Hari Ketika Mama Mulai Lupa

Hari Ketika Mama Mulai Lupa

Pada usia 41 tahun, saya mulai mengenal ketakutan yang dulu tidak  pernah masuk senarai kecemasan saya. Saya takut suatu hari Mama tidak lagi mengenali saya. Mama berusia 71 tahun. Beberapa waktu terakhir ia mendadak kehilangan fokus dan melupakan hal yang baru saja kami bicarakan.

Kami membawanya ke dokter. Pemeriksaan awal menunjukkan gejala demensia ringan. Dokter mengatakan perawatan dan pengobatan sejak dini masih memberi harapan. Kami pulang membawa obat, jadwal pemeriksaan, dan satu keinginan semenjana: semoga Mama kembali sehat.

Walakin penyakit sering membawa pertanyaan yang tidak tercantum dalam resep. Jika ingatan Mama membaik, apakah ia akan bahagia lagi? Jika sebagian ingatannya tidak kembali, apakah kebahagiaan juga ikut hilang? Pertanyaan itu akhirnya berbalik kepada saya: selama 41 tahun hidup, apakah saya sendiri mengerti apa arti bahagia?

Bahagia yang Selalu Ditunda

Kita terbiasa menaruh kebahagiaan di masa depan. Saya akan bahagia setelah pekerjaan selesai, tabungan cukup, karier membaik, rumah lunas, atau keluarga bebas masalah. Target tercapai, rasa puas datang sebentar,  kemudian kita membuat target berikutnya.

Jonathan Haidt menyebut pola itu progress principle. Dalam The Happiness Hypothesis: Finding Modern Truth in Ancient Wisdom, ia menjelaskan bahwa manusia sering memperoleh lebih banyak kesenangan tatkala bergerak menuju tujuan tinimbang ketika sudah mendapatkannya. “Joy’s 
soul lies in the doing,” tulisnya dengan mengutip Shakespeare (Haidt, 2026, 
hlm. 99–100).

Saya mengenali pola tersebut. Pada usia 41 tahun, beberapa hal yang dahulu saya kejar sudah tercapai. Anehnya, pencapaian tidak pernah mengosongkan senarai keinginan. Senarai itu malah bertambah, sampai 
kondisi Mama mendadak mengubah ukuran tentang apa yang penting.

Percakapan biasa kiwari terasa mahal. Saya ingin Mama dapat mengikuti cerita sampai selesai. Saya ingin mendengar jawabannya tanpa melihat ia kebingungan mencari kata. Hal-hal yang dahulu tidak pernah masuk senarai kebahagiaan tiba-tiba menempati posisi paling atas.

Kita Cepat Menganggap Biasa

Haidt juga membahas adaptation principle. Manusia cepat menyesuaikan diri dengan keberuntungan maupun kesulitan, sehingga perubahan yang semula terasa besar perlahan menjadi keadaan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa manusia buruk dalam memperkirakan seberapa lama sebuah peristiwa akan menentukan perasaannya (Haidt, 2026, hlm. 100–103).

Prinsip itu membantu saya memahami kesalahan sederhana yang berlangsung bertahun-tahun. Mama selalu ada, sehingga saya menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang pasti. Kami dapat menelepon (video call) besok, berbicara nanti, atau bertemu lain kali. Selalu ada lema “nanti”.

Ketika gangguan ingatan muncul, kata itu kehilangan kepastian. Saya mulai memahami bahwa sesuatu tidak harus hilang lebih dulu agar kita menghargainya. Pelajaran yang lebih berguna justru belajar memperhatikan  selagi orang yang kita sayangi masih duduk di depan kita.

Jika Mama Lupa

Ada pertanyaan yang terus mengganggu saya. Jika suatu hari Mama melupakan sebagian hidupnya, apakah kehidupan itu ikut hilang? Saya kira tidak.

Ingatan keluarga tidak tersimpan pada satu kepala. Saya membawa cerita tentang Mama. Saudara-saudara saya juga menyimpan kebiasaannya, nasihatnya, makanan kesukaannya, kemarahannya, tawanya, serta pelbagai kejadian kecil yang membentuk kehidupan kami.

Jika suatu hari Mama lupa cerita tentang kami, mungkin tugas kamilah mengingat cerita perihal Mama. Kalimat itu terdengar semenjana, tetapi mengubah cara saya memahami hubungan anak dan orangtua. Selama puluhan tahun, Mama menjadi penjaga ingatan kami.

Dulu ia mengingatkan kami untuk makan, belajar, pulang,  beribadah, dan menjaga kesehatan. Ia ingat jadwal sekolah, ulang tahun, penyakit, kesalahan, dan kebutuhan anak-anaknya. Kiwari sebagian tugas itu perlahan berpindah kepada kami.

