Tidak Semua Lagu Arab Islami, Ini Pentingnya Tahu Bahasa Arab

Tidak Semua Lagu Arab Islami, Ini Pentingnya Tahu Bahasa Arab

Arina.id - "Tidak semua yang Arab adalah Islam, dan tidak semua yang Islam adalah Arab". Kalimat itu sangat cocok dengan fenomena lagu Arab yang saat ini bisa dengan mudah kita akses di internet. Lagu-lagu ini menjadikan para influencer keislaman membahasnya. Pasalnya, mereka menemui momentum acara shalawat, seperti Maulid Nabi, disisipi lagu Arab yang liriknya sama sekali tidak berisikan shalawat kepada Nabi.

Sebut saja seperti lagu yang berjudul Haga Mestakhabeya atau lebih dikenal masyarakat kita dengan judul Habbitak yang dinyanyikan oleh Mohammed Hamaki. Ada juga Ala Bali yang dinyanyikan oleh Sherine Abdel Wahab yang keduanya adalah lagu tentang percintaan antar sepasang kekasih dan tidak ada muatan shalawat kepada Nabi sama sekali.

Penulis menilai fenomena ini sebagai salah satu efek dari ketidakpahaman masyarakat pada bahasa Arab yang benar. Hanya bermodalkan viralnya lagu percintaan itu di-platform media sosial kemudian di-cover oleh beberapa grup shalawat dan dinyanyikan disela-sela majelis shalawat dan Maulid Nabi. 

Oleh karena itu sejatinya memahami bahasa Arab dengan baik dan benar memang menjadi sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Hal ini agar mereka bisa membedakan mana shalawat dan mana lagu percintaan yang keduanya sama berbahasa Arab.

Pada dasarnya, memahami bahasa Arab merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Pasalnya, bahasa Arab digunakan untuk memahami Islam secara mendalam karena Al-Qur’an dan hadits, sebagai sumber primer kajian keilmuan Islam dan literatur otoritatif, tertulis dalam bahasa Arab.

Oleh karena itu KH. Maimoen Zubair pernah mengatakan dalam salah satu pengajiannya bahwa menjadi Muslim secara tidak langsung menjadi Arab, sebab kitab suci Islam ditulis berbahasa Arab. Mempelajari Islam dengan mendalam juga harus mempelajari bahasa Arab terlebih dahulu, bukan berarti menjadi orang Arab dengan budaya kearab-araban.

Mbah Moen sering mengajarkan santrinya untuk memahami bahasa Arab secara mendalam. Beliau sering mengutip Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam al-Mustadrak no. 7175 berikut:

عن ابن عبّاس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أحِبُّوا العربَ لثلاث: ‌لأنِّي ‌عربيٌّ، والقرآنَ عربيٌّ، وكلامَ أهل الجنَّة عربيٌّ

Artinya: "Rasulullah bersabda “cintailah Arab karena tiga hal, karena aku orang Arab, karena Al-Qur’an berbahasa Arab, dan karena bahasa ahli surga adalah Arab." (Muhammad al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustadrak ala al-Sahihain, [Maktabah Syamilah], juz 7, hal. 693.).

Memahami bahasa Arab juga mempunyai beberapa fungsi yang penting di antaranya adalah memahami dialektika orang Arab. Seperti catatan Muhammad bin Muhammad al-Khalili terkait ilmu Nahwu (sintaksis bahasa Arab) berikut ini:

عِلْمُ العَرَبِيَّةِ الَّذِيْ هُوَ النَّحْوُ جَمَالُ الأَلْسِنَةِ وكَمَالُ العُلَمَاءِ، يُعْلَمُ مِنْهُ مَعَانِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمُخَاطَبَةِ العَرَبِ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ، وَبِهِ يُخَاطِبُ اللهُ تعالى عِبَادَهُ فِي الجَنَّةِ، وقال صلى الله عليه وسلم ‌تَعَلَّمُوْا ‌العَرَبِيَّةَ وَعَلِّمُوْهَا النَّاسَ فَإِنَّهَا لِسَانُ اللهِ تَعَالَى الَّذِيْ يُخَاطِبُ بِهِ عِبَادَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ.

Artinya: "Ilmu bahasa Arab yakni ilmu Nahwu sebagai keindahan dialektika dan kesempurnaan ilmu ulama, darinya diketahui makna Al-Qur’an dan Hadits serta percakapan orang Arab satu dengan lainnya, dengannya Allah berfirman kepada hamba-Nya disurga. Nabi bersabda “belajarlan bahasa Arab dan ajarkan kepada masyarakat, karena dialah bahasa yang digunakan Allah untuk berbicara kepada hamba-Nya kelak dihari kiamat”. (Muhammad al-Khalil al-Syafi’i, Fatawa al-Khalili, ala Madzhabis Syafi’i, [Maktabah Syamilah], juz 1, hal. 66.).

Bahkan menurut Syaikh Syarafuddin al-Amrithi, Nahwu adalah ilmu yang harus dipelajari pertama kali sebelum ilmu-ilmu yang lain, sebab ilmu ini menjadi media untuk memahami teks-teks keislaman yang ditulis dengan bahasa Arab. Al-Imrithi mengatakan:

وَالنَّحْوُ اَوْلَى اَوَّلاً أَنْ يُعْلَمَ اِذْ الكَلَامُ دُوْنَهُ لَنْ يُفْهَمَ

Artinya: "Nahwu adalah ilmu yang seharusnya dipelajari pertama kali, sebab tanpanya pembicaraan (dalam bahasa Arab) tidak bisa dipahami." 

Syaikh Ibrahim al-Baijuri menekankan catatan terkait pentingnya mempelajari ilmu Nahwu agar seseorang bisa memahami teks-teks ilmu lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab. Berikut catatan al-Baijuri:

وَلِهَذَا إِتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ عِلْمَ النَّحْوِ وَسِيْلَةٌ لِسَائِرِ العُلُوْمِ لَا سِيَمَا عِلْمُ التَّفْسِيْرِ وَالحَدِيْثِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِيْ كَلَامِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ حَتَّى يَكُوْنَ مَلِيّاً بِالعَرَبِيَّةِ

Artinya: "Oleh karena itu para ulama sepakat bahwa ilmu nahwu merupakan media bagi seluruh ilmu yang lain bahkan ilmu tafsir dan hadits, dan sesungguhnya tidak boleh bagi seseorang untuk berbicara terkait Al-Qur’an dan Hadits hingga dia menguasai bahasa Arab." (Ibrahim al-Baijuri, Fathu Rabbil Bariyah ala Dzurril Bahiyyah Nadz al-Jurumiyah, [Mesir: Musthafa al-Babi al-Halabi, 1924], hal. 5.).

Kitab suci Islam dan seluruh teks keilmuan Islam otoritatif ditulis dengan bahasa Arab dan dipelajari oleh seluruh masyarakat Muslim global dengan bahasa aslinya yakni Arab. Hal ini berbeda dengan kitab suci agama lain yang dipelajari sesuai dengan terjemahan bahasa pemeluknya bukan dengan bahasa aslinya.

Oleh sebab itu sangat penting bagi umat Islam untuk memahami bahasa Arab dengan baik dan benar agar bisa menjadi Muslim yang terpelajar dan bernilai tinggi dengan mempelajari sumber-sumber keislaman ototitatif dari bahasa aslinya langsung. Wallahu a’lam bisshawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo