Mengapa Jumat Disebut Hari Mubarak? Ini 4 Dasarnya

Mengapa Jumat Disebut Hari Mubarak? Ini 4 Dasarnya

Bagi umat Islam, Jumat bukan sekadar hari biasa. Di hari ini, terdapat banyak keistimewaan dan kemuliaan yang Allah berikan. Oleh karena itu, tak jarang kita mendengar ucapan “Jumat Mubarak”, yang berarti “Jumat yang diberkahi”. Ucapan ini merupakan pengingat bagi kita untuk memuliakan hari Jumat dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Lebih lanjut, keistimewaan Jumat ditegaskan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة، فيه خلق آدم، وفيه أدخل الجنة، وفيه أخرج منها

Artinya: “Sebaik-baiknya hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan darinya. Dan pada hari itu pula terdapat peristiwa-peristiwa besar lainnya.” [H.R. Muslim]

Sementara itu, penyebutan Hari Jumat sebagai hari yang diberkahi bukan tanpa dalil dan alasan, karena hari ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan dibandingkan hari-hari lainnya. Nah berikut 4 penjelasannya.

Pertama, Hari penciptaan Adam dan wafatnya

Hari Jumat merupakan hari yang bersejarah bagi umat Islam. Di hari inilah Nabi Adam, selaku Nabi dan manusia, pertama diciptakan Allah sekaligus pada hari ini diwafatkannya oleh Allah. Kejadian penting ini menjadi salah satu alasan mengapa hari Jumat begitu istimewa.

Simak penjelasan berikut;

حدثنا هارون بن عبد الله حدثنا حسين بن علي عن عبد الرحمن بن يزيد بن جابر عن أبي الأشعث الصنعاني عن أوس بن أوس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة علي قال قالوا يا رسول الله وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت يقولون بليت فقال إن الله عز وجل حرم على الأرض أجساد الأنبياء

Artinya: "Diriwayatkan oleh Harun bin Abdullah dari Husain bin Ali dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dari Abu Asy’ats ash-Sha’ani dari Aus bin Aus. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hari terbaik kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diambil kembali, pada hari itu pula terompet ditiup, dan pada hari itu pula gempa bumi terjadi. Maka, perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu. Sebab, shalawat kalian diperlihatkan kepadaku.”

Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu, sedangkan engkau telah wafat dan mereka berkata, ‘Engkau telah binasa’?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas bumi jasad para nabi.”

Mengomentari hadits di atas, Muhammad Syamsuddin Ubadi, mengatakan bahwa Hari Jumat memiliki keistimewaan besar bagi umat Islam. Dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, Jilid III, halaman 274 keistimewaan ini didasari peristiwa penting, yakni Penciptaan Nabi Adam.  Pada hari Jumat, Allah swt menciptakan Nabi Adam dan meniupkan ruh kepadanya. Hal ini menjadikannya sebagai hari yang penuh berkah dan momen penting dalam sejarah manusia.

Hari Jumat juga disetarakan dengan Hari Arafah, yaitu hari puncak ibadah haji. Keistimewaan ini menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan di hari Jumat memiliki pahala yang besar, setara dengan amalan di hari istimewa tersebut.

( إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة ) قال علي القاري : وفيه إشارة إلى أن يوم عرفة أفضل أو مساو ( فيه خلق آدم ) أي طينته ( فيه النفخة ) أي النفخة الثانية التي توصل الأبرار إلى النعم الباقية .

Artinya: "[Salah satu hari terbaik kalian adalah hari Jumat]. Kata Ali Al-Qari,  ini menunjukkan bahwa Hari Arafah lebih baik atau sama dengan Hari Jumat. (di hari itu Adam diciptakan), yaitu tanah liatnya (di hari itu ditiupkan ruh), yaitu tiupan kedua yang mengantarkan orang-orang shaleh ke nikmat yang kekal.”

