Suatu hari, seorang mahasiswa mendatangi saya selepas kelas. Ia berkata, "Pak, mengapa saya merasa bodoh, padahal nilai saya baik-baik saja?” Saya tahu, itu bukan pertanyaan tentang kecerdasan akademik, melainkan jeritan batin yang sedang mencari makna. Ia cerdas secara teori, namun gelisah secara eksistensial. Ia menguasai metodologi penelitian, tetapi bingung memahami realitas di sekitarnya. Ia lulus mata kuliah filsafat, namun belum sempat memikirkan siapa dirinya sendiri.
Mahasiswa semacam ini sering merasa asing di kampusnya sendiri. Mereka mencari ruang untuk berdialog, tapi yang mereka temukan hanya rutinitas birokrasi. Mereka mencari dosen yang bersedia mendengarkan, namun sering mendapati wajah-wajah lelah yang dikejar deadline laporan. Mereka ingin menjadi manusia utuh, namun dipaksa menjadi produk yang sesuai standar industri.
Inilah yang saya sebut sebagai krisis jiwa dalam pendidikan. Sebuah kondisi di mana kampus gagal memahami bahwa manusia bukan sekadar akumulasi angka, melainkan makhluk yang terus bertanya, gelisah, dan mencari makna.
Komunitas sebagai Ruang Tumbuh Jiwa
Saya percaya ruh pendidikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin tertimbun oleh kertas-kertas administratif, namun ia tetap hidup di relung-relung kecil yang tak tersentuh birokrasi. Ia hidup di ruang-ruang komunitas, di mana mahasiswa dan dosen bisa bertemu sebagai sesama pencari makna.
Komunitas adalah ruang di mana proses belajar kembali menemukan jiwanya. Ia bukan sekadar organisasi formal yang sibuk dengan rapat dan seremonial, melainkan ruang hidup yang memberi tempat bagi mahasiswa untuk berpikir, berdialog, dan berproses secara otentik. Di komunitas, mahasiswa belajar bukan karena tuntutan kurikulum, tetapi karena dorongan hasrat untuk tumbuh. Mereka menulis bukan demi angka kredit, tetapi demi kebutuhan untuk menyuarakan kegelisahan. Mereka berdiskusi bukan demi nilai kehadiran, tetapi demi menemukan perspektif baru.
Saya pernah menyaksikan sendiri, bagaimana sebuah komunitas kecil di sudut kampus bisa menghidupkan semangat belajar mahasiswa. Di komunitas itu, mahasiswa saling berbagi buku, mendiskusikan isu-isu sosial, menulis esai, dan bahkan membangun gerakan literasi di desa. Tidak ada nilai akademik yang dicatat, namun di sanalah proses pembelajaran sejati terjadi. Mereka belajar tentang empati, kepedulian, berpikir kritis, dan menjadi manusia yang sadar akan realitas.
Kita Bukan Produk, Kita Proses yang Hidup
Saya percaya, perubahan besar selalu dimulai dari pertanyaan sederhana yang mengusik kesadaran: Untuk apa kita belajar? Hanya demi IPK dan ijazah? Hanya demi memuaskan statistik kampus? Atau, seharusnya, belajar adalah proses menjadi manusia yang utuh?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak akan dijawab oleh PowerPoint atau lembar soal ujian. Ia membutuhkan ruang dialog, pengalaman nyata, dan keberanian untuk mempertanyakan sistem yang sudah mapan. Dan proses ini hanya akan terjadi jika kampus kembali menghidupkan ruang-ruang komunitas sebagai laboratorium peradaban.
Karena itulah, saya menulis esai-esai semacam ini, berisi kegelisahan yang lahir dari pengalaman langsung bersama mahasiswa, dosen, dan komunitas. Esai-esai yang tidak berhenti pada kritik, tetapi mencoba menghadirkan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang arah pendidikan kita. Dan karena saya percaya, angka-angka tidak akan pernah bisa menyentuh jiwa, maka setiap esai seperti ini saya akhiri dengan penutup yang puitis. Puisi adalah bahasa yang menembus batas logika, berbicara langsung pada kesadaran terdalam manusia.
Kampus bukanlah pabrik. Ia seharusnya menjadi rumah peradaban. Dan kita, mahasiswa, dosen, pendidik, orang tua, adalah bagian dari proses itu. Proses yang tidak selesai dengan IPK, tidak selesai dengan ijazah, tetapi terus berjalan selama kita masih mau bertanya dan mencari.
Belajar menjadi manusia adalah perjalanan seumur hidup. Ia tidak berhenti di ruang kelas, tidak berhenti saat wisuda, tidak berhenti saat angka IPK diumumkan. Ia terus berjalan, selama kita masih bernapas, selama kita masih bersedia gelisah dan bertanya.
Dan selama kita masih mau mendengar, bertanya, dan mencipta, kampus akan tetap menjadi rumah peradaban, bukan pabrik.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor: Kendi Setiawan
