Israel Sulit Dikalahkan jika Palestina Menempuh Jalur Militer

Israel Sulit Dikalahkan jika Palestina Menempuh Jalur Militer

Intelektual Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla dalam diskusi bertajuk Duka Palestina Duka Dunia yang digelar NU Online, Rabu (8/11/23), mengungkapkan bahwa Palestina bisa menang dalam konflik melawan Israel. Hanya saja kemenangan Palestina tidak melalui jalur konfrontasi militer, melainkan membangun dukungan dari masyarakat sipil internasional. 

Menurut Gus Ulil, sapaan akrab Ketua PBNU ini, apabila berperang dengan senjata, Palestina tidak akan menang. Sejarah sudah membuktikan bagaimana negara-negara Arab berperang dengan Israel yang hasilnya malah kalah. Selain itu, Gus Ulil menekankan bahwa apabila pembelaan terhadap Palestina berangkat menggunakan bahasa agama, hal itu malah makin membuat Israel sulit dikalahkan. 

Gus Ulil mendasari pendapatnya ini dengan pembacaan situasi politik di internal Israel yang ternyata juga sedang bergejolak. Saat ini pemerintahan Israel pimpinan perdana menteri (PM) Benjamin Netanyahu didominasi oleh kelompok konservatif. Mereka mengeksploitasi sentimen agama dalam konfrontasi melawan Palestina. Pemakaian bahasa agama ini diduga sengaja dilakukan sebagai alat tawar politik guna mengukuhkan pengaruh pemerintahan Israel di hadapan masyarakatnya. Pasalnya, pemerintahan Israel di bawah kuasa Netanyahu sekarang, secara moral tidak terlalu kuat pengaruhnya di masyarakat. Netanyahu pernah terjerat skandal korupsi yang membuat karier politiknya hampir punah. Karir politik Netanyahu bisa selamat setelah Partai Likud selaku partai tempat Netanyahu bernaung, memenangkan pemilu tahun 2022. Kemenangan ini membawa dirinya kembali menduduki posisi PM menggantikan Yair Lapid.

Bukti bagaimana kekuasaan Netanyahu secara moral tidak terlalu kuat bisa dilihat dari persepsi masyarakat Israel dalam menilai kebijakan pemerintah terhadap Palestina. Masyarakat Israel ternyata tidak seluruhnya mendukung agresi militer Israel ke Palestina. Merujuk pada berita yang disiarkan kantor berita Al-Jazeera, Sabtu (4/11/23), disebutkan bahwa sebagian masyarakat Israel bahkan turun ke jalan menuntut Netanyahu mundur dari jabatannya karena dinilai gagal mencegah serangan Hamas.

Konfrontasi antara Israel menghadapi Palestina sebenarnya menjadi panggung Netanyahu untuk kembali memperkuat legitimasi moral pemerintahannya. Netanyahu menggunakan bahasa agama untuk membenarkan tindakannya membombardir Jalur Gaza. Karena itu jika pembela Palestina juga memakai bahasa agama dalam menyikapi konfik Israel-Palestina, hal itu justru akan semakin menguatkan Netanyahu dan pemerintahannya. Yang seharusnya dipakai oleh pendukung Palestina ialah bahasa kemanusiaan agar legitimasi moral Israel runtuh dalam konflik menghadapi Palestina.

Hal tersebut masuk akal mengingat keadaan pemerintah Israel yang saat ini sedang berada di posisi rentan. Di satu sisi mereka dihujat sebagian besar masyarakat dunia karena tindakan brutalnya di Palestina, di sisi lain mereka juga dikecam oleh penduduknya sendiri. Kenyataan tersebut membuka peluang untuk menghentikan perang tidak melalui konfrontasi militer, tapi lewat jalur solidaritas masyarakat sipil dunia.

Masyarakat sipil bisa mendorong agar Israel menghentikan serangan untuk sementara waktu. Hal tersebut tentu tidak akan menyelesaikan permasalahan secara keseluruhan. Tapi paling tidak pertumpahan darah bisa dihentikan. Nyawa anak-anak dan orang-orang sipil nantinya bisa diselamatkan.

