Gurumu Tidak Galak, Dia Sayang Padamu

Gurumu Tidak Galak, Dia Sayang Padamu

“Kenapa orang lain terlihat jelek di mata kita? Bisa jadi kita salah memakai kaca mata”

Kalimat pendek ini bisa menjadi sebuah renungan bagi kita untuk introspeksi bahwa kita perlu menggunakan ‘kacamata’ yang bersih untuk melihat orang lain. Dalam bahasa agama Islam, kacamata bersih inilah yang disebut dengan husnuddzan (berbaik sangka). 

Ilustrasi ini terkait dengan banyak orang, seperti orang tua dan murid, sering salah memahami makna kedisiplinan. Ketika seorang guru bersikap tegas, mengingatkan aturan, dan meminta siswa mengikuti tata tertib, sebagian mereka dengan cepat memberikan label: “Guru itu galak.” 

Padahal, tidak semua sikap tegas berarti kemarahan. Ada cinta dan kepedulian yang besar tersembunyi di balik ketegasan seorang guru.

Para psikolog menyebut kedisiplinan sebagai “ekspresi kasih yang terstruktur”. Diana Baumrind, seorang ahli perkembangan anak, menjelaskan bahwa guru (atau orang tua) yang menerapkan disiplin secara tegas namun penuh kasih termasuk dalam kategori authoritative, tipe pendidik yang paling berhasil membentuk karakter dan kemandirian anak. 

Mereka tidak diam ketika anak melakukan kesalahan, namun juga memberikan dukungan saat anak belajar memperbaiki diri.

Dalam konteks pendidikan di sekolah, guru ingin memastikan setiap murid tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berkarakter, dan mampu menghadapi kehidupan di masa depan. Mereka tahu, dunia di luar sekolah jauh lebih keras daripada teguran di kelas. Karena itulah guru menanamkan disiplin sejak dini, agar siswa siap menghadapi berbagai tantangan.

Sementara Psikolog pendidikan, Dr. Carol Dweck, juga menegaskan bahwa karakter pantang menyerah dan keberanian menghadapi kesulitan (growth mindset) bukan muncul dari pujian berlebihan, melainkan dari tantangan yang mendidik. Ketegasan guru adalah salah satu bentuk tantangan itu.

Kedisiplinan bukan hanya soal patuh terhadap aturan. Kedisiplinan adalah tentang melatih mental untuk tetap kuat dalam situasi sulit, tetap fokus meski banyak godaan, dan tetap berjalan lurus di tengah banyak persimpangan. 

Terlebih dalam era disrupsi seperti sekarang, ketika perubahan teknologi, informasi, dan gaya hidup terjadi begitu cepat, karakter dan kedisiplinan adalah modal penting untuk bertahan dan bersaing.

Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional, menekankan bahwa self-regulation atau kemampuan mengelola emosi dan perilaku adalah kunci kesuksesan. Sikap ini tidak lahir dari kebebasan tanpa batas, melainkan dari disiplin yang konsisten.

Kita berada dalam dunia penuh turbulensi. Tantangan ekonomi, persaingan kerja yang semakin ketat, perkembangan kecerdasan buatan yang dapat menggantikan banyak pekerjaan, serta derasnya arus informasi yang sering kali menyesatkan.

Tanpa kemampuan mengendalikan diri, tanpa etika kerja yang baik, dan tanpa sikap disiplin, seseorang akan mudah tersingkir dan bingung menghadapi perubahan zaman.

Seorang guru yang terlihat keras saat belajar, sebenarnya sedang mengajarkan agar muridnya tidak mudah menyerah. Saat mereka menuntut ketepatan waktu, itu bukan untuk menyusahkan, melainkan untuk menyiapkan siswa agar terbiasa menghargai waktu dan tanggung jawab. 

Ketika guru menegur kesalahan, itu adalah bentuk kasih sayang yang tidak ingin muridnya mengulang kekeliruan yang sama. Guru yang tegas bukanlah guru yang galak. Guru yang tegas adalah guru yang peduli.

Ia berjuang agar muridnya tumbuh kuat, bukan hanya pandai, tetapi juga tahan banting, berkarakter, dan mampu mengendalikan diri di tengah perubahan yang tidak pasti.

Suatu hari nanti, ketika dewasa dan menghadapi hidup yang sesungguhnya, murid akan menyadari bahwa teguran yang dulu terasa menyakitkan, ternyata adalah bentuk cinta paling tulus.

Dan guru yang dulu dinilai galak, sesungguhnya adalah guru yang paling sayang, karena ia tidak ingin muridnya kalah sebelum bertarung.

Guru ‘Galak’ Bisa Jadi Favorit

Guru yang sering dianggap “galak” bisa juga menjadi guru favorit karena ketegasannya. Sikap tegas guru ternyata menghadirkan rasa aman dan arah yang jelas bagi siswa. Ketegasan ini membuat aturan di kelas menjadi konsisten sehingga siswa tahu batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dengan hal ini, ketegasanpun dipahami sebagai bentuk perhatian, bukan kemarahan. 

Dalam proses pembelajaran, guru yang tegas mampu menegakkan disiplin yang kemudian membentuk karakter siswa. Kebiasaan baik seperti mengerjakan tugas tepat waktu, menjaga etika, serta bersikap sopan tumbuh karena adanya dorongan yang kuat dari guru yang tegas.

Sebenarnya banyak siswa juga menyadari bahwa guru yang tampak galak sebenarnya adalah guru yang paling peduli terhadap masa depan mereka. Ia berani menegur dan mengingatkan ketika ada kesalahan, sesuatu yang mungkin tidak dilakukan oleh guru yang terlalu santai. 

Dengan cara itu, siswa merasakan bahwa teguran tersebut hadir karena sayang, bukan karena benci. Sikap guru tegas yang adil dan tidak pilih kasih juga menumbuhkan rasa hormat. Ketika guru galak memuji, siswa tahu pujian itu tulus. Ketika menegur, mereka tahu teguran itu untuk kebaikan.

Selain itu, guru yang tegas biasanya memberikan penilaian yang jujur dan transparan. Siswa memahami bahwa nilai yang mereka peroleh adalah hasil dari usaha mereka sendiri, bukan sekadar belas kasihan atau pilihan pribadi. Kondisi ini membuat siswa bangga ketika berhasil memperoleh nilai baik dari guru yang terkenal galak, karena mereka tahu itu murni hasil kerja keras. 

Kelas yang bersama guru tegas juga cenderung lebih kondusif dan fokus. Tidak banyak waktu terbuang untuk hal-hal yang tidak perlu, sehingga pembelajaran berjalan lebih efektif dan siswa lebih mudah memahami materi.

Dalam perjalanan hidup, siswa sering kali justru mengingat guru-guru yang dulu tampak keras karena mereka memberikan tantangan yang membentuk karakter. Guru seperti inilah yang meninggalkan kesan mendalam dan diingat sebagai sosok yang berjasa.

Nilai-nilai hidup, integritas, serta keteladanan yang ditunjukkan oleh guru tegas menjadi inspirasi hidup dan menjadikan mereka dihormati dan disukai. 

Pada akhirnya, guru yang tampak galak sebenarnya mengajar dengan cinta yang tersembunyi di balik ketegasan, membimbing siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab. Selamat Hari Guru!. 


Editor: Muhammad Faizin
logo