Kedua, Jumat Hari Paling Mulia [Sayyidul Ayyam]

Bagi umat Islam, Jumat bukan sekadar hari di antara hari-hari lainnya. Jumat memiliki kedudukan istimewa, dijuluki sebagai Sayyidul Ayyam, yang berarti pemimpin segala hari. Keistimewaan ini ditegaskan dalam berbagai hadits Nabi, di antaranya sebagai diriwayatkan Ibnu Majah berikut;

 عن أبي لبابة بن عبد المنذر رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : “ إن يوم الجمعة سيد الأيام وأعظمها عند الله ، وهو أعظم عند الله من يوم الأضحى ويوم الفطر ، فيه خمس خلال : خلق الله فيه آدم ، وأهبط الله فيه آدم إلى الأرض ، وفيه توفى الله آدم ، وفيه ساعة لا يسأل العبد فيها شيئا إلا أعطاه ، ما لم يسأل حراما ، وفيه تقوم الساعة ، ما من ملك مقرب ولا سماء ولا أرض ولا رياح ولا جبال ولا بحر إلا هو مشفق من يوم الجمعة “ . رواه ابن ماجه .

Artinya: “Dari Abu Lubabah bin ‘Abdil Mannaf radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Sesungguhnya hari Jumat adalah sayyidul ayyaam (pemimpin segala hari) dan hari yang paling agung di sisi Allah. Hari Jumat itu lebih agung daripada Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Ada lima keistimewaan pada hari Jumat: Allah menciptakan Adam pada hari Jumat. Allah menurunkan Adam ke bumi pada hari Jumat. Allah wafatkan Adam pada hari Jumat. Pada hari Jumat ada satu saat di mana seorang hamba tidak meminta sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan memberikannya, kecuali jika dia meminta sesuatu yang haram. Kiamat akan terjadi pada hari Jumat. Tidak ada malaikat yang dekat, langit, bumi, angin, gunung, dan laut, melainkan semuanya merasa takut pada hari Jumat.’“ (HR. Ibnu Majah)

Syekh Nuruddin Muhammad al-Qari’ dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, Jilid III, halaman 1018 menjelaskan alasan hari Jumat disebut sebagai hari mulia, karena hari ini adalah sayyidul ayyam, yaitu pemimpin atau yang paling utama di antara semua hari. 

Lebih lanjut, keistimewaan ini bukan hanya karena merupakan hari di mana Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan dari surga. Namun, juga karena pada hari Jumat banyak peristiwa penting lainnya yang terjadi, seperti diampuninya dosa-dosa umat Islam, dibukanya pintu-pintu surga, dan dikabulkannya doa-doa.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh pada hari Jumat, seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menghadiri shalat Jumat. Dengan memperbanyak amalan saleh di hari Jumat, diharapkan Allah akan memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita.

إن يوم الجمعة سيد الأيام ، أي : أفضلها ، أو أريد بالسيد المتبوع 

Artinya: "Sesungguhnya hari Jumat adalah sayyidul ayyaam, maksudnya adalah hari yang paling utama, atau bisa juga diartikan sebagai hari yang diikuti (oleh hari-hari lainnya)."  [Syekh Nuruddin Muhammad al-Qari’, Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, Jilid III, [Beirut: Darul Fikr, 2002], halaman 1018].

Ketiga, Hari Doa Diijabah Allah 

Salah satu keutamaan yang paling utama adalah hari Jumat merupakan hari dikabulkannya doa bagi seorang Muslim yang memohon kepada Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Aunul Ma’bud, Jilid III, halaman 276, karya Muhammad Syamsuddin Ubadi. Ia mengatakan bahwa terdapat waktu-waktu mustajab pada hari Jumat, yaitu di antara waktu Ashar hingga terbenamnya matahari, ketika duduknya imam di atas mimbar untuk menyampaikan khutbah, dan saat doa dibacakan setelah Sholat Jumat.

Pada waktu-waktu mustajab ini, seorang Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa dan memohon kepada Allah swt segala hajatnya, baik hajat duniawi maupun hajat ukhrawi. Dipercaya bahwa doa yang dipanjatkan di waktu-waktu tersebut akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah swt.