Solusi jangka panjang, entah berupa pembentukan dua negara atau pengembalian kedaulatan Palestina seperti ketika sebelum tahun 1948 adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai dalam waktu sekejap. Perlu waktu panjang untuk mewujudkannya. Tapi paling tidak untuk saat ini menghentikan perang merupakan solusi jangka pendek yang bisa diusahakan. Dengan begitu, argumentasi Gus Ulil yang mendorong perjuangan lewat solidaritas masyarakat sipil dunia sebenarnya bukan sesuatu yang mengada-ada. Hal tersebut relevan dengan situasi yang sedang berjalan.  

Perbandingan Militer Israel-Palestina

Pendapat Gus Ulil bisa dibilang tidak populer di kalangan pembela Palestina di tanah air. Penyikapan atas konflik Israel-Palestina umumnya dipahami lewat jalur perjuangan fisik dengan berperang secara militer. Tawaran dialog atau perjuangan non-kekerasan biasanya tidak dianggap sebagai solusi yang realistis dalam konflik Israel-Palestina. Itulah mengapa aksi militer yang dilakukan Hamas cenderung lebih menuai respons positif dari publik Indonesia daripada negosiasi antarelite pemerintahan di kedua kubu.

Padahal kalau dicermati lebih jauh, pendapat Gus Ulil sebenarnya masuk akal. Kekuatan militer Palestina tidak sebanding dengan Israel. Merujuk pada laporan The International Institute for Strategic Studies/IISS berjudul The Military Balance (2023), Israel memiliki tentara aktif berjumlah 169.500 yang terbagi ke dalam angkatan darat (126.000), angkatan laut (9.500), angkatan udara (34.000) dan paramiliter (8000). Selain personel utama ini, Israel juga diperkuat oleh pasukan cadangan yang berjumlah 465.000. Jumlah tentara sebanyak ini menempatkan Israel di posisi ke enam negara dengan jumlah tentara terbanyak di Timur Tengah di bawah Iran, Mesir, Arab Saudi, Maroko, dan Irak. Besarnya jumlah pasukan Israel disebabkan kebijakan wajib militer yang diberlakukan pemerintah untuk warganya. Siapa saja yang sudah menginjak usia 18 tahun ia wajib mengikuti latihan militer. Sedangkan mereka yang baru berusia 17 tahun bisa mengikuti wajib militer secara sukarela.

Tentara Israel yang besar disokong oleh pembiayaan yang juga sama besarnya. Pada tahun 2023, Israel mendedikasikan 4,5% produk domestik bruto (PDB) untuk militer. Persentase ini menjadi yang tertinggi ke-10 di dunia. Besarnya biaya ini menunjukkan bagaimana orientasi militer Israel dalam sistem pertahanan negara. Selain diperkuat dengan jumlah tentara yang banyak, militer Israel juga didukung oleh persenjataan yang lengkap dan canggih. Israel memiliki pesawat tempur, tank, sistem pertahanan penangkal rudal, rudal/roket jarak dekat dan jarak jauh, serta senjata-senjata lainnya. Peralatan tempur Israel ada yang berasal dari industri nasional Israel sendiri dan juga ada yang berasal dari sokongan Amerika Serikat. Untuk tingkat kemodernan dan kecanggihan persenjataan, Israel menjadi salah satu negara termaju di Timur Tengah.

Kondisi militer Palestina berbanding terbalik dengan Israel. Palestina tidak memiliki persenjataan selengkap dan secanggih Israel. Palestina sendiri secara umum bukanlah negara yang bentuk dan model pemerintahannya sama dengan Israel dan negara-negara lain. Secara umum Palestina dikelola oleh dua otoritas pemerintahan. Wilayah Tepi Barat dikuasai oleh Palestine National Authority (PNA). Sedangkan Gaza dikuasai oleh Hamas. Dua pemerintahan ini relatif berhasil menjaga keamanan di daerahnya masing-masing meskipun secara politik berbeda haluan dan orientasi perjuangan. Karena ada dua pemerintahan tersebut membuat Palestina tidak memiliki tentara yang utuh dan tersentral seperti Israel. 

