Ketika Mereka Menolak ‘Pelangi’

Ketika Mereka Menolak ‘Pelangi’

Sam Morsy memilih diam. Padahal banyak orang menanti dia untuk buka suara. Usai laga melawan Crystal Palace, Rabu (4/12/2024) dini hari, kapten Ipswich Town itu langsung meninggalkan lapangan dengan ban kapten melilit lengan bagian atasnya.

Ban kapten yang dipakai pemain berusia 33 tahun itu berbeda dengan dipakai pemimpin tim lainnya. Ban kaptennya sepi dari warna-warni. Morsy mengenakan ban kapten bisa. Polos tanpa warna pelangi. Di antara 19 kapten klub lainnya, hanya dia tak memakai ban kapten pelangi.

Sikap serupa namun ditunjukkan dengan cara berbeda dilakukan kapten klub Crystal Palace Marc Guehi. Dalam dua laga terakhir, meski tetap mengenakan ban kapten pelangi saat bermain namun dia menuliskan kata-kata “Saya Cinta  Yesus” dan “Yesus Mencintaimu”.  

Tingkah kedua kapten ini memancing perhatian. Liga Premier menetapkan selama sepekan, yakni 29 November hingga 5 Desember tiap tahunnya, para kapten tiap tim diminta untuk mengenakan ban kapten warna-warni bak pelangi. Hal itu dilakukan sebagai simbol dukungan terhadap komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+).

Sejak 2013, Liga Primer berkolaborasi dengan lembaga amal Stonewall dalam upaya mendukung  kesetaraan untuk kaum LGBTQ+. Selain ban kapten, para pemain juga diminta untuk mengenakan tali sepatu berwarna pelangi.  

Popularitas sepak bola yang makin meningkat dalam beberapa dekade belakangan menjadi lahan subur bagi kampanye berbagai isu. Liga-liga di Eropa yang memiliki banyak penggemar membuka diri untuk itu. Syaratnya, asalkan tidak politis.

Itu juga yang terjadi menyusul tewasnya George Floyd di tangan polisi Amerika Serikat, pada 2020. Sebagai aksi solidaritas, sebelum laga dimainkan, para pemain Liga Primer berlutut sebagai dukungan pada gerakan Black Lives Matter. Liga Primer menyetujui aksi itu sebagai komitmen melawan rasisme dan segala bentuk diskriminasi.

"Sepak bola memiliki kemampuan untuk menyatukan orang-orang meski ada perbedaan. Klub dan pemain sepak bola memiliki kesempatan untuk memimpin dengan memberi contoh dan menekankan penguatan inklusivitas,” ujar Diego Garcia Rodriguez, peneliti di Universitas Nottingham, Inggris.

Berbeda seperti yang disebut Rodriguez, semestinya juga bisa diterima. Seperti juga yang terjadi saat pemain menolak ikut serta dalam peringatan tewasnya anggota Angkatan Bersenjata Inggris, di Perang Dunia Pertama, yang dilakukan pada pekan kedua tiap November.

Saat para pemain diminta mengenakan simbol bunga poppy di dadanya, pemain Republik Irlandia James McClean dan gelandang  asal Serbia, Nemanja Matic, menolak. Keduanya mengaku trauma dengan keterlibatan Inggris dalam konflik militer di daerah asal mereka.

Semestinya begitu sikap terhadap tindakan Morsy dan Guehi. Tapi ternyata tidak. Banyak pihak yang menyayangkan sikap Morsy itu. Salah satunya, anggota Komite Eksekutif UEFA Laura McAllister/ Mantan kapten tim nasional sepak bola wanita Wales menyatakan kekecewaannya.

"Memang itu pilihan pribadi. Tapi saya benar-benar kecewa karena seorang kapten mewakili tim, dan klub, dan semua orang yang menjadi penggemar klub itu, dan semua orang yang bekerja di klub itu, dan itu akan mencakup banyak orang LGBT juga," katanya kepada BBC.

Kelompok pendukung klub itu, Rainbow Tractors, pun merasakan hal serupa. “Namun, kami tetap menghormati keyakinan agamanya sebagaimana yang telah kami lakukan pada musim sebelumnya," kata perwakilan kelompok itu.

Ipswich Town, klub Morsy memberikan pernyataan bahwa mereka mendukung kampanye kesetaraan bagi komunitas LGBTQ+. Namun di saat yang sama, mereka juga mengatakan menghormati pilihan Morsy yang seorang muslim. Dalam ajaran Islam, homoseksual dilarang.  

***

Sebenarnya, Morsy bukanlah pemain pertama yang menolak memakai ban kapten pelangi. Pada musim lalu, bek Sheffield United, Anel Ahmedhodzic, yang juga seorang muslim, memilih untuk tidak mengenakan ban kapten pelangi saat ia ditunjuk menjadi kapten tim berjuluk Blades itu.

Penolakan terhadap kampanye pelangi bukan saja terjadi di Liga Inggris tapi juga di Prancis. Sebagai dukungan terhadap “Hari Internasional Melawan Homofobia, Transfobia, dan Bifobia”, penyelenggara liga (LFP) mengharuskan setiap klub mengenakan kaus bertema pelangi untuk satu pertandingan per musim.

Berbeda dengan di Inggris yang hanya menyuruh kapten memakai ban pelangi, di sana warna pelangi muncul di nama dan nomor punggung seluruh pemain. Tak ada alasan bagi pemain mana pun untuk menolak.

Nyatanya tidak semua pemain menurutinya. Lima pemain lainnya, yang bermain untuk Toulouse dan Nantes menolak bermain jika harus memakai baju pelangi. Namun, Idrissa Gueye – yang berasal dari Senegal yang juga seorang muslim, yang paling mendapatkan sorotan.

Pasalnya, saat pertandingan pada pekan ke-37 musim 2021–22, Gueye yang ikut serta dalam skuad PSG melawan Montpellier, tiba-tiba namanya tak muncul daftar pemain yang dimainkan. Pelatihnya Mauricio Pochettino, saat itu, hanya menyebut Gueye tidak dimainkan karena alasan pribadi. Bukan karena cedera.

Ini adalah yang kedua kalinya Gueye ogah tampil dalam laga berbaju pelangi itu. Tahun sebelumnya, dia pun melakukan hal yang sama. Dia menolak main dengan alasan sakit perut.  

Absennya Gueye di dua laga berturut-turut itu kemudian memicu kecurigaan Rouge Direct, sebuah organisasi yang menentang homofobia. Begitu juga organisasi lain yang sejenis. Mereka kemudian meminta agar LFP menjatuhkan sanksi pada Gueye. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) juga turun tangan dengan meminta Gueeye memberikan alasan penolakannya itu.

Kabar ini akhirnya sampai pada Presiden Senegal, Macky Sall. Dia membela Gueye, dengan menyatakan bahwa keyakinan agama Gueye harus dihormati. Rekan setim Gueye di Senegal Cheikhou Kouyaté, Ismaïla Sarr, dan Nampalys Mendy, yang semuanya bermain di Inggris, juga memujinya atas tindakannya. Tagar #WeAreAllIdrissa, yang mendukung Gueye, menjadi tren di media sosial kala itu.

Beruntung, penyelenggara Liga Primer tidak menerapkan sanksi terhadap mereka yang menolak kampanye pelangi ini. Morsy tak kena sanksi. Sedangkan Guehi meski melanggar aturan larangan menyampaikan pesan keagamaan pada baju atau perlengkapan bermain tapi Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) hanya memberikan teguran pada klub dan pemain untuk tidak mengulanginya.

Berbeda sikap tentunya harus juga dihargai.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
logo