Bolehkah Wanita Jadi Khatib Idul Adha?

Bolehkah Wanita Jadi Khatib Idul Adha?

Arina.id - Momentum Idul Adha tahun 2024 lalu sempat diramaikan dengan beredarnya flyer ajakan sholat Idul Adha berjamaah khusus perempuan yang dilakukan di Masjid Ulul Albab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam flyer tersebut diumumkan bahwa pelaksanaan sholat akan diimami oleh Imam Firdausi Nuzula, bilal Gita Selvia, serta yang menjadi khatib perempuannya yakni Prof. Dr. Hj. Tutik Hamidah, M.Ag. 

Adanya khatib wanita, meskipun jamaahnya juga wanita, menjadi viral diperbincangkan di media sosial. Warganet mempertanyakan tentang hukum terkait legalitas wanita menjadi khatib meskipun untuk khutbah idul Adha.

Pada dasarnya khutbah hari raya tidak jauh berbeda denga Khutbah Jumat dalam segi rukunnya sebagaimana catatan Sayyid Bakri berikut:

 وهُمَا كخُطْبَتَيْ الجُمُعَةِ في أَرْكَانِهِمَا، أما شُرُوْطُ خُطْبَتَي الجُمُعَةِ - كالقِيَام ِفِيْهِمَا، والجلوسِ بينهما، والطهارةِ والسترِ - فلا تُشْتَرَطُ هُنَا.

Artinya: “Khutbah sholat Ied dan sholat Kusuf sebagaimana khutbah sholat Jumat dalam segi rukunnya, sedangkan untuk syaratnya ada beberapa perbedaan yakni dalam khutbah Ied dan Kusuf tidak disyaratkan berdiri, duduk di antara dua khutbah, suci dari hadats dan najis, dan menutup aurat”. (Sayyid Bakri Syatha, I’anatut Thalibin, [Damaskus: Darul Faiha, 2020], juz 1, hal. 504.).

Ketentuan kesunahan khutbah setelah sholat Ied adalah jika dalam satu lokasi sholat terdapat minimal 2 orang, maka disunnahkan bagi salah satunya untuk berkhutbah. Jika hanya ada seorang diri maka tidak disunahkan untuk berkhutbah karena terkesan tidak efektif sebagaimana catatan Mbah Mahfudz Termas.

Mbah Mahfudz menambahkan, kesunahan itu tetap ada meskipun dalam satu area sholat Ied terdapat banyak jemaah akan tetapi mereka sholat sendiri-sendiri. Fokus dari khutbah adalah memberikan nasihat kepada orang lain. Mbah Mahfudz memberikan jawaban pada pertanyaan kasus ini sebagai berikut:

قال البِرْمَاوِي: وَلَا لجَمَاعَةِ النِّسَاءِ إلا أن يَخْطُبَ لهُنَّ ذَكَرٌ, فلَوْ قَامَتْ واحدةٌ منْهُنَّ ووَعَظَتْ هُنَّ فلَا بَأْسَ.

Artinya: “Al-Birmawi mengatakan: khutbah Ied tidak disunahkan untuk jamaah perempuan, kecuali ada seorang laki-laki yang berkhutbah di antara jemaah perempuan tersebut. Jika ada satu wanita yang berdiri dan berceramah memberi nasihat kepada para jamaah wanita itu, maka tidak apa-apa”. (Muhammad Mahfudz al-Turmusi, Muhibah Dzil Fadhl, [Beirut: Darul Minhaj, 2018], juz 4, hal. 484.).

Dalam catatan Mbah Mahfudz, masih ada celah bagi jamaah wanita untuk berkhutbah akan tetapi tidak dalam bentuk khutbah sebagaimana prosesi ritualnya dengan duduk di antara dua khutbah dan segala rukun-rukunnya.

Jamaah wanita cukup menunjuk satu orang untuk menyampaikan ceramah dan nasehat yang esensinya sama dengan isi yang disampaikan ketika khutbah dan lebih fleksibel karena tidak terlalu formal sebagaimana khutbah. Hal itu sah-sah saja meskipun dalam ranah substansi ibadah itu bukan merupakan khutbah sebagaimana yang disunahkan untuk khatib laki-laki.

Jadi jika menitik beratkan kepada esensi nasihat dan ceramah yang disampaikan dalam ritual sholat Ied, maka ini lebih sesuai. Agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat, status khatib dalam praktik jamaah wanita sholat ied Adha di UIN Maliki Malang lebih baik diganti menjadi istilah “penceramah”. Wallahu a’lam bish shawab 


Editor: Muhammad Faizin
logo