Cinta Tidak Memerlukan Ujian Ingatan

Haidt menempatkan hubungan manusia sebagai salah satu unsur penting kebahagiaan. Dalam bab terakhir bukunya, Happiness Comes from Between, ia menunjukkan bahwa kehidupan yang bermakna tumbuh dalam hubungan antara diri dengan orang lain, pekerjaan, dan tujuan yang dianggap bernilai (Haidt, 2026, hlm. 235–236).

Gagasan itu membuat saya berhenti mencari definisi kebahagiaan yang terlalu besar. Untuk Mama, mungkin pertanyaannya kini lebih sederhana. Apakah ia merasa aman hari ini? Apakah seseorang mendengarkan ketika ia mengulang pertanyaan yang sama?

Apakah kami masih berbicara kepadanya sebagai Mama, bukan sekadar sebagai pasien? Apakah kami menjaga harga dirinya ketika ia lupa? 

Apakah kami bersedia menjelaskan sesuatu dua atau tiga kali tanpa menunjukkan kejengkelan?

Itulah bentuk kebahagiaan yang bisa dikerjakan. Tidak memerlukan teori silang selimpat. Ia memerlukan waktu, kesabaran, perawatan medis, rutinitas yang teratur, dan anggota keluarga yang tidak menjadikan lupa sebagai alasan untuk mempermalukan seseorang.

Jangan Mempercantik Penderitaan

Saya juga tidak ingin menyebut penyakit Mama sebagai berkah. Kalimat seperti itu mudah diucapkan oleh orang yang tidak menjalani kecemasannya. Penyakit tetap membawa ketakutan, biaya, perubahan 
rutinitas, dan kemungkinan kehilangan yang sulit diprediksi.

Haidt pun tidak mengatakan bahwa penderitaan otomatis membuat manusia lebih baik. Dalam The Uses of Adversity, ia menunjukkan bahwa krisis dapat menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga dapat meninggalkan trauma dan tekanan panjang (Haidt, 2026, hlm. 152–155).

Yang menentukan adalah bagaimana manusia merespons pengalaman tersebut. Haidt membahas pentingnya sense making, kemampuan menyusun pengalaman sulit menjadi cerita yang dapat dipahami, serta dukungan orang terdekat dalam proses itu (Haidt, 2026, hlm. 162–165).

Kami tidak perlu mencari alasan mengapa Mama harus sakit. Kami cukup bertanya apa yang dapat kami lakukan hari ini. Membawanya berobat, memastikan obat diminum, mengajaknya berbicara, menjaga  aktivitasnya, dan menemaninya adalah tindakan yang lebih berguna daripada memaksa penderitaan memiliki pesan indah.

Definisi yang Berubah

Dulu saya mungkin mendefinisikan bahagia sebagai keadaan ketika hidup berjalan sesuai rencana. Sekarang definisi itu terasa rapuh. Tubuh dapat berubah, ingatan dapat terganggu, dan sebuah keluarga dapat  menerima kabar yang tidak pernah masuk rencana.

Namun manusia masih memiliki ruang untuk memilih respons. Kita dapat hadir. Kita dapat bersabar. Kita dapat mendengarkan cerita yang sama tanpa mengoreksi setiap kesalahan kecil.

Kita juga dapat berhenti mengukur nilai seseorang dari produktivitas dan daya ingatnya. Orangtua tetap orang tua ketika tubuh melemah. Seorang ibu tetap memiliki martabat ketika ia lupa nama, tanggal, atau percakapan kemarin.

Anak Menjadi Penjaga Ingatan

Saya tetap berharap Mama membaik. Kami akan mengikuti pengobatan dan saran dokter selama masih ada yang dapat dilakukan. Harapan tidak perlu dibuang hanya karena kami belajar menerima kenyataan.

Tetapi saya mulai memahami bahwa cinta tidak boleh menunggu hasil pemeriksaan berikutnya. Jika besok Mama menanyakan sesuatu yang sudah kami jawab hari ini, kami akan menjawab lagi. Jika ia lupa sebuah nama, kami dapat memperkenalkannya kembali.

Selama 71 tahun, Mama mengingat begitu banyak hal tentang anakanaknya. Ia menyimpan nama, wajah, ulang tahun, sekolah, sakit, keberhasilan, kegagalan, dan berbagai kebutuhan yang mungkin sudah kami sendiri lupakan. Kini mungkin giliran kami menjadi penjaga ingatannya.

Pada usia 41 tahun, saya akhirnya memahami bahwa menjadi anak tidak selesai ketika seseorang tumbuh dewasa. Tugasnya hanya berubah. Dulu kita membutuhkan ibu untuk membantu kita mengenali dunia dan mengingat siapa diri kita.

Suatu hari, ibu mungkin membutuhkan kita untuk melakukan hal yang sama.

Mungkin kebahagiaan tidak selalu berarti memiliki ingatan nan utuh. Kadang kebahagiaan sesederhana mengetahui bahwa tatkala ingatan mulai pergi, masih ada seseorang yang memilih tinggal.

Jika kelak Mama lupa cerita tentang kami, kami akan terus mengingat cerita ihwal Mama.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
logo