Sampai detik ini tidak ada data pasti yang bisa menjelaskan secara mendetil bagaimana kekuatan militer di Palestina. Namun jika memakai data yang dimiliki IISS (2023), terlihat perbedaan kekuatan militer yang signifikan antara kedua pemegang otoritas di Palestina. PNA bisa dikatakan tidak memiliki tentara resmi dalam bentuk angkatan darat, udara, dan laut. Yang dimiliki PNA adalah pasukan paramiliter yang mencakup pasukan pengaman presiden, pasukan khusus, polisi, pasukan keamanan nasional, pasukan pertahanan sipil, dan pasukan intelijen. Kalau ditotal dari keseluruhan pasukan ini jumlahnya hanya 28.200 orang.

Sedangkan Hamas yang menguasai Gaza memiliki kemampuan militer yang lebih baik dari PNA. Hamas lewat sayap militernya yang bernama Izuddin al-Qassam, memiliki sekitar 20.000-25.000 pasukan. Pasukan Hamas dipersenjatai oleh senjata ringan, seperti roket/rudal yang konon bisa menjangkau jarak hingga 250 km, rudal anti-tank, serta persenjataan ringan lain macam senjata laras panjang dan sejenisnya. Diduga Hamas memperoleh persenjataan lewat jalur penyelundupan yang berasal dari Iran dan beberapa negara lain. Hamas secara formal tidak memiliki industri pertahanan di Gaza. Meski begitu, Hamas diketahui tetap mampu memproduksi dan merakit sendiri senjatanya meskipun untuk skala yang terbilang kecil. 

Dari data di atas terlihat jelas bagaimana peta kekuatan militer antara Israel dan Palestina yang bisa dikatakan sangat jomplang. Jika kekuatan PNA dan Hamas disatukan, hal itu tetap tidak bisa menyaingi kemampuan militer Israel. Dengan perimbangan kekuatan yang demikian, tidak keliru jika disebut bahwa Palestina tidak akan menang melawan Israel dalam konfrontasi militer. Kekuatan keduanya sangatlah timpang. Maka dari itu apabila perang fisik yang selalu dikedepankan dalam upaya penyelesaian konflik, Palestina bukannya merdeka tapi malah bisa musnah secara total.

Walau kekuatan Israel-Palestina terlihat jomplang, tapi pada serangan 7 Oktober lalu, nyatanya Hamas mampu memberi pukulan yang signifikan untuk Israel. Serangan ini menjadi serangan paling mematikan yang dilontarkan Hamas dalam rentang satu dekade terakhir. Meski begitu bukan berarti Hamas dan pejuang Palestina lain bisa mengalahkan Israel begitu saja dengan mudah. Perang Israel-Palestina bukan hanya mengenai dua negara yang saling berkonflik. Tapi ini adalah perang yang rumit dan melibatkan banyak aktor, baik yang sifatnya internal maupun eksternal. 

Secara geopolitik, Israel selain didukung oleh kekuatan militer yang besar, mereka juga didukung oleh Amerika dan negara-negara barat lain. Apabila perang total antara Israel-Palestina benar-benar pecah, negara-negara barat pasti akan ikut serta dalam perang tersebut. Tidak mungkin Amerika membiarkan aset berharganya di Timur Tengah bertarung sendirian. Kalau pun Palestina nanti didukung oleh seluruh Negara Arab dalam perang melawan Israel, hal itu tidak memberi jaminan bahwa Israel akan dapat dikalahkan dengan gampang. Sejarah menunjukkan bagaimana aliansi Negara Arab nyatanya tetap kalah dalam perang melawan Israel. Selama negara barat masih ikut serta mendukung Israel di belakangnya, peluang kemenangan militer masih sulit dicapai. Palestina hanya bisa menang secara militer apabila Amerika dan sekutunya tidak ikut campur dalam perang. Selama Amerika dan sekutunya tetap ikut campur, kecil kemungkinan Palestina dapat mengalahkan Israel secara militer.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor: Muhammad Zunus
logo