Secangkir Kopi & Keterasingan

Secangkir Kopi & Keterasingan

Di sebuah kafe kecil bernama Danum, yang bersemayam di sela-sela kota seperti halaman buku terlupa, aroma kopi panggang mengalir laksana melodi saksofon nan lembut, penuh jeda namun sarat rahasia. Dinding-dindingnya, berlapis kayu tua berderit pelan, menyimpan bisikan waktu dalam serat-seratnya. Lalu jendela-jendela besarnya menangkap bayangan pengunjung seperti film bisu diputar tanpa akhir. Meja-meja kayu di dalam kafe itu penuh goresan-goresan tak sengaja, seolah setiap cangkir di atasnya menuliskan baris puisi yang tak pernah dibaca.

Saya duduk di sudut, dekat jendela buram oleh embun pagi, dengan secangkir kopi arabika yang mengepul pelan dan buku Emma Felton, Filtered: Coffee, the Café and the 21st-Century City (2019), terbuka di hadapan saya. Di halaman penuh coretan tinta, Felton menulis, “Kafe adalah paradoks: ruang yang menjanjikan koneksi tetapi menghadirkan kesendirian, panggung di mana kita mempertunjukkan kehadiran kita sambil mundur ke dalam ketiadaan” (hlm. 45). Kalimat itu seperti nada yang tiba-tiba dimainkan dalam keheningan, menggema di dalam diri saya, menyentuh sesuatu, seperti kenangan dari dunia liyan.

Saya telah menjadi bagian dari Danum selama hampir enam bulan, sejak kota ini, dengan lampu-lampu neonnya yang berkedip seperti kunang-kunang ragu-ragu dan klaksonnya seperti detak jantung terburu-buru, menjadi tempat saya mencari sesuatu yang tidak bisa saya namai. Kafe ini adalah seperti ruang di antara nyata dan mimpi, tempat saya bisa duduk dengan kopi dan buku, membiarkan pikiran saya mengalir seperti kabut di atas danau tenang.

Kopi, dengan kepahitannya yang lembut dan aroma khasnya seperti bisikan hutan setelah hujan, adalah ritual yang saya pegang erat. Setiap teguk adalah pintu kecil menuju keheningan, meski kadang saya tak tahu ada apa di baliknya. Hari ini, dengan buku Felton di tangan, saya melihat kafe ini seperti melihat ke dalam cermin air yang bergoyang. Kami, para pengunjung, duduk berdekatan, namun terpisah, seperti buku-buku di rak perpustakaan yang tak pernah dibuka bersama.

Lalu di meja sebelah, seorang pemuda dengan kemeja flanel mengetik di laptopnya, jari-jarinya bergerak seperti ombak kecil menyapu pantai. Di sudut, seorang perempuan tua dengan mantel wol menyeruput teh, matanya menatap cangkirnya seolah di dalamnya tersimpan peta menuju masa lalu. Dan saya, dengan buku dan kopi, adalah bagian dari lukisan ini—hadir, tetapi seperti bayangan yang melayang di permukaan air.

Ambang Realitas

Felton menyebut kafe sebagai “ruang ketiga,” sebuah konsep yang ia pinjam dari Ray Oldenburg untuk menggambarkan tempat di luar rumah dan kantor, di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa topeng peran sosial (hlm. 12). “Kafe, yang dahulu adalah ruang pertukaran komunal, telah menjadi situs kesendirian yang dikurasi, di mana kehadiran adalah performa dan koneksi dimediasi,” tulisnya (hlm. 67).

Di masa lalu, kafe adalah tempat di mana cerita-cerita lahir, di mana orang-orang berkumpul untuk berbagi tawa, mimpi, atau keheningan yang seperti lagu tanpa kata. Saya teringat cerita nenek saya tentang sebuah warung kopi di kampungnya di Kalimantan Selatan, tempat para pedagang dan penutur cerita berkumpul setiap malam, cangkir-cangkir mereka berdenting di bawah cahaya lampu minyak, sementara cerita tentang laut dan bintang mengalir seperti air di sungai. Warung itu adalah seperti portal menuju dunia lain, tempat orang merasa hidup karena mereka saling melihat.

