Meja makan tak selalu mengisahkan lezat, bahagia, tertawa, atau pujian. Orang-orang menemukan sengsara dan trauma bersumber meja makan.
***
Di debat terakhir, 4 Februari 2024, menjelang hajatan demokrasi, kita menikmati kalimat-kalimat dibuat Anies, Prabowo, dan Ganjar. Mereka mengucap dengan gejolak makna berbeda. Di hitungan kata, mereka sering mengucap “Indonesia”. Kita pun mengetahui Prabowo fasih dan sering mengucap kata “makan”.
Sekian hari lalu, dua tokoh tenar sarapan di Jogjakarta. Mereka menikmati pagi dan nasi gudeg. Makan dan percakapan di tatapan mata publik itu “berselera” kekuasaan. Pada hari-hari ramai seruan dan godaan untuk raihan kemenangan dalam hajatan demokrasi, makan menjadi peristiwa penting dalam penentuan nasib Indonesia. Pada hari berbeda, dua tokoh bersantap bakso di Jawa Tengah. Berita-berita bermunculan makin mengartikan makan dan kekuasaan.
Kita mengaku jemu membicarakan tokoh-tokoh politik dan makanan berhak berganti sejenak dengan tokoh dalam sastra. Konon, HB Jassin terbiasa membaca dan mengoreksi naskah-naskah sastra di dapur. Ia menggunakan meja di dapur untuk kerja sastra. Ia tak bermaksud membuat ajaran tentang meja makan dan kesusastraan. Kebiasaan dimaklumi istri meski mengharuskan ada mufakat dalam pembagian peran dan peristiwa.
Di atas meja makan, dokumentator sastra itu lupa membuat bunga rampai berisi puisi, cerita pendek, dan penggalan novel bertema makan. Kita sekadar mengingat warisan buku-buku bunga rampai susunan HB Jassin itu Pujangga Baru, 1945, dan 1966. Kita mungkin kecewa tapi keinginan mengaitkan (meja) makan dan kesusastraan bisa kita wujudkan meski berbekal teks-teks terbatas.
Pada 1990, Afrizal Malna menggubah puisi berjudul Biografi di Atas Meja Makan. Puisi bukan terbaik atau sering mendapat pembahasan dalam arus puisi Indonesia. Bait bukan bermaksud mengajak pembaca lapar: Aku telah menutup puisi kiranya, sebelum ragu,/ hanya karena tak ada ledakan dalam pikiranmu yang/ risau. Kemudian meja makan jatuh bersama riwayat/ hidupmu yang deras, tak berpenghuni lagi. Merasakan diri tanpa siapa pun, jadi kekerasan memberi arti.
Meja bukan bukan benda biasa. Meja tak sekadar berurusan makan. Kita mengerti biografi dan sejarah ditaruh di meja makan. Peristiwa-peristiwa masa lalu dan deretan tokoh mengingatkan lakon hidup. Di atas meja makan, segala hal dan makna bergantian datang dan pergi, teringat dan terlupa, terpilih dan terbuang.
Meja makan tak selalu mengisahkan lezat, bahagia, tertawa, atau pujian. Orang-orang menemukan sengsara dan trauma bersumber meja makan. Di alur hidup, meja makan ikut mengisi biografi.
Afrizal Malna menulis: Meja makan telah disusun lagi, di antara taplak, piring,/ dan sendok. Riwayat hidupmu dibaca lagi, penuh kawat/ berduri. Dan orang-orang berlalu, menggenggam jari-jari/ tangannya sendiri. Di meja makan, sendiri dan bersama menjadikan hidup dipengaruhi benda-benda, citarasa, waktu, dan bahasa.
Kita lanjutkan membaca cerita pendek berjudul Makan Malam di Nirwana gubahan Suryatini N Ganie (2008). Dulu, pengarang itu sibuk mengurusi majalah berpengaruh: Selera. Majalah memberitakan dan menceritakan upaboga. Peran sebagai pemimpin redaksi digenapi menjadi pengarang cerita. Ia mengajak pembaca melihat perkembangan Jakarta. Mata melihat hotel dan restoran. Tokoh-tokoh dalam peristiwa makan malam. Mereka terlibat percakapan dan tatapan mata selain lidah merasakan beragam kelezatan. Makan malam menjelaskan asmara, bisnis, nostalgia, dan kota.
