Proposal Damai Donald Trump: Memangku Netanyahu, Mengempaskan Hamas

Proposal Damai Donald Trump: Memangku Netanyahu, Mengempaskan Hamas

Setelah Sidang Umum PBB, Presiden Amerika Donald Trump langsung ngegas. Dia Menyusun agenda perdamaian setengah kamar. Proposal perdamaian Palestina-Israel yang disodorkan Trump ini bisa dibilang mirip drama sinetron tapi pemerannya belum lengkap.

Bayangkan saja, Trump berdiri di atas panggung dengan gaya khasnya bersama Benyamin Netanyahu, mengumumkan rencana perdamaian yang katanya bakal menyelesaikan masalah bertahun-tahun antara Palestina dan Israel dengan cara yang agak “unik”. Tapi yang bikin penasaran, kenapa pihak penting seperti Hamas malah nggak diajak ngobrol?

Jadi begini ceritanya. Donald Trump, yang selama ini dikenal sebagai sosok presiden yang gaul dan suka blak-blakan, menyusun sebuah proposal perdamaian. Tapi memang, rencana ini seperti membuat kue ulang tahun tanpa satu pun tamu penting datang ke pesta. Trump dan timnya ngotot bilang, “Ini ‘kesepakatan abad ini’!” Tapi kalau kita kupas satu-satu, isinya seperti nyusun menu yang hanya favorit sebagian orang.

Pertama, ada soal Yerusalem. Trump dengan gagah berani mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota tunggal Israel—bukan cuma bagian Timur, tapi seluruhnya. Bagi Israel, ini seperti menang jackpot karena Yerusalem dianggap kota paling berharga. Bahkan, kedutaan besar Amerika pun dipindah dari Tel Aviv ke Yerusalem sejak 2018 lalu. Ini  sebagai bentuk pengakuan resmi. Bayangkan, semua lampu sorot tertuju di satu kota, tapi satu sisi merasa diremehkan.

Selanjutnya, soal pemukiman Israel di Tepi Barat. Kalau ini ibarat rumah kontrakan, Trump memberi lampu hijau untuk Israel terus membangun dan mempertahankan pemukiman yang selama ini diperdebatkan sengit. Palestina di sini jadi kayak penghuni lama yang rumahnya dipangkas sedikit demi sedikit, sementara pemilik kontrakan baru makin leluasa.

Nah, Palestina sendiri memang dapat tawaran negara sendiri, tapi dengan wilayah yang kayak puzzle kecil-kecil dan segi keamanan dikontrol Israel. Jadi mereka dianggap punya negara, tapi harus selalu diawasi. Mirip seperti hewan peliharaan dilepas di padang rumput, boleh berkeliaran tapi dipantau terus.

Tak kalah penting, masalah pengungsi Palestina yang sudah berurat akar terjadi lama itu, entah kenapa malah “dijatuhkan” begitu saja tanpa solusi nyata. Ini seperti memberi kambing hitam sebuah kantung kosong tanpa isi. Sedihnya, solusi pengungsi yang paling ditunggu tidak masuk dalam derby perdamaian ini. Padahal, ini salah satu permasalahan paling utama bagi rakyat Palestina.

Terakhir, Trump dan tim menjanjikan paket bantuan ekonomi bagi Palestina, dengan harapan membangun infrastruktur dan meningkatkan taraf hidup. Tapi jujur, kayak kasih hadiah boneka bagus tapi nggak ngasih makanannya. Kalau masalah politik dan hak-hak dasar nggak dibenahi, uang sebesar apapun juga susah menghapus luka lama.

Selain itu, proposal ini juga mencantumkan rencana untuk melucuti senjata Hamas. Trump dan para perancang rencana menginginkan Hamas menyerahkan atau menghentikan kekerasan serta aktivitas militer mereka, termasuk meletakkan senjata yang selama ini jadi sumber utama konflik. Mereka berharap dengan melucuti Hamas, keamanan bisa lebih terjamin dan tindakan teror bisa diminimalisir.

