Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman dan petunjuk bagi umat Islam dan merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang selalu relevan hingga akhir zaman. Al-Qur’an juga mengandung hikmah, pelajaran, ancaman, janji, penyembuh hati, rahmat serta beberapa informasi penting lainnya.
Hal ini ditegaskan dalam surat Al-Isra’ ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian". [Al Isra: 82]
Umat Islam tentu wajib bersyukur atas karunia yang luar biasa ini dan seharusnya memuliakan Al-Qur’an. Namun, pada kenyataannya masih banyak kalangan yang tidak menghormati Al-Qur’an dikarenakan tidak mengerti adab atau tata krama dalam membaca Al-Qur’an.
Imam An-Nawawi dalam Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menyebutkan:
اعلم أن قراءة القرآن محبوبة على الإطلاق إلا في أحوال مخصوصة جاء الشرع بالنهي عن القراءة فيها وأنا أذكر الآن ما حضرني منها مختصرة بحذف الأدلة فإنها مشهورة
Artinya: "Ketahuilah, aktivitas membaca Al-Qur’an dianjurkan secara mutlak (kapan dan di mana saja) kecuali pada beberapa kondisi tertentu yang diterangkan larangannya oleh agama. Saya (Imam Nawawi) akan menyebutkannya sekarang apa yang saya ingat secara ringkas tanpa menyebutkan dalil karena ini sudah masyhur" (Lihat Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, [Indonesia, Al-Haramain: tanpa tahun], halaman 93).
Imam Nawawi dalam kitab Attibyan menguraikan secara detail dalam setiap bab terkait akan membaca Al-Qur’an. Di antara etika itu adalah: bersiwak, keadaan suci, tempat yang bersih suci, menghadap kiblat, membaca ta’awwudz, khusyuk dan tadabbur, menangis, membaca tartil, memuliakan Al-Qur’an sepenuh hati.
Sedangkan Syekh Atiyyah dalam kitab Ghayatul Murid fi ilmi Tajwid halaman 14 menegaskan:
ينبغي على قارئ القرآن أن يتأدب بالآداب التالية: ١- أن يستقبل القبلة ما أمكنه ذلك، ٢- أن يَسْتَاكَ تطهيرًا وتعظيمًا للقرآن ، ٣- أن يكون طاهرًا من الحدثين. ٤- أن يكون نظيف الثوب والبدن. ٥- أن يقرأ في خشوع وتفكر وتدبر. ٦- أن يكون قلبُه حاضرًا؛ فيتأثر بما يقرأ تاركًا حديث النفس وأهواءها. ٧- يستحب له أن يبكي مع القراءة فإن لم يبكِ يتباكى. ٨- أن يزين قراءته ويُحَسِّنَ صوتَه بها، وإن لم يكن حسن الصوت حسنه ما استطاع بحيث لا يخرج به إلى حد التمطيط. ٩- أن يتأدب عند تلاوة القرآن الكريم، فلا يضحك، ولا يعبث ولا ينظر إلى ما يلهي بل يتدبر ويتذكر
Artinya: "Bagi pembaca Al-Qur’an sebaiknya memiliki etika sebagai berikut: 1. Diupayakan menghadap kiblat, 2. Tempatnya suci dan memuliakan Al-Qur’an, 3. Suci dari hadats kecil dan hadats besar, 4. Membaca Al-Qur’an dengan berbusana yang rapi, dianjurkan memakai wewangian, 5. Membaca dengan khusyuk dan memahami maknanya, 6. Membaca dengan menghadirkan Al-Qur’an dalam hati sehingga memberikan dampak positif , 7. Dianjurkan membaca Al-Qur’an dengan menangis, atau meneteskan air mata , 8. Membaguskan bacaan dan suara ketika membaca Al-Qur’an, 9. Beretika saat membaca Al-Qur’an dengan tidak tertawa, tidak bermain-main, tidak mengalihkan perhatian pada sesuatu yang sia-sia, akan tetapi memahami makna dan berfikir."
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan, bahwa membaca Al-Qur’an itu bernilai ibadah dan harus memperhatikan adab atau tata krama serta situasi kondisi dan tempat ketika membaca Al-Qur’an. Sebab ada beberapa ketentuan yang tidak boleh dilanggar begitu saja. Misalnya membaca Al-Qur’an di dalam kakus, buang hajat, atau ketika sedang datang bulan.
Editor: Muhammad Faizin
