Arina.id - Sholat merupakan salah satu ibadah pokok dalam Islam yang diwajibkan atas setiap Muslim. Secara bahasa, sholat berarti doa. Namun dalam praktik agama, sholat merujuk pada ritual ibadah yang dikerjakan lima kali sehari sebagai rukun Islam kedua.
Rangkaian sholat dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Hal ini diungkapkan oleh Syekh Abu Bakar Syata dalam Ianah Thalibin (1/29):
هي شرعا: أقوال وأفعال مخصوصة، مفتتحة بالتكبير مختتمة بالتسليم وسميت بذلك لاشتمالها على الصلاة لغة، وهي الدعاء
Artinya: "Secara syar'i, sholat adalah ucapan dan gerakan khusus yang dimulai dengan takbiratul ihram dan dipungkasi dengan salam. Pendefinisiannya seperti itu dikarenakan mencakup makna sholat secara bahasa, yaitu doa."
Takbiratul ihram menjadi penanda masuknya seseorang ke dalam sholat. Sejak saat itu, ia dilarang melakukan hal-hal yang dapat membatalkan ibadah. Inilah alasan mengapa disebut dengan istilah “takbiratul ihram”, yakni takbir yang mengharamkan aktivitas di luar gerakan dan bacaan sholat.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
لقوله صلى الله عليه وسلم: مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم. رواه أبو داود، والترمذي
Artinya: "Kunci sholat adalah bersuci, dan yang mengharamkan (segala sesuatu di luar sholat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan lainnya).
Oleh karena itu dalam fiqih mazahib Arba'ah ditegaskan:
فأما حكم تكبيرة الإحرام فهي فرض من فرائض الصلاة باتفاق ثلاثة من الأئمة
Artinya: "Menurut kesepakatan tiga imam mazhab (selain Hanafi) hukum takbiratul ihram itu fardu dari beberapa fardu sholat." (Juz 1/199)
Karena takbiratul ihram termasuk bagian dari fardu sholat, maka pelaksanaan takbiratul ihram tidak boleh dilakukan sembarangan. Kesalahan dalam pengucapannya dapat menyebabkan sholat tidak sah.
Cara Takbiratul Ihram yang Benar
Menurut Musthafa Al-Khin dalam Al-Fiqhul Manhajî, takbiratul ihram harus diucapkan dengan lafaz Allâhu Akbar dan memenuhi beberapa syarat, antara lain:
- Dilakukan dalam posisi berdiri, menghadap kiblat,
- Menggunakan bahasa Arab (kecuali bagi yang belum mampu dan dalam kondisi darurat),
- Didengar minimal oleh dirinya sendiri, serta dibarengi dengan niat dalam hati.
Sementara itu, Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam Safînatun Naja merinci ada 16 syarat takbiratul ihram yaitu:
فَصْلٌ: شُرُوْطُ تَكْبِيْرَةِ الْاِحْرَامِ سِتَّةَ عَشَرَ: أَنْ تَقَعَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِى الْفَرْضِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ تَكُونَ بِلَفْظِ الْجَلَالَةِ وَبِلَفْظِ اَكْبَرُ وَالتَّرْتِيْبُ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ وَأَنْ لَا يَمُدَّ هَمْزَةَ الْجَلَالَةِ وَعَدَمُ مَدِّ بَاءِ اَكْبَرُ وَأنْ لَا يُشَدِّدَ الْبَاءَ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا سَاكِنَةً أَوْمُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ, وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا قَبْلَ الْجَلَالَةِ وَأَنْ لَا يَقِفَ بَيْنَ كَلِمَتَيِ التَّكْبِيْرِ وَقْفَةً طَوِيْلَةً و لَاقَصِيْرَةً وَأَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ جَمِيْعَ حُرُوْفِهَا وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ فِى الْمُؤَقَّتِ وَاِيْقَاعُهَا حَالَ الْاِسْتِقْبَالِ وَأَنْ لَايُخِلَّ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِهَا وَ تَأْخِيْرُ تَكْبِيْرَةِ الْمَأْمُوْمِ عَنْ تَكْبِيْرَةِ الْاِمَامِ
Berdasarkan penjelasan ini berikut syarat takbiratul ihram:
- Harus dilakukan dengan berdiri pada sholat fardhu,
- Menggunakan bahasa Arab
- Menggunakan lafaz Allah
- Menggunakan lafaz Akbar.
- Tertib dua lafadz
- Tidak memanjangkan hamzahnya kata Allah, sehingga terbaca Âllahu
- Tidak memanjangkan huruf ba-nya kata akbar, sehingga terbaca akbaar
- Tidak mentasydid huruf ba-nya kata akbar, sehingga terbaca akbbar
- Tidak menambahkan wawu sakinah dan harakat di antara dua lafdz, misalnya Allahu wakbar.
- Tidak ada jeda panjang antara dua lafaz
- Tidak pula jeda sebentar
- Terdengar oleh diri sendiri
- Masuk waktunya sholat
- Dilakukan di dalam waktu sholat
- Tidak merusak pengucapan huruf takbiratul ihram
- Takbiratul ihram-nya makmum harus lebih akhir dari takbiratul ihram-nya imam
Dengan demikian syarat takbirarul ihram perlu diperhatikan dan ditata kembali pelafalannya agar tidak merusak makna takbiratul ihram dalam sholat. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin
