Berebut jadi Menteri? Ini Pesan Penting Rasulullah!

Berebut jadi Menteri? Ini Pesan Penting Rasulullah!

Dalam literatur hadits, akan dijumpai sebuah redaksi yang konteksnya berkaitan dengan tanggung jawab seorang pemimpin. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: "Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari, Muslim).

Jika diimplementasikan dalam konteks pemerintahan, maka hadits ini sangat berkaitan dengan tanggung jawab seorang pemimpin. Setiap orang yang mendapatkan amanah menjadi pemimpin harus siap bertanggung jawab.

Misalnya, dalam skala luas, seorang presiden harus bertanggung jawab dalam memimpin rakyatnya, seorang menteri harus bertanggung jawab pada presiden, seorang anggota dewan legislatif harus bertanggung jawab mewakili aspirasi rakyatnya, dan seterusnya. Sedangkan dalam skala kecil, seorang ayah menjadi pemimpin bagi keluarganya. Semua pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Oleh karena itu, dalam konteks suksesi kepemimpinan, Rasulullah mengingatkan kepada siapa saja agar tidak berambisi meminta jabatan atau mengharap diangkat sebagai pimpinan. Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Artinya: "Dari Abdurrahman bin Samurah, beliau mengatakan, Nabi Muhammad berkata kepadaku: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan, sebab jika engkau diberi jabatan dengan tanpa meminta, maka engkau akan ditolong, dan jika engkau diberi jabatan karena meminta, maka engkau akan ditelantarkan, dan jika engkau bersumpah, lantas engkau melihat ada sesuatu yang lebih baik, maka bayarlah kafarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik." (HR. Bukhari No. Indeks 6613).

Ibnu Hajar Asqalani dalam kitab Fathul Bari juz 13/132 bab Man lam Yas'al al Imarah (Bab Orang yang Tidak Berambisi Meminta Dijadikan Pemimpin) menjelaskan makna hadits tersebut sebagai berikut:

ومعنى الحديث أن من طلب الإمارة فأعطيها تركت إعانته عليها من أجل حرصه ، ويستفاد منه أن طلب ما يتعلق بالحكم مكروه فيدخل في الإمارة القضاء والحسبة ونحو ذلك وأن من حرص على ذلك لا يعان

Artinya: "Makna hadits tersebut adalah siapa pun yang meminta agar dijadikan pemimpin lalu dikabulkan, maka Allah tidak akan memberikannya pertolongan, sebab dia berambisi. Selain itu, akan mudah dipergunakan untuk mengintervensi hukum yang tidak disukai, maka dari itu keputusan dan pertimbangan hukum masuk wilayah kepemimpinan. Orang yang berambisi demikian tidak akan mendapat pertolongan dari Allah."
 
Dari sini dapat dipahami bahwa hakikat menjadi seorang pemimpin itu adalah orang yang siap bertanggung jawab dunia akherat bagi rakyatnya, keluarganya dan ini bukanlah perkara yang mudah. 

ومن المعلوم أن كل ولاية لا تخلو من المشقة

Artinya: "Dapat dimaklumi bahwa setiap pemerintahan (pemimpin) tidak lepas dari kesulitan."

Karena itulah, Rasulullah memberi pesan agar siapa pun jangan meminta jabatan menjadi pemimpin, sebab meminta jabatan identik dengan orang yang berambisi, dan dia tidak akan mendapat pertolongan Allah.

فمن لم يكن له من الله إعانة تورط فيما دخل فيه وخسر دنياه وعقباه

Artinya: "Jadi siapa saja yang tidak mendapatkan pertolongan Allah, maka akan mudah melanggar batas dan menyesal di dunia dan akhirat."

Berbeda kasusnya dengan orang yang diangkat menjadi pemimpin tanpa meminta. Orang seperti ini akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan dapat berbuat adil bagi masyarakat. 

فمن كان ذا عقل لم يتعرض للطلب أصلا ، بل إذا كان كافيا وأعطيها من غير مسألة فقد وعده الصادق بالإعانة ، ولا يخفى ما في ذلك من الفضل 

Artinya: "Siapa yang memiliki akal sehat maka tidak akan meminta jabatan sama sekali. Namun jika dia mumpuni (kompeten) dan diberi jabatan sebagai pemimpin dengan tanpa meminta, maka ia akan mendapat pertolongan Allah, dan ini adalah anugerah." Wallahu a'lam bis shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo