Sahkah Makmum Mendahului Salamnya Imam saat Sholat Jamaah?

Sahkah Makmum Mendahului Salamnya Imam saat Sholat Jamaah?

Arina.id - Terdapat banyak keutamaan sholat yang dilaksanakan secara berjamaah. Salah satu keutamaannya adalah lebih utama dibandingkan sholat sendirian. Semakin banyak jumlah jamaahnya maka semakin besar pula kecintaan Allah SWT terhadapnya. Hal ini sesuai dengan keterangan yang termaktub dalam sebuah hadits:

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى 

Artinya: “Sesungguhnya sholat yang dilakukan seseorang bersama satu orang jamaah lebih utama dibandingkan sholat sendirian. Jika ia sholat bersama dua orang jamaah, hal itu lebih baik daripada hanya bersama satu orang jamaah. Semakin banyak jumlah jamaah, maka semakin besar pula kecintaan Allah Ta’ala terhadapnya.” (H.R. Abu Dawud)

Lantaran besarnya keutamaan dalam melaksanakan sholat berjamaah, banyak orang yang terdorong untuk ikut melakukannya. Akibat banyaknya jamaah atau makmum yang hadir, tak jarang ada yang mendahului gerakan imam tatkala mengucapkan salam. Entah karena posisi mereka berada di shaf yang jauh atau karena tergesa-gesa sehingga memutuskan untuk salam terlebih dulu daripada imam.

Lantas, sahkah bila makmum mendahului salamnya imam saat sholat berjamaah? 

Menurut penjelasan dalam literatur fiqih, salah satu syarat sah bermakmum adalah mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya dalam dua rukun fi’li (gerakan) secara sengaja. Ketentuan demikian sebagaimana yang diterangkan oleh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani (wafat 1316 H) dalam kitabnya:

وَحَادِيْ عَشَرِهَا: أَنْ يَتَابِعَهُ بِأَنْ يَتَأَخَّرَ تَحَرُّمُهُ عَنْ جَمِيْعِ تَحَرُّمِ إِمَامِهِ، وَأَنْ لَا يَسْبِقَهُ بِرُكْنَيْنِ فِعْلِيَّيْنِ عَامِدًا عَالِمًا، وَأَنْ لَا يَتَأَخَّرَ عَنْهُ بِهِمَا بِلَا عُذْرٍ

Artinya: “Dan yang kesebelas: Makmum harus mengikuti imam dengan gambaran mengakhirkan takbiratul ihramnya hingga imam selesai melakukannya sepenuhnya. Selain itu, makmum juga tidak boleh mendahului imam dalam dua rukun fi’li (gerakan) secara sengaja dan dengan sadar. Makmum juga tidak boleh tertinggal dari imam dalam dua rukun tersebut tanpa adanya uzur.” (Kasyifah Asy-Syaja Fi Syarh Safinah An-Naja [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], h. 184)

Lebih lanjut, para ulama menetapkan bahwa jika makmum mendahului salam imam secara sengaja tanpa disertai niat untuk memisahkan diri dari jamaah (mufaraqah), maka hal tersebut dapat membatalkan sholat. Syekh Zakariya Al-Anshari (wafat 926 H) dalam catatannya menjelaskan:

وَتَنْقَضِيْ قُدْوَةٌ بِسَلَامِ إِمَامٍ، التَّسْلِيْمَةَ الْأُوْلَى لِخُرُوْجِهِ مِنَ الصَّلَاةِ بِهَا فَلَوْ سَلَّمَ الْمَأْمُوْمُ قَبْلَهَا عَامِدًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ إِنْ لَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ

Artinya: “Dan mengikutinya makmum kepada imam berakhir dengan salam pertama imam, karena dengan salam pertama itu imam dianggap telah keluar dari sholat. Jika makmum mengucapkan salam sebelum imam secara sengaja tanpa berniat memisahkan diri (mufaraqah), maka sholatnya menjadi batal.” (Fath Al-Wahab Bi Syarh Minhaj At-Thullab [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 1, h. 87)

Oleh karena itu, tatkala imam mengucapkan salam pertama ia dianggap telah menyelesaikan sholat dan status makmumnya berubah menjadi seperti orang yang sholat sendirian (munfarid). Kendati demikian, disunahkan bagi makmum untuk tetap mengucapkan salam setelah imam menyelesaikan salam keduanya. Jika makmum mengucapkan salam bersamaan dengan salam pertama imam, maka sholatnya tetap sah:

نَعَمْ يُسَنُّ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يُؤَخِّرَهَا إلَى فَرَاغِ إمَامِهِ مِنْ تَسْلِيمَتِهِ وَإِذَا انْقَضَتْ بِالْأُولَى صَارَ الْمَأْمُومُ كَالْمُنْفَرِدِ (قَوْلُهُ لِخُرُوجِهِ بِهَا) فَلَوْ سَلَّمَ الْمَأْمُومُ قَبْلَهَا عَامِدًا عَالِمًا مِنْ غَيْرِ نِيَّةِ مُفَارَقَةٍ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ وَلَوْ قَارَنَهُ فِيهِ لَمْ يَضُرَّ كَبَقِيَّةِ الْأَذْكَارِ بِخِلَافِ مُقَارَنَتِهِ لَهُ فِي تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ كَمَا سَيَأْتِي لِأَنَّهُ لَا يَصِيرُ مُصَلِّيًا حَتَّى يُتِمَّهَا

Artinya: “Iya memang, disunahkan bagi makmum untuk mengakhirkan salamnya hingga imam selesai mengucapkan salam. Ketika sholat dianggap selesai dengan salam pertama, maka makmum menjadi seperti orang yang sholat sendiri (munfarid). Pernyataan: Karena dengan salam pertama imam keluar dari sholat, berarti jika makmum mengucapkan salam sebelum imam menyelesaikan salam pertama secara sengaja dan dengan pengetahuan, tanpa niat memisahkan diri (mufaraqah), maka sholatnya batal. Namun, jika makmum mengucapkan salam bersamaan dengan imam, hal itu tidak membahayakan sebagaimana berlaku pada dzikir-dzikir lainnya, berbeda halnya jika makmum menyertai imam dalam takbiratul ihram, sebagaimana keterangan yang akan dijelaskan sebab seseorang tidak dianggap melaksanakan sholat hingga ia menyelesaikan pelaksanaan takbiratul ihram tersebut.” (Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj Wa Hawasyi Asy-Syirwani Wa Al-‘Ubadi [Mesir: Al-Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra], vol. 2, h. 107)

Berdasarkan beberapa referensi yang telah diuraikan, bisa disimpulkan bahwa bila makmum mendahului salam pertama imam secara sengaja tanpa niat untuk memisahkan diri dari jamaah atau mufaraqah, maka sholatnya dihukumi batal. Dalam konteks sholat berjamaah, ketika imam mengucapkan salam pertama maka ia dianggap telah selesai dari sholat dan status makmum berubah menjadi seperti orang yang sholat sendirian atau munfarid. 

Meski begitu, tetap disunahkan bagi makmum untuk mengucapkan salam seusai imam melakukan salam kedua. Sedangkan, bila makmum mengucapkan salam bersamaan dengan salam pertama imam, maka sholatnya tetap dihukumi sah. Wallahu a’lam bis shawab. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
logo