Yan Xuetong, Gaza, dan Pertarungan Legitimasi

Yan Xuetong, Gaza, dan Pertarungan Legitimasi

Pada 18 September di Beijing, Forum Xiangshan— yang biasanya hanya berisi pidato diplomatik penuh basa-basi— mendadak tegang. Yan Xuetong, profesor hubungan internasional terkemuka dari Universitas Tsinghua sekaligus salah satu pemikir paling berpengaruh di Tiongkok, berbicara blak-blakan kepada atase militer Israel. 

Dengan nada tegas, Yan menyatakan bahwa Israel telah kehilangan legitimasi karena menargetkan perempuan dan anak-anak di Gaza. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat yang segera viral: “Tidak ada yang percaya propaganda ini kecuali segelintir orang Israel.”

Potongan video itu menyebar cepat di media sosial, menandai momen ketika suara seorang intelektual Tiongkok mengguncang narasi global tentang Gaza. Dalam lanskap opini publik internasional, pernyataan Yan bukan sekadar komentar akademis. Ia mewakili spektrum baru: keberanian intelektual Tiongkok mengkritik negara sekutu Barat tanpa tedeng aling-aling.

Beberapa hari sebelumnya, pada 15 September di Jerusalem, Benjamin Netanyahu berbicara di hadapan sekitar 250 politisi Amerika Serikat. Ia menuduh Tiongkok dan Qatar melancarkan blokade informasi terhadap Israel melalui media sosial dan kecerdasan buatan, lalu menyamakan strategi itu dengan pengepungan militer Iran melalui jaringan proksinya. Tuduhan ini bukan sekadar respons spontan, melainkan bagian dari strategi yang diperhitungkan. Netanyahu tahu bahwa tanpa dukungan Washington, posisi Israel akan jauh lebih rapuh. Dengan mengaitkan Gaza pada ancaman Iran dan Tiongkok, ia berusaha meneguhkan simpati Amerika sekaligus mengalihkan sorotan dari kritik internasional yang semakin lantang.

Dua hari setelah tuduhan itu, pada 17 September di Tel Aviv, Kedutaan Besar Tiongkok merilis pernyataan resmi. Tuduhan Netanyahu disebut sebagai kesalahan arah dan kesalahan solusi. Beijing menegaskan bahwa komunitas internasional justru menuntut gencatan senjata, perlindungan warga sipil Palestina, dan pengakuan Palestina sebagai anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pernyataan itu juga menekankan bahwa protes terhadap kebijakan Israel bukanlah produk propaganda asing, melainkan realitas politik yang muncul dari keresahan global dan domestik. Dengan demikian, kritik terhadap Israel tidak bisa begitu saja diredam dengan menuding pihak luar.

Rangkaian peristiwa yang terjadi hampir bersamaan di Jerusalem, Tel Aviv, dan Beijing memperlihatkan pola yang jelas. Konflik Gaza kini tidak hanya berlangsung di medan perang, melainkan juga di arena diplomasi dan opini publik.

Israel berusaha mempertahankan dukungan dengan membingkai kritik sebagai serangan informasi. Tiongkok menolak narasi itu dan tampil sebagai suara yang menyerukan solusi politik. Seorang profesor akademisi menegaskan pergeseran ketika ucapannya viral dan menantang dominasi wacana lama. Semua ini menandakan bahwa perang di Gaza kini juga merupakan pertarungan tentang siapa yang dipercaya dunia dalam mendefinisikan kebenaran.

Bagi Israel, tuduhan terhadap Tiongkok dan Qatar mencerminkan kegelisahan bahwa monopoli narasi Barat mulai runtuh. Selama bertahun-tahun Israel berhasil mempertahankan simpati dengan narasi hak membela diri. Namun korban sipil yang terus bertambah membuat argumen itu kehilangan daya. Gambar-gambar penderitaan dari Gaza yang tersebar luas di media sosial melemahkan posisi Israel di mata publik global. Tuduhan terhadap Tiongkok mungkin efektif untuk audiens politik Amerika, tetapi di panggung internasional lebih menunjukkan kepanikan daripada kekuatan.

Bagi Tiongkok, momentum ini membuka peluang untuk memperkuat posisi global. Dengan menyerukan gencatan senjata, mendukung Palestina, dan menolak tuduhan propaganda, Beijing menegaskan dirinya sebagai aktor multipolar yang menawarkan legitimasi moral. Selama ini Tiongkok lebih dikenal sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi dalam isu Gaza ia menampilkan diri sebagai penantang dominasi narasi Barat. Viralitas Yan Xuetong menambah bobot, karena suara seorang akademisi yang tajam memperkuat citra Tiongkok sebagai rumah bagi intelektual publik yang berani menantang status quo.