Namun, seperti yang Felton amati, ruang ketiga ini telah berubah. Di Danum, saya melihat bagaimana teknologi menjalin jaring yang tak terlihat, memisahkan kami meski kami duduk begitu dekat. Hampir setiap pengunjung membawa ponsel atau laptop, alat-alat yang seperti kunci menuju dunia lain, tetapi juga rantai yang mengikat kami pada kesendirian. Seorang perempuan muda di meja dekat pintu memotret cappuccino-nya, mengatur sudut hingga bayangan daun di cangkirnya jatuh dengan sempurna, lalu mengunggahnya ke media sosial, seolah gambar itu adalah pesan untuk seseorang yang tak pernah ada.

Di meja lain, seorang pria paruh baya dengan jaket kulit menatap layar ponselnya, wajahnya seperti peta yang penuh jalan buntu. Saya sendiri sering terperangkap dalam jaring ini. Saya membuka ponsel, men-scrolling tanpa tujuan, atau berpura-pura membaca buku Felton sambil pikiran saya mengembara ke masa silam—ke saat-saat ketika nenek saya menyeduh kopi di dapur kecilnya, dan kami duduk bersama di bawah pohon mangga, mendengarkan suara angin yang seperti bisikan dari dunia lain. Felton menyebut fenomena ini sebagai “kehadiran yang absen”—kehadiran fisik yang kosong dari keterlibatan emosional atau sosial (hlm. 89).

Melodi Kesendirian

Keterasingan di kafe bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan sesuatu yang kita ciptakan dengan sengaja, seperti seorang musisi yang memilih nada-nada tertentu untuk lagunya. Felton menulis, “Kita mengkurasi kesendirian kita, memilih untuk berinteraksi dengan dunia melalui layar daripada dengan orang-orang di sekitar kita” (hlm. 102).  

Di Danum, kurasi ini terlihat dalam gerakan-gerakan kecil yang hampir tak terlihat. Seorang mahasiswa duduk dengan buku terbuka, tetapi matanya tertuju pada ponsel, di mana ia menonton video dengan earphone, wajahnya laksana lukisan yang belum selesai. Seorang ibu muda menggoyang-goyangkan kereta bayi dengan satu tangan sambil mengetik pesan dengan tangan lainnya, gerakannya seperti metronom yang mengatur waktu yang tak pernah cukup. Bahkan pelayan kafe, yang bergerak dengan ritme yang seperti tarian, jarang berhenti untuk mengobrol. Mereka tersenyum, mengangguk, tetapi ada dinding tidak terlihat yang memisahkan kami, seperti partitur yang tak pernah dimainkan.

Saya sendiri adalah bagian dari melodi ini. Saya memilih meja di sudut karena saya suka melihat dunia di luar jendela, tetapi juga karena posisi ini memungkinkan saya untuk menghindari tatapan orang lain. Buku Felton, yang selalu saya bawa, adalah seperti piringan hitam yang saya putar untuk mengisi keheningan, alat untuk tampak sibuk, terlibat, tidak sendirian. Tapi jika saya jujur, saya sering menggunakan buku itu untuk menjaga jarak, untuk menciptakan ilusi bahwa saya tak membutuhkan siapa pun. Felton menyebut ini sebagai “koreografi penghindaran,” sebuah tarian halus yang kita mainkan di ruang publik untuk melindungi diri kita sendiri (hlm. 123).

Ada sesuatu yang aneh dalam tarian ini, seperti lagu yang dimainkan di kunci minor. Kami datang ke kafe untuk merasakan kehadiran orang lain, untuk mendengar detak kehidupan, tetapi kami juga takut untuk benar-benar hadir. Felton menulis, “Kota abad ke-21 mengutamakan efisiensi di atas komunitas, dan kafe mencerminkan pergeseran ini” (hlm. 134).  

Di kota besar ini, di mana waktu adalah seperti pasir yang terus jatuh dari jam kaca, kafe telah menjadi seperti stasiun transit, tempat orang berhenti sejenak sebelum kembali ke perjalanan mereka. Banyak pengunjung Danum adalah pekerja lepas, mahasiswa, atau profesional yang menggunakan Wi-Fi kafe untuk menyelesaikan tugas. Kopi, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar minuman, tetapi seperti bahan bakar untuk mesin yang tak pernah berhenti.