Namun, rencana ini seperti menginginkan ikan berenang tanpa air—Hamas sebagai penguasa Gaza selama ini menganggap senjata sebagai alat utama untuk mempertahankan diri dan kekuasaan. Jadi memaksa melucuti senjata tanpa negosiasi yang inklusif kemungkinan besar bakal gagal dan malah memperkeruh suasana.

Mungkin bagian paling lucu dan aneh dari proposal ini adalah: kelompok Hamas, yang selama ini jadi pihak paling keras kepala dan paling sering bentrok langsung dengan Israel, justru nggak diajak duduk bareng. Bayangkan sedang ada pertandingan sepak bola, tapi si penyerang utama lawan malah nggak diajak rapat strategi. Kira-kira gimana hasilnya?

Alasannya mungkin karena Trump dan tim anggap Hamas sebagai organisasi teroris yang sulit diajak kompromi, jadi biar urusan damai cepat selesai, mereka dikesampingkan saja. 

Akibatnya, proposal ini terkesan seperti acara makan malam eksklusif dengan tamu terbatas, tanpa hadirnya “pemain kunci” yang sebenarnya pegang kartu penting buat perdamaian. Jadi, wajar kalau pihak Palestina merasa diabaikan dan skeptis dengan niat baik ini.

Lalu, Bagaimana Nasib Proposal Ini?

Kalau saya lihat, proposal Trump ini lebih mirip gambaran superhero yang cuma bisa menyelamatkan satu sisi kota saja. Israel jelas senang dengan isi proposal ini, karena banyak hal menguntungkan dan memperbesar pengaruhnya di wilayah sengketa. Mereka merasa unggul karena mendapat pengakuan atas Yerusalem dan aman membangun pemukiman.

Tapi buat Palestina, proposal ini seperti kue yang dicicipin tapi nggak dapat potongan besar. Wilayahnya terpecah dan dikontrol ketat, hak-hak pengungsi diabaikan. Yang lebih menyakitkan, kelompok penting kayak Hamas nggak diajak ngobrol. Mereka pasti bilang, “Ini bukan perdamaian, ini pelecehan.” Sehingga, tawaran damai ini malah memperkuat fragmentasi politik dan sosial di kalangan Palestina.

Lalu, bagaimana dunia internasional? Beberapa negara dan organisasi internasional skeptis bahkan menyatakan rencana ini tidak adil. Mereka bilang perdamaian harusnya dibangun di atas keadilan dan kesetaraan, bukan hanya menguntungkan satu pihak. Bisa dibilang, proposal ini seperti undangan pesta yang bikin keributan, bukan kesatuan.

Kalau dipikir logis dan realistis, konflik Palestina-Israel itu seperti benang kusut yang perlu hati-hati mengurai satu per satu. Proposal perdamaian ala Trump ini kayak mencoba memotong benang dengan gunting tumpul—usaha dilakukan, tapi hasilnya kurang maksimal dan malah bikin benang makin kusut.

Tidak melibatkan Hamas sebagai salah satu pihak utama juga berarti, esensi masalah tidak dipecahkan dari akarnya. Kan nggak lucu kalau orang-orang yang paling berkepentingan dengan perdamaian justru dibiarkan berdiri di pinggir lapangan sambil nonton pertandingan. Akhirnya, perang dingin masih akan terus berjalan, dan kemungkinan terjadi benturan baru tetap terbuka.

Dengan kata lain, proposal ini mungkin bisa jadi batu pijakan pertama, tapi bukan solusi final. Perdamaian sejati butuh keterlibatan semua pihak, keberanian buat kompromi, dan pengakuan atas hak-hak yang adil. Kalau cuma dominasi satu pihak, ya konflik kemungkinan besar bakal terus menyala seperti lilin yang dipadamkan dengan angin kencang.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Rumadi Ahmad
Dosen senior FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Muhammad Zunus
logo