Fenomena Yan memperlihatkan transformasi peran intelektual Asia dalam politik internasional. Selama ini, suara akademisi non-Barat kerap ditempatkan di pinggiran diskursus global. Kini, dengan satu video viral, seorang profesor Tiongkok mengubah arah pembicaraan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa legitimasi moral bisa diproduksi di luar lingkaran lama, dan multipolaritas tidak hanya tentang distribusi kekuatan material, tetapi juga distribusi narasi dan legitimasi.

Krisis Gaza karena itu dapat dibaca sebagai laboratorium multipolaritas. Israel masih memiliki kekuatan militer, tetapi legitimasi moralnya terkikis. Tiongkok belum memimpin inisiatif perdamaian formal, tetapi memperluas pengaruh dengan narasi moral. Global South menyaksikan peluang untuk menegaskan diri, bahwa opini dunia tidak lagi hanya ditentukan oleh Washington atau Brussels, melainkan juga oleh Jakarta, Delhi, Pretoria, dan kota-kota lain di belahan Selatan. Bagi negara-negara ini, Gaza menunjukkan bahwa narasi global kini diproduksi di banyak titik, diperdebatkan di berbagai ruang, dan tidak lagi dikendalikan sepenuhnya oleh satu blok.

Indonesia khususnya perlu membaca pergeseran ini dengan serius. Selama ini kita cenderung menjadi konsumen narasi, menerima bingkai yang datang dari Barat atau Timur. Multipolaritas memberi peluang untuk menjadi produsen narasi. Krisis Gaza bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk menegaskan posisi moral, bukan sekadar mengulang jargon nonblok, tetapi dengan menawarkan imajinasi politik yang segar tentang perdamaian dan keadilan. Indonesia pernah memimpin suara Dunia Ketiga melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Kini pertanyaannya, apakah kita masih punya keberanian untuk kembali menjadi produsen legitimasi global, bukan hanya pengikut narasi adidaya.

Sejarah memberi banyak contoh bahwa legitimasi lebih menentukan daripada kemenangan militer. Amerika Serikat memenangkan banyak pertempuran di Vietnam, tetapi kalah dalam perang legitimasi. Afrika Selatan di era apartheid memiliki kekuatan represif yang besar, tetapi runtuh karena isolasi moral internasional. Invasi Amerika ke Irak menggulingkan Saddam Hussein dengan cepat, tetapi kehilangan legitimasi global yang membuat kawasan itu terjebak dalam instabilitas panjang. Israel kini menghadapi risiko yang sama. Ia bisa terus memenangkan pertempuran, tetapi jika dunia tidak lagi percaya pada narasinya, kemenangan itu akan kosong.

Tuduhan Netanyahu terhadap Tiongkok dan Qatar adalah tanda bahwa monopoli narasi Barat retak. Narasi tentang Gaza kini tidak bisa lagi dikontrol dari satu pusat. Apa yang diucapkan Yan di Beijing bisa memengaruhi diskursus di Eropa, Amerika, atau Asia Tenggara. Apa yang viral di media sosial bisa menandingi pernyataan resmi pejabat. Multipolaritas membuat arus legitimasi tidak lagi linier, melainkan bercabang dan saling menantang.

Bagi Indonesia, kenyataan ini adalah peringatan sekaligus peluang. Peringatan karena jika hanya menjadi konsumen narasi, kita akan terjebak dalam logika blok yang membatasi imajinasi politik kita. Peluang karena multipolaritas membuka ruang untuk tampil dengan suara sendiri, menegaskan komitmen pada perdamaian, keadilan, dan solidaritas. Jika Jakarta berani menegaskan posisi bukan hanya berdasarkan kalkulasi geopolitik, tetapi juga berdasarkan legitimasi moral, maka Indonesia bisa menghidupkan kembali peran historisnya sebagai produsen narasi Dunia Selatan.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Gaza atau reputasi Israel, melainkan arah tatanan dunia. Jika multipolaritas hanya menghasilkan fragmentasi dan disinformasi, dunia akan semakin rapuh. Tetapi jika multipolaritas membuka distribusi legitimasi yang lebih adil, dunia bisa melahirkan tatanan yang lebih inklusif. Viralitas Yan Xuetong bukan sekadar insiden retoris, tetapi tanda bahwa suara alternatif kini bisa menembus dominasi lama. Bagi Israel, ini ujian apakah kekuatan militer masih cukup menopang legitimasi. Bagi Tiongkok, ujian apakah strategi moral bisa menghasilkan pengaruh jangka panjang. Bagi Indonesia dan Global South, ini ujian apakah kita siap berhenti menjadi konsumen narasi dan mulai berani menjadi produsen legitimasi global.

Sejarah jarang diingat dari siapa yang memenangkan pertempuran, melainkan dari siapa yang berhasil meyakinkan dunia akan kebenaran tindakannya. Gaza kini menjadi cermin bahwa kepercayaan lebih menentukan daripada peluru. Dan dalam politik multipolar yang sedang lahir, kepercayaan adalah senjata yang lebih menentukan daripada seluruh arsenal militer yang ada.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura


Editor: Muhammad Zunus
logo