Arina.id - Kata “tewel” (buah nangka muda) menjadi topik baru dalam perseteruan antara Yai Mim (Muhammad Imam Muslimin) dengan Nurul Sahara buntut tuduhan penistaan agama yang dilakukan oleh Yai Mim dengan mengganti kata الرحيم dan اكثرهم dalam surat Yasin menjadi “tewel” dalam siaran langsung di akun YouTube pribadinya.
Sebelumnya diketahui bahwa “tewel” merupakan julukan Yai Mim kepada Sahara sebagai bentuk ungkapan body shaming kepada Sahara. Kata ini muncul dalam bacaan surat Yasin yang dia baca bersamaan dengan memvideokan Sahara dari jauh untuk menghinanya saat sedang siaran langsung. Diduga kuat dia mengubah bacaan surat Yasin itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sebab sempat diulang tiga kali.
Ia mendapat banyak kecaman atas blunder besarnya tersebut, dia dilaporkan oleh ALAM (Aliansi Literasi Akademi Muslim) kepada Polresta Kota Malang atas dugaan penodaan agama. Banyak warganet yang semula respek kepadanya berubah arah menjadi mengecam dan menghujatnya.
Ia sempat mengklarifikasi perbuatannya itu dengan mengklaim bahwa hal itu bukan merupakan bentuk penistaan agama. Tewel menurutnya adalah perumpamaan yang baik, tewel adalah buah yang istimewa, sejak masih kecil sudah bisa dimanfaatkan menjadi beberapa olahan masakan.
Namun, kesalahan fatalnya adalah ketika mengatakan bahwa pohon tewel ada dalam Al-Qur’an. Ia meyebutkan bahwa yang dimaksud dalam surat Ibrahim ayat 24 dan 25 menurut para mufassir adalah pohon tewel.
Ayat tersebut adalah sebagai berikut:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
Artinya: "Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah tayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit, dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran."
Perlu diketahui bahwa pernyataannya terkait makna Syajarah Thayyibah sebagai pohon tewel banyak bertentangan dengan penafsiran para ulama. Catatan dalam kitab-kitab tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Sedangkan sudah diketahui bahwa menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan serampangan adalah bentuk kekeliruan yang nyata.
Prof. Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir [Beirut: Darul Fikr, 1991, vol. 13, hlm. 242] menyebutkan pohon itu adalah pohon kurma. Syekh Nawawi al-Bantani yang notabene mufassir asli tanah Jawa juga menafsirkannya sebagai pohon kurma dalam tafsir Marah Labid fli Kasyfi Ma’na Qur’anil Majid [Beirut: Darul Fikr, tt, vol. 1, hlm. 435].
Dr. KH. Afifuddin Dimyati, mufassir Qur’an asli Indonedia yang kekinian juga menafsirkannya sebagai pohon kurma dalam tafsirnya Hidayatul Qur’an fi Tafsiril Qur’an bil Qur’an [Yogyakarta: Maktabah Iskandariyah, 2024, vol. 2, hlm. 297].
Yai Mim tidak menyertakan referensi mufassir siapa yang mengartikan Syajarah Thayyibah dengan pohon tewel. Penulis menduga itu hanya hasil pemikirannya sendiri agar tidak dituduh menistakan Al-Qur’an.
Sejatinya tindakan yang menafsirkan Al-Qur’an dengan serampangan adalah bentuk kesalahan fatal. Para ulama sudah mengingatkan untuk tidak menafsirkan Al-Qur’an dengan serampangan, sebab akan mengakibatkan hal yang sangat fatal.
Sebagaimana ancaman Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidi no. 3181 berikut:
عن ابنِ عبَّاسٍ، قال: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "من قال في القرْآنِ بِغيرِ عِلمٍ، فليتبوَّأ مَقعَدَه من النارِ"
Artinya: Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda “barang siapa yang mengomentari Al-Qur’an tanpa ilmu, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka.”
Klarifikasi tersebut terkesan sebagai bentuk alibi yang terlalu berkelit agar dia tidak terjerat tuduhan penistaan agama. Padahal tindakannya merubah teks Al-Qur’an sudah tidak diragukan lagi terkait keharamannya.
Dari sini dapat difahami bahwa Yai Mim melakukan rentetan kesalahan yang fata. Mulai dari mengganti redaksi ayat surat Yasin dengan tewel, mengklarifikasi bahwa tewel adalah perumpamaan yang baik agar tidak terjerat tuduhan pelecehan agama, menafsirkan ayat Syajarah Thayyibah dengan tewel yang merupakan bentuk peafsiran Al-Quran secara serampangan, dan tidak sadar akan kesalahan dirinya sendiri.
Editor: Muhammad Faizin
