Produk besi-besian tidak semata berkembang di zaman Nabi Daud hingga Nabi Sulaiman. Menjelang berakhirnya wahyu turun ke dunia, yakni di awal-awal perkembangan Islam, kebutuhan akan senjata juga amatlah besar. Senjata-senjata ini digunakan semata untuk mempertahankan diri dari serangan kaum kafir. Karena kerapnya terjadi pertempuran, beberapa sahabat Nabi, dikenal sebagai pendekar dan jagoan di medan perang.
Di tangan mereka tergenggam senjata dengan berbagai model dan jenisnya. Soal jenis dan model senjata, amat dipengaruhi oleh daerah serta budaya masyarakat. Pedang, misalnya, amat jamak digunakan oleh lelaki bangsa Arab. Kita tidak tahu apakah saat itu sudah ada keris di semenanjung Arabia.
Karena itu, tak heran jika Nabi Muhammad SAW pun diketahui memiliki beberapa bilah senjata. Hampir semua terkenal dan diyakini memiliki ”perbawa” luar biasa sehingga mampu menggetarkan dan menggentarkan nyali lawan sebelum pertempuran dimulai.
Beberapa senjata produk besi-besian yang ditengara milik Rasululah, yang fungsinya sama persis dengan keris, kini tersimpan rapi di banyak museum di berbagai negara. Paling kurang, ada sembilan pedang yang kemasyhurannya sampai ke tengah-tengah kita, sebagaimana dikutip dalam buku Suyuf ar-Rasul Wa ’Uddah Harbihii (Kairo : Hijr, 1312).
- Pedang Al Ma’thur. Salah satu koleksi Nabi yang amatlah masyhur. Ia juga dikenal dengan sebutan Ma’thur al-Fijr. Inilah pedang yang digunakan Rasulullah sebelum menerima wahyu pertama di Mekkah. Pedang ini berasal dari ayahandanya, Abdullah Bin Abdul Muthollib. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Gagangnya terbuat dari emas dengan bentuk berupa dua ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat kufic tulisan Arab: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.
- Pedang Al 'Adhb yang berarti “memotong” atau “tajam.” Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Pedang ini digunakan saat Perang Uhud. Para Sahabat menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.
- Pedang Dzul Faqqar. Sebuah pedang Nabi yang berasal dari hasil pampasan perang Badar. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya. Banyak sumber menyebut pedang ini milik Ali bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.
- Pedang Al Battar. Pedang ini juga merupakan pampasan perang dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya Para Nabi‘, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi : ‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’. Gambar ukiran nama-nama para nabi ada di dalamnya. Ada pula gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.
- Pedang Hatf merupakan hasil pampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar’ dari Goliath sebagai rampasan ketika dia mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun. Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu. Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.
- Pedang Al Mikhdham. Ada yang mengabarkan bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang dia pimpin di Syria. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.
- Pedang Al Rasub. Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang di dalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.
- Pedang Al Qadib. Pedang ini berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan. Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.” Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.
- Pedang Qal’a atau dikenal juga dengan sebutan “Qal’i” atau “Qul’ay.” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat antara India dan Cina. Ulama lain menyebut bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah” atau “timah putih” yang ditambang dari berbagai lokasi. Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Di dalamnya terdapat ukiran bahasa Arab : “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.” Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.
Penulisan urut-urutan nama pedang ini tidak menjelaskan soal apakah yang pertama memiliki “tuah” yang lebih besar dari yang lain atau tidak. Satu yang pasti, kalau benar semua pedang ini pemiliknya adalah Rasulullah, maka hampir dapat dipastikan lempengan-lempengan besi ini pernah berada dalam gengagaman seorang manusia pilihan Allah.
Kalau ingin menghindari aspek mitologis, sakralitas serta mistifikasinya, maka cukuplah menghormati pedang-pedang itu sebagai “tinggalan” dari seorang yang amat kita cintai. Salahkan menyimpan, merawat serta menempatkan pedang-pedang itu di tempat terhormat sebagai bentuk penghormatan kita kepada Nabi Muhammad SAW?
Kalau karena tindakan itu lantas muncul stigma negatif dengan menyebut prilaku menyimpan pedang peninggalan Rasulullah sebagai sebuah kemusyrikan, maka akan sangat banyak tempat, benda, nama, orang, petilasan, atau mungkin tempat sujud, tempat tirakat, tempat tahannuth Sang Idola, akan dituding sebagai sumber segala kemusyrikan.
Termasuk bila seseorang tergila-gila sehingga memerlukan suasana trance untuk mengenang saat-saat terakhir meninggalnya Whitney Houston. Ia akan menggeledah semua rak dan memilih beberapa lagu, lalu menyanyikannya sehingga ia meyakini suasana itu akan mengantarkannya “bertemu” sang diva.
Kita tidak tahu apakah ini juga dimasukkan ke dalam kategori syirik karena melakukan pemujaan berlebihan terhadap seseorang dalam sudut pandangan tertentu.
Ishaq Zubaedi Raqib
Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi (LTN) PBNU
Editor: Muhammad Zunus
