Arina.id - Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah dan dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Kehadirannya tidak hanya membawa nuansa spiritual yang mendalam, tetapi juga menghadirkan berbagai tradisi khas yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat.
Salah satu tradisi yang masih lestari, khususnya di daerah Jawa, adalah Megengan. Tradisi ini menjadi ekspresi kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan, sekaligus sebagai momen mempererat tali silaturahmi, memperkuat nilai kebersamaan, dan mengingatkan pentingnya saling memaafkan sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Dalam pelaksanaannya, Megengan tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga mengandung makna mendalam terkait refleksi diri dan persiapan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. Tradisi ini biasanya ditandai dengan doa bersama, saling berbagi makanan, dan terkadang diiringi pengajian.
Mengutip dari Poerwadarminta, W.J.S (1939) Bausastra Jawa /Kamus bahasa Jawa, Megengan adalah wiwitaning sasi pasa. (Permulaan bulan puasa). Megengan dalam tradisi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah pada umumnya diartikan sebagai penanda waktu akan datangnya bulan puasa. Megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan/ngempet.
Ngempet atau menahan diri dalam hal ini berarti berusaha untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa.
Umumnya, tradisi Megengan di Jawa diisi dengan ziarah kubur, silaturahim membaca tahlil tahmid dan sedekah. Meskipun secara tekstual Megengan tidak tercantumkan dalam hadits, namun bergembira dengan cara tersebut adalah perbuatan yang sangat baik.
Dalam salah satu riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i disebutkan:
وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَفْظُهُ لَهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ بِقَوْلِ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كُتِبَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حَرُمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حَرُمَ الخَيْرَ الكَثِيْرَ
Artinya: "Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadan sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rasulullah memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadan dengan sabdanya: Bulan Ramadan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak." (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman: 222).
Redaksi hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah sangat bergembira atas datangnya bulan Ramadan, dan beliau sampaikan kepada para sahabat perihal kedatangan bulan mulia itu.
Bagi sebagian ulama, hadis ini menjadi dasar hukum bagi masyarakat yang mengekspresikan kegembiraan atas datangnya bulan suci Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Hadits ini juga membuktikan bahwa satu sama lain boleh bergembira atas kedatangan bulan Ramadan dan mereka dapat memberikan kabar gembira kepada yang lain. Imam Zarqani berkata:
قال بعض العلماء هذا الحديث أصل في تهنئة الناس بعضهم بعضا بشهر رمضان
Artinya: "Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menjadi dasar atas praktik penyambutan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atas kedatangan bulan Ramadan." (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 223).
Walhasil, tradisi Megengan adalah ekspresi kegembiraan masyarakat Jawa akan datangnya bulan Ramadan. Apalagi di dalam Megengan memuat hal-hal yang baik, seperti zikir, tahlil, silaturahim, makan bersama keluarga, ziarah kubur, hingga sedekah yang kesemua itu secara umum memang memiliki nilai positif. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
