Istilah Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Pada hari ini, sebagian masyarakat meyakini bahwa banyak musibah dan malapetaka terjadi, sehingga mereka melakukan berbagai ritual seperti doa khusus, sedekah, dan sholat sunnah untuk menghindari hal-hal buruk dan mendapatkan perlindungan.
Syekh Abdul Hamid Kudus dalam Kitab Kanzun Najah was Surur, Jilid I, halaman 23 menjelaskan bahwa salah satu amalan yang sering dilaksanakan pada Hari terakhir bulan Shafar oleh masyarakat, khususnya di Jawa, adalah melaksanakan sholat sunnah Rebo Wekasan. Sholat ini dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, karena ada keyakinan bahwa pada hari tersebut Allah menurunkan berbagai musibah ke bumi yang kemudian disebarkan oleh Qutb Al-Ghawth ke seluruh dunia.
Lebih lanjut, Syekh Al-Buni dalam kitab Al-Firdaus menyebutkan bahwa bala ini turun dari langit dan diambil oleh malaikat yang ditugaskan untuknya, sebelum diserahkan kepada Qutb untuk dibagikan ke seluruh alam. Oleh karena itu, sholat Rebo Wekasan dilakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan dari bala dan musibah yang diturunkan pada hari tersebut.
Simak penjelasan Syekh Abdul Hami Kudus berikut:
وذكر هذا الشيخ الكامل فريد الدين، شكر كنج قدس الله تعالى سرّه في أوراد الخواجة مغني الدين، كما في الجواهر الخمس. وقال الشيخ البوني رحمه الله تعالى في كتاب الفردوس: إن الله عزّ وجلّ ينزل بلاء في آخر أربعاء من صفر بين السماء والأرض؛ فيأخذه الموكَّل به ويسلمه إلى قطب الغوث فيفرقه على العالم، فما حصل من موت أو بلاء أو همّ إلا ويكون من البلاء الذي يفرقه القطب؛
Artinya: “Syekh yang sempurna, Fariduddin, menyebutkan hal ini, dan Syukur Kanj, semoga Allah mensucikan rahasianya, dalam 'Aurad Al-Khawaja Mughniuddin,' seperti yang disebutkan dalam 'Al-Jawahir Al-Khams.' Sheikh Al-Buni, semoga Allah merahmatinya, juga mengatakan dalam kitab 'Al-Firdaus': Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menurunkan bala di hari Rabu terakhir bulan Shafar, antara langit dan bumi. Bala tersebut diambil oleh malaikat yang ditugaskan untuknya dan diserahkan kepada Qutb Al-Ghawth, yang kemudian membagikannya ke seluruh dunia. Maka, segala kematian, bala, atau kesedihan yang terjadi adalah akibat dari bala yang dibagikan oleh Qutb tersebut. "
Tata Cara sholat Rebo Wekasan
Sholat sunnah Rebo Wekasan dilaksanakan sebagai sholat sunnah mutlak. Cara melaksanakan sholat ini adalah dengan mengerjakannya sebanyak enam rakaat. Pada rakaat pertama, setelah membaca surat Al-Fatihah, dianjurkan membaca Ayat Kursi. Sementara itu, pada rakaat kedua dan seterusnya, setiap rakaat setelah Al-Fatihah disunnahkan membaca Surat Al-Ikhlas. Setelah menyelesaikan sholat, dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan shalawat apapun.
Syekh Abdul Hamid Kudus menjelaskan:
فمن يُرد السلامة من ذلك فليصلِّ ست ركعات، يقرأ في الأولى بأم القرآن وآية الكرسي، وفي الثانية سورة الإخلاص في كل ركعة، ثم يصلّي على النبي - صلى الله عليه وسلم - بأي صلاة، ثم يدعو بهذا الدعاء
Artinya: "Barang siapa yang ingin selamat dari hal itu, hendaklah ia sholat enam rakaat, membaca Al-Fatihah dan Ayat Kursi pada rakaat pertama, serta Surat Al-Ikhlas di setiap rakaat berikutnya. Kemudian, bershalawatlah kepada Nabi SAW dengan shalawat apapun, lalu berdoalah dengan doa ini."
Untuk lebih detailnya sebagai berikut:
1. Niat
Membaca niat sholat sunnah mutlak. Ini niatnya:
أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan rak’ataini lillâhi ta’âla
Artinya: “Saya niat sholat sunnah dua rakaat karena Allah ta’ala.”
2. Membaca surat Al-Fatihah
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ [1] اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ [2] الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ [3] مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ [4] اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ [5] اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ [6] صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ [7].
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm(i). Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn(a). Ar-raḥmānir-raḥīm(i). Māliki yaumid-dīn(i). Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn(u), Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm(a). Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim, gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn(a).
3. Membaca ayat kursi
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Allāhu lā ilāha illā huw(a), al-ḥayyul-qayyūm(u), lā ta'khużuhū sinatuw wa lā naum(un), lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), man żal-lażī yasyfa‘u ‘indahū illā bi'iżnih(ī), ya‘lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bisyai'im min ‘ilmihī illā bimā syā'(a), wasi‘a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ(a), wa lā ya'ūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm(u).
Artinya: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."
4. Membaca surat al-Ikhlas pada rakaat kedua
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ [1] اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ [2] لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ [3] وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ [4]
Qul huwallāhu aḥad(un). Allāhuṣ-ṣamad(u). Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
5. Membaca shalawat
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنَجِّيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ.
Allāhumma ṣalli ʿalā sayyidinā Muḥammadin ṣalātan tunajjīnā bihā min jamīʿi al-ahwāli wa al-āfāti, wa taqḍī lanā bihā jamīʿa al-ḥājāti, wa tuṭahhirunā bihā min jamīʿi as-sayyi'āti, wa tarfaʿunā bihā aʿlā ad-darajāti, wa tuballighunā bihā aqṣā al-ghāyāti min jamīʿi al-khayrāti fī al-ḥayāti wa baʿda al-mamāti.
Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, dengan shalawat yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan musibah, dan yang dengannya Engkau memenuhi segala hajat kami, serta yang dengannya Engkau membersihkan kami dari segala keburukan, dan yang dengannya Engkau mengangkat kami ke derajat yang paling tinggi, dan yang dengannya Engkau menyampaikan kami kepada tujuan tertinggi dari segala kebaikan, baik di dunia maupun setelah kematian"
6. Doa sholat Rebo Wekasan
اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التّامّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ البَلاَيَا، يَا مُفَرِّجَ الهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الغَمِّ، اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ؛ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.
Allāhumma innī asaluka bi-asmāika al-ḥusnā, wa bi-kalimātika al-tammāt, wa bi-ḥurmat nabiyyika Muḥammad - ṣallallāhu ʿalayhi wa sallam - an taḥfaẓanī wa an tuʿāfiyanī min balāika, yā dāfiʿ al-balāyā, yā mufarriǧ al-hamm, wa yā kāshif al-ghamm, ikshif ʿannī mā kutiba ʿalayya fī hādhihi as-sanah min hamm aw ghamm; innaka ʿalā kulli shayin qadīr, wa ṣallallāhu ʿalā sayyidinā Muḥammad wa ʿalā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam taslīman.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu Muhammad - shallallahu 'alaihi wa sallam - agar Engkau melindungiku dan menyembuhkanku dari cobaan-Mu. Wahai yang menolak bala, wahai yang menghilangkan kesusahan, dan wahai yang menyingkap kesedihan, singkaplah dariku apa yang telah ditetapkan atas diriku pada tahun ini berupa kesusahan atau kesedihan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya, serta memberikan salam sejahtera."
Editor: Muhammad Faizin