Hidup di Jakarta, hidup dengan kebingungan memilih tempat-tempat untuk makan bersama. Tokoh dalam cerita mengatakan: “Kalau kau mau makan di tempat yang klasik dan hidangannya ada hidangan Indonesia maupun mancanegara seperti di Nirwana dulu, kita pergi ke Oasis saja.” Pengetahuan nama restoran dan alamat mengesahkan keinginan makan malam dan berbagai cerita.
Kita tak perlu membandingkan cerita dengan berita mengenai penguasa dan tokoh-tokoh politik akan bareng. Mereka di hadapan makanan mengadakan percakapan. Orang-orang bisa menonton mereka duduk di suatu ruang. Pakaian ikut menentukan mutu makan bersama.
Orang-orang menduga selama makan terjadi obrolan mengandung kalimat-kalimat bertema kekuasaan. Peristiwa memicu polemik bagi orang-orang berkepentingan dengan hajatan demokrasi dan masa depan Indonesia. Kita belum ingin sibuk dengan berita-berita. Kita masih ingin bersama teks-teks sastra saja.
Makan malam itu kekuasaan. Kita bisa membaca novel berjudul Pulang (2012) gubahan Leila S Chudori. Pembaca berulang menemukan peristiwa-peristiwa makan malam berlatar di Prancis dan Indonesia. Makan malam menghadirkan orang-orang membawa biografi memuat tragedi dan sejarah belum terang. Makan malam pun jejak-jejak keluarga. Makan malam itu nostalgia kota dan tanah air. Semua berkaitan 1965 dan 1998.
Tokoh dalam novel mengenang bapak dan menanggungkan nasib buruk di sekolah. Ia menerima tapi berjanji tak mau menjadi cengeng: “Bahwa aku sering menjadi bulan-bulanan di sekolah karena bapak kandungku dianggap pengkhianat negara, tak pernah kuungkapkan pada saat makan malam bersama.” Ia tak ingin makan malam itu terganggu atau rusak. Makan malam dihindarkan dari warisan malapetaka 1965.
Kehadiran bersama untuk makan malam memungkinkan tebusan rindu, setoran kritik, meredam ketakutan, memberi penghinaan, dan lain-lain. Kita mengingat sejarah Indonesia dan nasib keluarga melalui makan malam. Novel bisa terbaca lagi saat kekuasaan di Indonesia masih dipengaruhi oleh peristiwa makan bersama: pagi, siang, dan malam. Kita makin mengerti bila makan itu “menikmati” kekuasaan, melampaui rasa.
Kita pun menemukan makan malam dalam novel berjudul Aruna dan Lidahnya (2014) gubahan Laksmi Pamuntjak. Novel terlalu mengingatkan makanan. Di Indonesia, novel itu ikut memicu lapar bagi para pembaca. Orang membuka novel berjudul Pulang atau Aruna dan Lidahnya bakal membuka halaman-halaman makanan. Novel memberi pemaknaan khas untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.
Laksmi Pamuntjak mengisahkan perjalanan atau petualangan. Pilihan menu dan sosok untuk makan bersama menguak pengetahuan-pengetahuan kuliner. Segala omongan bergerak jauh. Makan dan menjelaskan beragam hal: filsafat, sejarah, sastra, musik, kota, televisi, dan lain-lain.
Peristiwa makan pun bersinggungan kekuasaan. Pengertian sering melekat: lakon kekuasaan dibicarakan dan ditentukan di meja makan. Permufakatan atau skandal untuk mengurusi negara lazim berkaitan peristiwa makan bersama.
Kita kembali menikmati puisi gubahan Afrizal Malna. Di puisi berjudul Makan Malam Bersama Ama dan Ami, kita diajak mengenang kota dan imbuhan-imbuhan biografi. Kita masih berada di Indonesia, menatap masa silam kekuasaan dan masa depan belum pasti lezat.
Afrizal Malna (1994) menulis: Ama dan Ami memesan rendang. Saya memesan gulai/ tunjang, satu gelas teh manis. Di luar, gerimis memotret/ kota Padang. Seperti kereta batubara berjalan sendiri,/ membuat lembah dari rel-rel besi dan gerobak sapi. Tak/ ada partai sosialis dan Masyumi di sini, juga seorang/ kemenakan yang hilang di kaki lima.
Pada saat makan malam, politik teringat mungkin mengalahkan kesan-kesan makanan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Faizin