حدثنا أحمد بن صالح حدثنا ابن وهب أخبرني عمرو يعني ابن الحارث أن الجلاح مولى عبد العزيز حدثه أن أبا سلمة يعني ابن عبد الرحمن حدثه عن جابر بن عبد الله عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Ibn Wahhab, telah menceritakan kepada kami Amru - yang dimaksud adalah Ibn Al-Harits - bahwa Al-Jalah, budak Abd Al-Aziz, telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Salamah - yang dimaksud adalah Ibn Abdurrahman - telah menceritakan kepadanya dari Jabir bin Abdillah, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beliau bersabda pada hari Jumat: “Ada dua belas jam, di mana tidak ada seorangpun Muslim yang berdoa kepada Allah Azza wa Jalla kecuali Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan doanya. Carilah waktu tersebut pada akhir jam setelah Ashar.” 

Sementara itu, Qadhi Iyad mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat terkait kapan persis “waktu” mustajab berdoa di hari Jumat tersebut.  Ada ulama yang mengatakan “qā’im yuşallī”, yaitu pada waktu sholat Jumat. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa waktunya adalah dari setelah Ashar hingga terbenamnya matahari. 

Selanjutnya, ada ulama lainnya mengatakan bahwa waktunya adalah dari keluarnya imam hingga selesai sholat. Ada pula yang mengatakan dari iqamat sholat hingga selesai. Menurut mereka, “sholat” dalam ayat ini bermakna sholat Jumat. Pendapat lain mengatakan bahwa waktunya adalah dari imam duduk di mimbar hingga selesai sholat. Ada pula yang mengatakan bahwa waktunya adalah satu jam terakhir di hari Jumat.

Akan tetapi, menurut Imam al-Qadi, pendapat yang paling tepat waktu mustajab berdoa, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Musa al-Ash’ari dari Nabi saw, bahwa waktunya adalah dari imam duduk hingga selesai shalat. Hal ini juga ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim.

والصحيح بل الصواب ما رواه مسلم من حديث أبي موسى عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنها ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة ذكره النووي .

Artinya: “Menurut Imam al-Qadi, pendapat yang paling tepat adalah yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Musa al-Ash’ari dari Nabi saw bahwa waktunya adalah dari imam duduk hingga selesai sholat. Hal ini juga ditegaskan oleh Imam an-Nawawi”. [Muhammad Syamsuddin Ubadi, Aunul Ma’bud, Jilid III, halaman 276]

Keempat, Malam Jumat, Malam yang Diberkahi 

Hari Jumat tidak hanya istimewa di siang harinya, tetapi juga di malam harinya. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Furu’, Jilid III, halaman 145, karya Ibnu Muflih, di mana Ibnu Aqil menyebutkan bahwa malam Jumat termasuk malam mulia dan lebih baik dari Lailatul Qadar.

Alasan Ibnu Aqil memilih malam Jumat sebagai malam terbaik adalah karena malam Jumat lebih sering terjadi dan merupakan malam sebelum hari Jumat, yang merupakan hari terbaik dalam seminggu. Pendapat Ibnu Aqil ini disetujui oleh beberapa ulama lain, seperti Ibn Battah, Abu Hasan Al-Kharaji, dan Abu Hafs Al-Barmaki.

 وذكر ابن عقيل روايتين : إحداهما هذا ، والثانية ليلة الجمعة أفضل ، وعلله بأنها تتكرر ، وبأنها تابعة لما هو أفضل الأيام وهو يوم الجمعة 

Artinya: "(Bab) Lailat al-Qadr adalah malam terbaik, lebih baik dari malam Jumat. Malam Lailat al-Qadr lebih baik dari malam Jumat, berdasarkan ayat Al-Qur’an dan kesepakatan para ulama seperti al-Khattabi. Namun, Ibn ‘Aqil menyebutkan dua riwayat: Riwayat pertama, seperti yang disebutkan di atas, menyatakan bahwa Lailat al-Qadr lebih baik. Riwayat kedua menyatakan bahwa malam Jumat lebih baik. Alasannya karena malam Jumat berulang setiap minggu dan merupakan bagian dari hari terbaik, yaitu hari Jumat." [Ibnu Muflih, al-Furu', Jilid III, [Alimul Kutub, 1985] halaman 145 ].

Dengan demikian, berbagai keistimewaan tersebut, Jumat Mubarak menjadi hari yang istimewa bagi umat Islam. Di hari ini, dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah, seperti membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan berdoa. Semoga penjelasan singkat ini dapat membantu memahami mengapa hari Jumat disebut Mubarak.


Editor: Muhammad Faizin
logo