Kopi, bagaimanapun, tetap menjadi inti dari pengalaman kafe, seperti nada utama dalam sebuah lagu. Felton menggambarkannya sebagai “pelumas sosial sekaligus ritual soliter” (hlm. 78). Di Danum, saya melihat bagaimana kopi memainkan kedua peran ini dengan keanggunan yang seperti improvisasi saksofon di malam yang sepi. Di satu sisi, kopi adalah alasan orang berkumpul—untuk bertemu teman, mengadakan rapat santai, atau sekadar menikmati momen kecil dalam hari yang sibuk.

Saya sering melihat sepasang teman tertawa di meja dekat pintu, cangkir-cangkir mereka berdenting seperti lonceng kecil dalam simfoni. Di sisi lain, kopi juga menjadi alasan untuk menjaga jarak. Saya perhatikan bagaimana banyak pengunjung memesan kopi mereka, duduk, dan langsung tenggelam dalam dunia mereka sendiri, cangkir itu menjadi seperti batas tidak terlihat yang memisahkan mereka dari orang lain.

Saya sendiri merasakan ambivalensi ini setiap hari. Saya memesan kopi arabika, menikmati aroma bunga dan buahnya yang seperti kenangan musim semi, dan proses menyeduhnya yang sederhana—bubuk kopi dituang ke cangkir, disiram air panas, lalu didiamkan hingga ampasnya mengendap. Proses ini terasa seperti jeda dalam lagu, sebuah keheningan yang penuh makna. Namun setelah kopi itu tersaji, saya sering kembali ke kebiasaan saya: membaca, menulis, atau sekadar menatap jendela, menghindari interaksi dengan orang di sekitar.

Felton menyebut ini sebagai “paradoks kafe”: tempat yang dirancang untuk kebersamaan justru memperkuat kesendirian (hlm. 156). Meski Felton melukiskan keterasingan dengan begitu tajam, ia juga menawarkan secercah harapan, seperti nada tak terduga dalam lagu yang tiba-tiba mengubah suasana. “Bahkan dalam kesendirian yang dikurasi,” tulisnya, “ada momen-momen koneksi, sekilas namun bermakna, yang mengingatkan kita akan kemanusiaan kita yang sama” (hlm. 189).

Celah-Celah Melodi

Saat saya menulis esai ini, saya kembali ke Danum, duduk di meja yang sama di sudut dekat jendela. Kopi arabika saya masih panas, dan buku Felton terbuka di sampingnya, halaman-halamannya penuh dengan catatan dan lipatan kecil, seperti peta menuju dunia yang tidak pernah saya pahami sepenuhnya. Cahaya sore menyelinap melalui jendela, melemparkan bayangan yang seperti tarian lambat di lantai kayu. Saya menatap cangkir kopi saya, ampasnya mengendap di dasar seperti rahasia yang menolak diungkap. Tiba-tiba, saya menyadari sesuatu yang seperti nada yang tiba-tiba muncul dalam lagu yang telah lama saya dengar: Danum bukan sekadar kafe, bukan sekadar ruang ketiga, tetapi sebuah cermin—cermin yang menunjukkan bukan wajah saya, tetapi keheningan di dalamnya.

Felton benar bahwa kafe adalah paradoks, tetapi mungkin paradoks itu adalah lagu itu sendiri—lagu yang tak pernah selesai, yang kita mainkan tanpa tahu nada-nada akhirnya. Keterasingan, yang saya pikir adalah dinding, ternyata adalah pintu—pintu yang tak membawa kita pada koneksi atau kesendirian, tetapi pada pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kita terus duduk di sini, menyeruput kopi, menatap jendela, mencari sesuatu yang tidak pernah kita temukan?

Di Danum, di bawah cahaya yang lembut dan aroma kopi yang laksana melodi yang tak pernah usai, saya menyadari bahwa mungkin kita tidak mencari jawaban, tetapi keheningan—keheningan yang seperti jeda dalam lagu, tempat kita bisa mendengar detak jantung kita sendiri, dan untuk sesaat, merasa bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang seperti kopi: pahit, hangat, dan tak pernah sepenuhnya adicita.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Taufiq
logo