Menyiapkan 3 Hal Penting Songsong Ramadhan

Menyiapkan 3 Hal Penting Songsong Ramadhan

Arina.id - Dalam waktu dekat, bulan suci Ramadhan akan kembali hadir menyertai kita di seluruh penjuru dunia. Sebagai seorang Muslim, sudah sepantasnya kita menyambut datangnya bulan mulia ini dengan perasaan bahagia dan penuh kegembiraan, sebagaimana teladan yang telah dicontohkan oleh para ulama generasi terdahulu.

Bahkan sejak dua bulan sebelum Ramadhan tiba, yaitu pada bulan Rajab dan Sya’ban, para salafus shalih telah memfokuskan diri untuk mempersiapkan kedatangannya. Mereka senantiasa memohon kepada Allah dengan doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: “Ya Allah, limpahkan keberkahan kepada kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Mengingat betapa pentingnya momentum menyambut Ramadhan, maka sudah seharusnya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin. Setidaknya terdapat tiga hal utama yang perlu disiapkan sebelum Ramadhan datang, yaitu kesiapan ilmu, kesiapan mental, dan kesiapan amal. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh KH Bukhari Sail Attahiri dalam Mimbar Jum’at Istiqlal Edisi 1107.

Pertama adalah ilmu.

Ilmu menempati posisi paling awal dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan. Sebab, tanpa pemahaman yang benar mengenai puasa, mulai dari syarat, rukun, hingga hal-hal yang dapat membatalkannya, dikhawatirkan ibadah puasa yang dijalankan tidak bernilai sempurna, bahkan bisa saja hanya menghasilkan rasa lapar dan haus semata.

Rasulullah SAW bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya selain lapar dan dahaga.” (HR. Imam Ahmad)

Berdasarkan hal tersebut, memahami hakikat puasa secara menyeluruh menjadi sesuatu yang sangat penting agar ibadah yang dilakukan benar-benar bernilai pahala dan diterima oleh Allah SWT. Kebutuhan terhadap ilmu ini tidak hanya terbatas pada puasa, tetapi juga mencakup berbagai ibadah Ramadhan lainnya seperti shalat tarawih, i‘tikaf, sahur, tadarus Al-Qur’an, dan amalan-amalan kebaikan lainnya.

Bagi umat Islam yang masih dalam tahap belajar, langkah terbaik adalah dengan memperbanyak mengaji serta bertanya kepada guru atau ulama yang terpercaya keilmuannya, sehingga memperoleh penjelasan yang benar dan mendalam mengenai pelaksanaan ibadah.

Kedua adalah mental.

Kesiapan mental dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan memiliki peranan yang sangat penting. Seseorang yang belum siap secara mental bisa saja merasa keberatan dengan hadirnya Ramadhan, bahkan menganggapnya sebagai beban karena harus menahan makan dan minum pada siang hari. Perasaan seperti ini berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan hati hingga sikap acuh terhadap ibadah Ramadhan.

Mental yang siap dapat dibentuk dengan mengingat kembali berbagai keutamaan yang terdapat di bulan Ramadhan. Keutamaan-keutamaan inilah yang akan menjadi pendorong semangat bagi seorang Muslim untuk menjalankan kewajiban puasa serta memperbanyak amalan-amalan lainnya selama Ramadhan.

Menjelang datangnya Ramadhan, Rasulullah SAW pernah memberikan motivasi kepada para sahabat. Salman Al-Farisi meriwayatkan bahwa pada akhir bulan Sya’ban, Rasulullah berkhutbah:

“Wahai manusia, sungguh telah mendekat kepada kalian bulan yang agung dan penuh keberkahan. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Itulah bulan Ramadhan, bulan yang Allah wajibkan puasa di siang harinya dan disunnahkan shalat malam (tarawih) di malam harinya.”

Selain itu, masih banyak keutamaan lain di bulan Ramadhan, di antaranya pahala ibadah yang dilipatgandakan, bahkan amalan sunnah dapat memperoleh pahala setara dengan amalan wajib yang dikerjakan di luar bulan Ramadhan.

Ketiga adalah amal.

Memperbanyak amal ibadah merupakan wujud kesungguhan dalam memuliakan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW mencontohkan hal tersebut dengan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan menyambut Ramadhan.

Dari Aisyah RA diriwayatkan, beliau bersabda:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ - صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَصُوْمُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يَصُوْمُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: “Rasulullah SAW berpuasa hingga kami mengira beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengira beliau tidak puasa. Tidaklah kami melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya sebulan penuh selain bulan Ramadhan, dan tidaklah kami melihat beliau puasa lebih banyak selain bulan Sya'ban.” (HR Bukhari)

Selain memperbanyak puasa, para ulama salaf juga menyambut Ramadhan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika memasuki bulan Sya’ban, kaum Muslimin sibuk membaca Al-Qur’an serta menunaikan zakat harta untuk membantu fakir miskin agar mereka mampu menjalankan puasa. Bahkan terdapat ungkapan dari kalangan salafus shalih yang menyebutkan bahwa Sya’ban merupakan bulan para pecinta Al-Qur’an.

Abu Bakr Al-Warraq Al-Balkhi memberikan perumpamaan bahwa bulan Rajab ibarat masa menanam, Sya’ban masa menyirami, dan Ramadhan masa memanen hasilnya. Artinya, untuk dapat meraih keberkahan dan buah amal di bulan Ramadhan, seseorang perlu menyiapkan amal sejak jauh hari, kemudian menjaganya hingga menghasilkan kebaikan yang melimpah.

Berbagai amalan yang dilakukan pada bulan Rajab dan Sya’ban seperti puasa sunnah, qiyamul lail, sedekah, dan ibadah lainnya merupakan bentuk menanam amal saleh. Harapannya, ketika Ramadhan tiba, kita mampu merasakan manisnya ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. Kenikmatan Ramadhan tidak datang begitu saja, melainkan memerlukan kesungguhan, kesabaran, serta perjuangan. Wallahu a’lam.


Editor: Muhammad Faizin
logo