Arina.id - Kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan diberlakukan bagi seluruh umat Islam yang telah memenuhi syarat, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an dan hadits.
Namun, terdapat golongan yang memperoleh keringanan (rukhshah) dari kewajiban tersebut, seperti orang yang sakit berat, wanita yang sedang mengalami menstruasi (haid), serta wanita yang dalam masa nifas (pasca melahirkan).
Golongan ini diberi izin syar‘i untuk tidak berpuasa selama masa uzur tersebut berlangsung. Puasa yang dilakukan oleh wanita haid dan nifas tidak sah secara hukum, sehingga mereka tidak wajib menjalankan puasa saat itu, bahkan diharamkan melakukannya.
Namun demikian, mereka tetap berkewajiban menggantinya (qadha) di hari lain setelah suci. Ketentuan ini merupakan hasil ijma‘ (konsensus) para ulama dari berbagai mazhab fikih.
Apabila seorang wanita haid memilih untuk menahan diri dari makan dan minum (imsak) tanpa disertai niat berpuasa, maka perbuatannya tidak berdosa. Dosa baru timbul jika ia meniatkan puasa, sebab amalan tersebut termasuk dalam kategori ibadah yang dilarang baginya selama masa haid atau nifas, meskipun secara hukum puasanya tetap tidak sah.
Dengan demikian, puasa seorang wanita yang sedang haid otomatis batal sejak keluarnya darah haid, tanpa perlu melakukan tindakan tambahan seperti membatalkan puasa secara sengaja dengan makan atau minum.
Hal ini sejalan dengan hukum pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, di mana umat Islam tidak diperintahkan untuk membatalkan puasa di pagi hari. Ketiadaan niat berpuasa sudah cukup menggugurkan status ibadah tersebut.
Para ulama juga menjelaskan bahwa tidak sah secara mutlak setiap bentuk puasa, baik Ramadhan maupun puasa sunnah yang dilakukan oleh wanita haid atau nifas, meskipun darah yang keluar hanya setetes pada siang hari.
Hal ini disebabkan salah satu syarat sahnya puasa adalah bersih (thaharah) dari haid dan nifas.
Oleh karena itu, menahan diri (imsak) dengan disertai niat puasa bagi wanita haid dan nifas termasuk perbuatan yang terlarang. Dalam Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj (jilid 13, hlm. 373) disebutkan bahwa:
وَيَحْرُمُ كَمَا فِي الْأَنْوَارِ عَلَى حَائِضٍ وَنُفَسَاءَ الْإِمْسَاكُ أَيْ : بِنِيَّةِ الصَّوْمِ فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِمَا تَعَاطِي مُفْطِرٍ وَكَذَا فِي نَحْوِ الْعِيدِ خِلَافًا لِمَنْ أَوْجَبَهُ فِيهِ وَذَلِكَ اكْتِفَاءً بِعَدَمِ النِّيَّةِ [ تحفة المحتاج في شرح المنهاج] - (ج 13 / ص 373
Artinya: "Haram bagi wanita haid dan nifas menahan diri dari makan dan minum dengan niat berpuasa. Mereka tidak diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, sebagaimana halnya pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pendapat yang mewajibkan mereka imsak tidak tepat, karena ketiadaan niat saja sudah cukup menjadikan puasa tidak berlaku."
Imam an-Nawawi dalam al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab (jilid 6, hlm. 257) juga menjelaskan:
لا يصح صوم الحائض والنفساء ولا يجب عليهما ويحرم عليهما ويجب قضاؤه وهذا كله مجمع عليه ولو أمسكت لا بنية الصوم لم تأثم وإنما تأثم إذا نوته وإن كان لا ينعقد وقد ذكر المصنف هنا وفى باب الحيض دلائل هذا كله مع ما ضممته هناك إليه [ المجموع - (ج 6 / ص 257) ]
Artinya: "Puasanya wanita haid dan nifas tidak sah, tidak diwajibkan atas mereka, bahkan haram bagi mereka berpuasa. Namun, mereka wajib menggantinya di hari lain. Jika mereka menahan diri tanpa niat puasa, maka tidak berdosa; tetapi apabila meniatkan puasa, maka berdosa meskipun puasa tersebut tidak sah. Semua hal ini merupakan kesepakatan para ulama."
Dengan dasar tersebut, dapat disimpulkan bahwa wanita haid tidak wajib menahan diri dari makan dan minum (imsak) di siang hari Ramadhan, selama ia tidak meniatkan puasa.
Meski demikian, wanita haid dan nifas tetap memprioritaskan etika dengan tidak seenaknya makan minum secara terang-terangan di depan orang yang sedang berpuasa. Sikap terbaik adalah tetap menghormati suasana Ramadhan dengan tidak menunjukkan perilaku makan dan minum di depan umum. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin
