Arina.id - KH Maimoen Zubair, atau yang lebih akrab disapa dengan Mbah Moen, merupakan salah satu ulama karismatik Nusantara yang menjadi panutan umat. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar di Sarang, Rembang, yang terkenal dengan keilmuannya yang mendalam.
Mbah Moen dikenal sebagai sosok kiai yang alim dan zuhud. Tidak hanya mencetak santri yang saleh, beliau juga melahirkan kader-kader ulama berkualitas yang kini menjadi rujukan umat, salah satunya adalah KH Bahauddin Nur Salim, yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Baha.
Dalam sebuah pengajian, Mbah Moen pernah menjelaskan keutamaan puasa Rajab serta bagaimana tanggal dan cara terbaik melaksanakan puasa Rajab agar mendapatkan keberkahan yang maksimal.
Mengutip dari video youtube @ppalanwarsarang, beliau menjelaskan bahwa tanggal terbaik berpuasa di bulan Rajab adalah dengan berpuasa 10 hari yakni pada tanggal 1 sampai 10 Rajab, jika tidak mampu maka minimal berpuasa satu hari di antara tanggal 1 sampai 10 Rajab.
Alasan mengapa tanggal 1 sampai 10 menjadi waktu terbaik berpuasa sunnah Rajab menurut beliau adalah pada hari itulah detik-detik nur (cahaya) Nabi Muhammad SAW dilahirkan, dalam artian nur yang ada di punggung Sayyidina Abdullah Bin Abdul Muthalib pindah ke rahim Siti Aminah.
“Nure kanjeng Nabi Muhammad SAW, niki dilahirno oleh Abdullah, pindah nur iku bersamaan sperma ke Siti Aminah bulan Rojab, tanggal 10 Rojab, mulane poso Rojab iki sing apik tanggal siji sampe’ sedoso, niki detik-detik lahire nur Muhammad Saw,”
Artinya: ”Cahaya Nabi Muhammad SAW ini diturunkan melalui Abdullah, kemudian cahaya tersebut berpindah bersama sperma ke rahim Siti Aminah pada bulan Rajab, tepatnya tanggal 10 Rajab. Oleh karena itu, puasa di bulan Rajab yang paling baik dilakukan adalah dari tanggal 1 hingga 10, karena waktu tersebut merupakan momen penting saat cahaya Nabi Muhammad SAW mulai diturunkan.”
KH Maimoen Zubair menganjurkan untuk memuliakan bulan Rajab dengan menjalankan puasa sunnah. Hal ini disebabkan oleh besarnya keutamaan puasa sunnah di bulan tersebut. Beliau juga mengutip sebuah hadits sebagai penguat anjuran tersebut.
“Saiki Rejeb sampeyan mulyaake, sing urung poso yo kudhu poso sesok, wong kapan poso wulan Rejeb sedino wae iku dijanji mlebu suargo, iku mulyane wulan Rejeb
مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَب سَقَاهُ اللَّهُ شَرَابًا أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ وَأَبْيَضَ مِنَ اللَّبَنِ وَأَطْيَبَ مِنَ الْمِسْكِ
Wong gelem poso sedino wulan Rejeb, mbesok diombeni putih-putih sing luwih manis timbang madu luwih putih timbang susu, luwih wangi timabang misik, lha iki jenenge omben-omben suwargo”
Artinya: “Sekarang bulan Rajab, maka muliakanlah. Bagi yang belum puasa, mulai besok sebaiknya berpuasa. Sebab, siapa saja yang berpuasa sehari saja di bulan Rajab dijanjikan masuk surga. Orang yang berpuasa sehari di bulan Rajab kelak akan diberi minuman yang lebih manis dari madu, lebih putih dari susu, dan lebih harum dari kesturi. Inilah yang disebut minuman surga.”
Namun menurut KH Maimoen Zubair, puasa sunnah di bulan Rajab saja tidak cukup untuk dapat masuk surga. Puasa tersebut harus diiringi dengan amal ibadah lainnya. Mbah Moen menjelaskan bahwa amalan itu perlu dilengkapi dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Beliau juga mengutip ayat Al-Qur'an, Surat Al-Muthaffifin ayat 27 dan 28:
“Lha sakniki iso mlebu suargo ora cukup kowe ngejibno iki tok, kudhu muk campur
وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ .عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ
Dicampur “tasnim” sithik o, dadi kowe senajan nakalo sepiro kowe iso intisab, kowe iso parek ning wali waline Allah sing disebut Al Muqarrabin…molane kowe nakalo sepiro zikiro menyang gusthi Allah”
Artinya: ”Nah kemudian untuk bisa masuk surga, kamu tidak cukup hanya mengandalkan ini saja (puasa sunnah Rajab), harus ada tambahan. Tambahkan sedikit 'Tasnim' (minuman surga), sehingga meskipun kamu adalah seorang yang nakal (pemaksiat/pendosa) kamu tetap bisa terhubung (intisab) dan mendekat kepada wali-wali Allah yang disebut 'Al-Muqarrabin' (orang-orang yang dekat dengan Allah). Oleh karena itu, meskipun kamu adalah seorang yang nakal (pemaksiat/pendosa), tetaplah perbanyak zikir kepada Allah.” Wallahu a'lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
