Ribuan atau jutaan orang setoran kata-kata mengarah ke Pertamina. Mereka marah, kecewa, prihatin, bingung, dan sedih. Hari demi hari, serbuan kata belum selesai untuk Pertamina. Para pejabat, pengamat, dan pakar memberi penjelasan-penjelasan dan beradu argumentasi. Publik terus menanti kebenaran dan keadilan.
Kesibukan mengikuti berita-berita memberi bekal bagi publik mengetahui pelbagai masalah di Pertamina. Mereka perlahan menandai tokoh-tokoh menjadi sasaran kritik dan benci. Semua kata dalam kamus tak mungkin digunakan untuk merampungkan semua masalah. Konon, kata-kata telah disetorkan publik menanti balasan hasil pengadilan.
Siapa masih membaca novel saat “kehabisan” kata mengomeli Pertamina? Kita mementingkan berita-berita dan penjelasan resmi dari piha-pihak berkepentingan. Novel mungkin turut memberi asupan renungan sambil menilik kesilaman Indonesia.
Novel masih mudah ditemukan itu berjudul Ladang Perminus (1990) gubahan Ramadhan KH. Para pembaca masa lalu masih ingat Perminus itu Perusahaan Minyak Nusantara. Pengarang sengaja tak mencantumkan Pertamina. Kejadian di Indonesia berkaitan korupsi dan kekuasaan.
Hidayat, tokoh dalam novel itu menanggung beragam beban. Masalah terbesar bersumber Perminus: korupsi. Pagi sebelum berangkat ke kantor, ia menjadi pembaca koran Nusa Raya menemukan berita-berita buruk. Hidayat dipaksa berpikir kerasa saat mendapat berita: “Tim Gabungan Tugas Migas Perkuneg melaporkan adanya perbedaan-perbedaan dalam jumlah minyak mentah yang sebenarnya diangkut ke luar negeri, dengan yang dilaporkan dakam buku ekspor, yang dipukul rata berjumlah 1%. Tim itu juga menemukan bahwa ongkos freight pengangkutan minyak yang dibayarkan Perminus dulu tidak dapat ditemukan angka-angkanya di Pangkalan Susu karena freight dibayarkan tidak ke Indonesia…”
Orang-orang lama bisa mengingat Indonesia masa 1970-an. Pendapatan besar Indonesia bersumber minyak. Korupsi terbesar pun gara-gara minyak. Perminus diwajibkan memberi untung tapi kecurangan dan pesta duit dilakukan para pejabat. Ramadhan KH mengisahkan: “Hidayat terus berpikir mengenai siapa kira-kira yang membantu koran itu mendapatkan informasi. Rasanya ada orang dalam, kata Hidayat kepada dirinya sendiri. Tetapi, siapa?”
Gegeran korupsi dan pamer kekuasaan dalam novel gubahan Ramadhan KH itu mengisahkan Indonesia. Kita mengandaikan terjadi saat rezim Orde Baru panen uang dan mencipta sandiwara kekuasaan terbesar. Kritik dan protes bertebaran di pelbagai surat kabar tak mudah menghancurkan Perminus atau pemerintah. Di novel, kita membaca percakapan Hidayat dan orang asing mengacu berita-berita tentang Perminus. Hidayat meragu jika berita-berita memicu pergantian direktur utama di Perminus. Ramadhan KH menulis anggapan tokoh: “Ia yakin direktur utama yang sekarang kuat kedudukannya. Malahan begitu kuatnya sehingga orang-orang di pemerintahan banyak yang bergunjing tentangnya. Pemerintahan dalam pemerintahan, begitulah gunjingan orang.”
Siapa masih sanggup membaca novel dalam “tahun sulit” dan banjir berita buruk berkaitan Pertamina? Novel gubahan Ramadhan KH itu “merekam” sejarah membuat pembaca mengerti kondisi politik, ekonomi, sosial, dan kultural Indonesia masa Orde Baru. Pembaca pun mengenali tokoh-tokoh dalam sengketa kepentingan untuk memuliakan atau menghancurkan Indonesia.
Kita masih berhak menanti jawab: “Siapa masih membaca puisi?” Kita tergoda membuka kembali buku berjudul Catatan Harian Sang Koruptor (1985). F Rahardi mempersembahkan puisi-puisi “mengoreksi” kekuasaan dan serakah uang di Indonesia. Puisi-puisi masih cocok terbaca dan terkutip bagi orang-orang bertambah marah dengan lakon korupsi di Pertamina.
Puisi berjudul “Sepuluh Nasihat Buat Kadal” memuat masalah terus tergelar di Indonesia: jangan mencuri rezeki rakyat/ terang-terangan hingga mudah ketahuan/ berbohonglah hanya kepada sesama kadal/ jangan kepada oom/ terakhir jangan sekali-kali/ kalian para kadal ikut-ikutan/ bemimpi untuk juga/ menjadi oknum/ seperti oom. Rahardi mengisahkan Indonesia masa Orde Baru. Kisah itu mungkin berulang sampai sekarang.
Rahardi itu pemberani dalam mencantumkan kritik atau protes. Kita membaca puisi berjudul “Catatan M” agar Indonesia masa lalu teringat sambil mencari cocok-cocok dengan masa sekarang. Rahardi menulis: pagipagi drs bambang gentayangan/ staf pribadiku membeberkan laporan:// pertama/ enam ekor polisi telah berhasil/ kita beli seharga 415 ribu rupiah/ dan setiap saat mereka bisa kita peralat/ untuk menembak atau menempeleng atau/ menakut-nakuti rakyat// kedua/ tiga ekor hakim seekor jaksa dan dua tukang/ sapu pengadilan tinggi telah pula kita/ miliki dengan harga yang relatif murah dan/ kini tempat tersebut tak angker lagi// ketiga/ supaya lebih siap dalam waktu dekat ini kita/ juga harus membeli 20 ekor wartawan senior/ 6 ekor pejabat teras, 4 ekor eks gali. Puisi itu telak menguak aib-aib berlatar masa Orde Baru. Indonesia dalam “sandiwara-sandiwara” membuat kritik publik mudah sia-sia dan tanpa jawab. Korupsi mungkin terberitakan dan menjadi “gunjingan” tapi semua bisa sirna atau samar.
Pada 1993, KH A Mustofa Bisri pun berani mengajukan puisi mengenai bobrok Indonesia. Ia tak menulis kadal tapi tikus. Di puisi berjudul “Tikus-Tikus di Atas Meja”, kita membaca Indonesia masa lalu: Tikus-tikus di atas meja/ (Seram juga melihat taring-taringnya)/ Dengan rakus menyikat apa saja/ Beberapa remah roti jatuh tercecer/ Beberapa tikus meluncur turun ke bawah/ Berebut remah dengan kecoa-kecoa kecil/ Sesekali terdengar kersik suara/ Tikus-tikus pun sekejap menghilang/ Bagai ditelan bumi/ Tapi tak lama moncong dan taringnhya/ muncul lagi. Kita sudah terbiasa dengan sebutan “tikus” dalam penghancuran Indonesia. Di situ, ada terkisahkan “kecoa” meski tak terlalu mendapat perhatian.
Kini, kita mengetahui korupsi belum tamat di Indonesia. Kita mengikuti berita-berita di pelbagai media. Di percakapan keseharian, jengkel dan marah terus bertambah. Pada saat tidur, mimpi buruk Indonesia pun bertangan. Indonesia sedang “absurd” tapi kita masih mungkin merenung dengan membaca novel dan puisi. Korupsi terus terbaca dalam gubahan sastra mengingatkan publik tentang Indonesia belum mulia dan makmur. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus
