PBNU Hasil Muktamar Tambakberas Setelah OTT Summarecon

PBNU Hasil Muktamar Tambakberas Setelah OTT Summarecon

JUDUL tulisan ini sengaja mengaitkan Muktamar NU Tambakberas dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Sumarecon terkait rasuah sejumlah pejabat di Kementeriannya Nusron Wahid--Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR BPN)--di Bogor Jawa Barat. Dan tentu ini karena ada potensi kegaduhan di PBNU hasil muktamar,  pasca-operasi KPK tersebut.

Pertama dan kemungkinan yang terberat, gugatan berikut ganjalan SK dari Kementerian Hukum. Kemungkinan ini secara faktual akan menemukan pembenaran.

Data lapangan menyebut ada kaitan muktamar dengan OTT. Data yang hilir mudik di media sosial yakni adanya kiai anggota Ahlul Halli Wal 'Aqdi ( AHWA), yang mengembalikan bisyaroh muktamar. Bahkan data-data di semua platform (FB, YouTube, Tiktok dan Instagram) menyebut nominal dalam rupiah maupun dalam bentuk dolar Amerika.

Kedua, ini juga tidak kalah berat, ada gelagat mobilisasi dan konsolidasi terhadap PWNU dan PCNU, juga PCINU. Konsolidasi terutama atas PWNU, PCNU maupun PCINU yang "bersih", steril dari awu anget OTT itu.

Ketiga, pemanggilan terhadap sejumlah tokoh dan kiai ikonik di NU oleh komisi antirasuah. Dengan dasar equality before the law, para pihak (termasuk para kiai ataupun anggota AHWA), manakala kesaksiannya dibutuhkan, tidak bisa menghindari pemanggilan penyelidikan dan tidak bisa diwakilkan. 

Antisipasi dan Langkah Peredam

Pasca-Muktamar Tambakberas dan setelah pembubaran panitia Muktamar ke-35, hanya Rois Aam Kiai Miftahul Akhyar (Kiai Mif) dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) yang memiliki otoritas berbicara atas nama PBNU. 

Selebihnya, forum-forum partikelir semacam "Forum Qonun Asasi" yang diinisiasi oleh Syamsudin M Pay atau pernyataan Syaifullah Yusuf (Ipul), mantan ketua panitia muktamar. Suara dua orang ini tidak representatif bicara tentang hasil muktamar Tambakberas. Lebih-lebih ketika pernyataan mereka berdua dikonstruksi sebagai measuring; alat ukur untuk menilai keabsahan muktamar.

Untuk kepentingan menyelamatkan produk dan hasil Muktamar NU Tambakberas, tidak ideal kehadiran M Pay maupun Ipul dalam konteks itu. Justru sebaliknya, pernyataan mereka memperkeruh situasi. Baik secara subyek ataupun obyek pembahasan, M Pay dan  Ipul adalah bagian dari "penulis" skenario muktamar di Jombang. 

Publik menyaksikan, skenario dalam muktamar itu; penuh intrik dan memicu badai polemik. Polemik tentang komposisi AHWA, karantina maupun gugurnya keputusan komisi organisasi di pleno terkait masa Iddah politik. Dinamika dan kontroversi muktamar tersebut  bahkan mengalir jauh hingga ke Sumarecon Bogor. 

Ipul adalah ketua panitia "merangkap" tim pemenangan. Paralel dengan M Pay: dia disebut-sebut banyak orang sejak sebelum pelaksanaan, hingga pasca muktamar (qablal muktamar, 'indal muktamar wa ba'dal muktamar),  sebagai tim inti pemenangan Gus Kikin.

Ada sejumlah langkah kreatif meski berbau spekulatif yang bisa dilakukan oleh hanya dua orang atas nama PBNU. Dua orang tersebut adalah dua mandataris muktamar ke-35. Langkah kreatif tetapi spekulatif tersebut hampir pasti bisa sebagai  antisipasi untuk meredam prospek kelam PBNU hasil muktamar di Tambakberas.

Pertama, Gus Kikin dan Kai Mif, mengendalikan orang-orangnya untuk tidak melakukan manuver. Kendali yang sama juga untuk mendisiplinkan inner circle kedua mandataris  tersebut untuk tidak "berjalan sendiri", menggelar jumpa pers dengan statemen yang tumpang tindih dengan data dan fakta yang didapat KPK dari lapangan.

Disebut tumpang tindih sebab temuan di lapangan, KPK menyebut bahwa sebagian duit OTT Sumarecon diindikasikan telah beredar di arena muktamar pada tanggal 27 Agustus. Sementara M Pay menyebut "bagaimana OTT terkait dengan muktamar, muktamar ditutup 31 Agustus,  sedang OTT Sumarecon terjadi pada tanggal 17 September.

Kedua, pasca OTT Sumarecon dan dengan disebut-sebutnya nama Nusron Wahid, ada hal mendesak untuk dilakukan kedua mandataris muktamar. Hal mendesak tersebut adalah mengubah komposisi utama kabinetnya. 

Hal ini penting, sebab pasca OTT, dukungan politis atas Rois Aam dan Ketua Umum, turun drastis dan cenderung melemah. Satu-satunya solusi cepat untuk mengembalikan posisi politik kedua mandataris tersebut adalah dengan mengubah komposisi dan wajah kabinetnya, terutama Sekjen dan Katib Aam.

Ketiga, kabinet Gus Kikin sangat butuh penyeimbang. Setidaknya ada dua kekuatan penyeimbang yang bisa memperkuat kembali posisi politik kedua mandataris. Dua kekuatan tersebut adalah: kekuatan Raden Saleh dan sisa-sisa pendukung Yahya Cholil Tsaquf.

Keempat, demi menyelamatkan kabinetnya, meski dengan berat hati, Gus Kikin dan Kiai Mif, harus men-drop Lukman Edy dan M Nuh dari kandidat Sekjen dan Katib Aam. Sebagai substitusinya, dua slot tersebut bisa dihibahkan ke Raden Saleh dan Kubu Yahya. Komposisi ini ideal dan potensial terjadi. Bukankah politik itu the art of possibility?


$data['detail']->authorKontri->kontri

M Sholeh Basyari
Lektor Kepala Sekretaris Program Pascasarjana Insuri Ponorogo, Wasekjen PB IKA PMII dan Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS)


Editor: Muhammad Taufiq
logo