Baru-baru ini, di sebuah simposium tentang Demokrasi dan Pemilu Damai di Perpustakaan Nasional Jakarta, Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Kepala BKPM, menyampaikan sesuatu yang menimbulkan kekhawatiran tentang etika dalam pemerintahan. Di depan para mahasiswa, ia menceritakan transformasinya dari aktivis anti-kemewahan menjadi menteri yang menikmati keistimewaan serupa.
Sikapnya yang berubah ini mencerminkan suatu tren yang mengkhawatirkan: normalisasi korupsi dan dampak negatif kekuasaan. Bahlil mengatakan, “Saya mau menyampaikan ke kalian, jangan coba-coba bilang bahwa kita-kita oligarki, tunggu kalian semua tunggu. Begitu suatu saat kalian jadi pejabat, jadi orang kaya, mungkin kelakuan kalian akan lebih jahat dari pada saya,” ucap Bahlil.
Refleksi Bahlil tentang transformasi pribadinya, meskipun tampak sebagai cerminan jujur, secara tidak langsung menyoroti masalah yang lebih besar dan lebih mendalam. Dengan membagikan pengalamannya, ia memberikan kesan bahwa kompromi etik adalah bagian yang tidak terhindarkan dari kehidupan politik.
Perspektif ini membawa masalah serius: bukan hanya membenarkan penurunan nilai moral secara bertahap di bawah pengaruh kekuasaan dan kemewahan, tetapi juga menciptakan preseden berbahaya bagi pemimpin muda masa depan yang mudah terpengaruh.
Gagasan kompromi etik yang tak terelakkan dalam politik juga terdengar dalam pernyataan Prabowo Subianto saat debat pertama capres. Ia dengan santai menyatakan, “Kita semua tahu siapa yang mengintervensi Mahkamah Konstitusi.”
Pernyataan ini menandakan adanya budaya penerimaan dan normalisasi praktik tidak etis dalam politik Indonesia. Sikap ini, di mana tokoh politik terkemuka secara terbuka membahas korupsi dan perilaku tidak etis sebagai sesuatu yang lazim, adalah indikator krisis etik yang sistemik.
Ungkapan Bahlil dan Prabowo mencerminkan lebih dari sekadar kesalahan moral individu; mereka mengungkapkan kerusakan sistemik dalam etos politik Indonesia. Kerusakan ini berakar pada penerimaan budaya bahwa kekuasaan dan kekayaan adalah tujuan akhir yang membenarkan segala cara.
Pola pikir yang merangkul kekuasaan dan kekayaan sebagai tujuan akhir cenderung menciptakan suatu lingkungan politik di mana korupsi tidak hanya sering diharapkan terjadi, tetapi juga secara keliru diterima sebagai unsur yang tak terhindarkan dalam praktik politik. Hal ini menimbulkan sinisme, mengikis kepercayaan publik terhadap kepemimpinan dan proses demokrasi, karena para pemimpin dianggap secara inheren korup.
Untuk memperbaiki hal ini, Indonesia membutuhkan perubahan besar dalam budaya politiknya, dengan menekankan akuntabilitas dan tanggung jawab masyarakat untuk menegakkan dan menuntut standar etika yang lebih tinggi.
Masalah ini bukan hanya tentang korupsi konvensional seperti penggelapan atau penyuapan, melainkan tentang korupsi nilai dan prinsip yang justru lebih merusak. Tokoh publik yang membahas dampak korup dari kekuasaan tak hanya menyoroti korupsi itu sendiri, tetapi juga mengungkap erosi nilai moral dalam pelayanan publik.
Krisis ini tidak hanya terjadi di kalangan politisi, tetapi juga merasuk ke dalam nilai-nilai dan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tanggung jawab warga negara, dan rasa saling percaya. Membangun kembali kepercayaan ini dan memulihkan integritas dalam pelayanan publik menuntut upaya bersama di seluruh masyarakat.
Pendidikan, pengawasan media, dan kewaspadaan warga adalah kuncinya. Hanya dengan komitmen bersama terhadap tata kelola pemerintahan yang beretika, Indonesia dapat melewati krisis ini, dan membangun lanskap politik yang lebih kuat, transparan, dan akuntabel. Kita semua memiliki peran dalam upaya kolektif ini.
Krisis ini tidak hanya melibatkan para politisi secara individu, tetapi juga seluruh sistem politik. Hal ini merupakan tantangan mendasar terhadap prinsip-prinsip demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang baik. Normalisasi korupsi, penerimaan pasif terhadap pelanggaran etika, dan kurangnya akuntabilitas mengikis integritas lembaga-lembaga politik di Indonesia. Ini bukanlah situasi yang bisa dibiarkan begitu saja, melainkan menuntut perlawanan aktif dan komitmen untuk berubah.
"Ini bukanlah situasi yang bisa dibiarkan begitu saja, melainkan menuntut perlawanan aktif dan komitmen untuk berubah."
Langkah pertama untuk mengatasi krisis ini adalah dengan menantang dan mengubah narasi bahwa kekuasaan pasti korup. Kepemimpinan yang beretika bukan hanya sebuah kemungkinan, melainkan sebuah keharusan. Para tokoh politik harus memiliki standar perilaku yang lebih tinggi, dan penyimpangan dari perilaku etis harus ditanggapi dengan konsekuensi yang tegas.
Penerimaan korupsi sebagai sebuah norma adalah sikap yang mengalah yang merusak upaya mereka yang berjuang untuk integritas dan transparansi dalam jabatan publik.
Selain itu, diperlukan upaya kolektif untuk mendidik dan memberdayakan generasi pemimpin berikutnya. Dengan potensi mereka untuk mengubah narasi, generasi muda harus terinspirasi untuk menjunjung tinggi standar etika dan menolak daya tarik kekuasaan dan korupsi.
Hal ini membutuhkan kerangka kerja pendidikan yang kuat yang menekankan etika, tanggung jawab kewarganegaraan, dan pentingnya akuntabilitas dalam pelayanan publik. Para pemimpin muda harus dibekali dengan alat dan pengetahuan untuk menjaga integritas mereka dalam menghadapi kekuasaan dan kemewahan.
Indonesia berada pada titik kritis. Jalan yang dipilih sekarang akan menentukan masa depan demokrasi dan integritas lembaga-lembaga politiknya. Para pemimpin seperti Bahlil Lahadalia dan Prabowo Subianto memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh positif dan menumbuhkan budaya pemerintahan yang beretika. Normalisasi korupsi dan pelanggaran etika haruslah menjadi sesuatu yang lain dari warisan yang ditinggalkan untuk generasi berikutnya.
Sebaliknya, diperlukan upaya kolektif dan tekad yang kuat untuk menciptakan lanskap politik yang mengedepankan integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Situasi yang mendesak ini seharusnya membangkitkan rasa kepedulian dan tanggung jawab kita semua.
Tantangan yang dihadapi Indonesia tidak sekadar bersifat politis; ini adalah sebuah imperatif moral. Perjalanan menuju sistem politik yang berintegritas dan transparan merupakan tugas yang berat, namun esensial. Nasib bangsa dan kepercayaan rakyat tergantung pada perjalanan ini.
Sudah saatnya untuk kita menolak pasrah terhadap korupsi dan normalisasi narasi yang membenarkannya, serta kemerosotan nilai etika. Sebaliknya, kita harus berjuang demi menciptakan masa depan di mana integritas dan kepemimpinan etis menjadi pondasi utama politik Indonesia.
Virdika Rizky Utama, Peneliti PARA Syndicate dan Mahasiswa Ilmu Politik, Shanghai Jiao Tong University.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Faizin
